Biaya Promosi dan Tenaga Kerja, Kendala Pengusaha Mebel UMKM


MENINJAU - Anggota DPD RI Bambang Sadono, melakukan kunjungan kerja reses di sejumlah pabrik mebel UMKM di Kabupaten Jepara, Sabtu (4/8). Foto dok

JEPARA, WAWASAN.CO – Biaya promosi yang mahal dan kebutuhan tenaga kerja terampil, menjadi dua permasalahan yang saat ini dihadapi para pengusaha mebel kategori Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Jepara.

“Saat ini, tawaran pameran khususnya untuk skala internasional, sudah jarang diberikan oleh pemerintah. Padahal exibition ini penting, terutama bagi pengusaha mebel kategori UMKM, untuk memperkenalkan produk mereka kepada buyer,” papar pemilik Jepara Asia Mas Furniture- Craft (JAMF) Eri Agus Susanto, Sabtu (3/8).

Hal tersebut disampaikannya disela kunjungan reses anggota DPD RI Bambang Sadono, di bengkel kerja perusahaan tersebut. Lebih jauh, Eri menuturkan, meski saat ini seluruh usaha mebel di Jepara, sudah memanfaatkan pemasaran online berbasis website, namun hasil yang didapat sangat berbeda.

“Ketika kita ketemu buyer, dalam sebuah pameran, kita dapat menilai secara langsung karakteristik pembeli tersebut. Sementara, konsumen juga bisa menilai kualitas produk yang kita tawarkan. Kalau melalui website, mereka hanya bisa menebak-nebak,” tandasnya.

Dirinya mencontohkan, usaha yang dirintis pada 2010 tersebut bisa berkembang hingga sekarang ini, dengan omzet sekitar Rp 12 miliar per tahun, dengan mengirimkan berbagai produk mebel dan craft ke berbagai negara, seperti Amerika, Belanda, Jerman, Tiongkok, hingga India, juga tidak lepas dari pameran internasional yang pernah diikuti.

“Kalau untuk ukuram UMKM, yang sudah level menengah, mungkin relatif sudah bisa mandiri, namun bagi mereka yang masih tahap mikro dan kecil, pameran ini sangat berpengaruh,” tandasnya.

Selain itu, permasalahan tenaga kerja juga menjadi kendala. Hal tersebut diakibatkan, semakin minimnya generasi muda yang tertarik untuk bekerja di bidang permebelan. “Contohnya tenaga ukir, saat ini jarang anak muda yang mau. Alasannya karena rumit dan susah. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik, yang tidak terlalu membutuhkan ketrampilan,” tandasnya.

Eri juga berharap agar pemerintah, khususnya Pemkab Jepara memiliki pengolahan kayu terpadu, sehingga memudahkan para pelaku UMKM mebel dalam berproduksi. Termasuk menekan harga produksi, sehingga produk mereka bisa lebih kompetitif dari segi harga.

“Misalnya dalam satu kawasan, sudah tersedia semua. Mulai dari stok kayu, tempat pemotongan, hingga oven kayu. Kalau ini bisa diwadahi dalam satu tempat, tentu lebih memudahkan para UMKM. Harga produksi juga bisa ditekan, sehingga harga juga jual bisa bersaing dengan produk luar,” tegasnya.

Hal serupa juga disampaikan pemilik CV Java New Natural Internasional Okky S Fadly. Diterangkan, saat ini minat pasar akan produk ukiran juga menurun. Hal ini diakibatkan tren gaya hidup anak muda saat ini, yang condong ke modern minimalis.

“Penggemar ukiran ini rata-rata orang tua, sementara generasi baru ini, para anak muda, lebih suka yang model simpel minimalis. Ini juga menjadi tantangan, bagi pengusaha mebel dalam berinovasi agar produk bisa terserap pasar,” jelasnya.

Peluang Terbuka

Sementara, Bambang Sadono menuturkan, mebel atau furniture, menjadi salah satu andalan ekspor Jateng, untuk mencapai target pertumbuhan perekonomian Jateng di angka 7 persen.

“Peluang ekspor mebel untuk wilayah Amerika dan Eropa, masih sangat terbuka. Ini menjadi peluang untuk meningkatkan nilai ekspor Jateng. Namun disatu sisi, juga ada permasalahan yang dihadapi oleh para pengusaha khususnya UMKM,” terangnya.

Ditambahkan, produk mebel Jepara saat ini dituntut untuk mampu bersaing di pasar internasional dengan produk serupa, dari sejumlah negara seperti Filipina, Thailand hingga Tiongkok. Selain inovasi dan kreativitas produk, sektor promosi juga perlu diperhatikan.

“Para UMKM mebel ini, kalau untuk melakukan pameran internasional sendiri tidak mampu. Padahal ini penting, untuk memperluas pasar dan memperkenalkan produk mereka. Diharapkan pemerintah bisa memfasilitasi ini. Berbagai kendala ini tentu akan saya, sampaikan kepada pemerintah, baik di tingkat daerah, provinsi hingga pusat,” tandasnya.

Pihaknya menyakini pemerintah akan segera menjawab persoalan tersebut, terlebih produk mebel menjadi salah satu andalan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Rix

MENINJAU - Anggota DPD RI Bambang Sadono, melakukan kunjungan kerja reses di sejumlah pabrik mebel UMKM di Kabupaten Jepara, Sabtu (4/8). Foto dok

Penulis : arr
Editor   : edt