Bumi Manusia, Perburuan dan Kemerdekaan


Memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 74 tahun 2019, masyarakat dan penggemar film nasional disuguhi  hadirnya dua film nasional. Masing-masing “Bumi Manusia” yang disutradarai Hanung Bramantyo dan “Perburuan” disutradarai Richard Oh.

Dua film tersebut sama sama diadaptasi dari novel sejarah karya penulis kenamaan Pramoedya Ananta Tour. Kedua film tersebut sama-sama bercerita tentang perjuangan kaum pribumi (Indonesia) untuk melawan penjajah. Di Bumi Manusia tokoh Minke dan Nyai Ontorosoh berjuang terhadap diskriminasi dan ketidakadilan yang dilakukan Belanda. Sedangkan  Perburuan bercerita tentang perjuangan Hardo yang merupakan tentara PETA dari kesewenang-wenangan Jepang.

 Dua film itu menjadi kado dan semacam pengingat bagi kita, bahwa dulu bangsa Indonesia pernah dijajah oleh bangsa asing.  Penjajahan membuat bangsa kita berada dalam kondisi yang tidak ideal. Terjadi diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan.  Mulai dari sektor ekonomi, pendidikan bahkan hukum.

Di film Bumi Manusia yang berdurasi hampir 3 jam tersebut sangat gamlang dipertontonkan bagaimana Belanda melakukan diskriminasi kepada kaum pribumi. Namun dua tokoh Minke dan Ontorosoh mencoba melawan. Mereka tak mau menyerah. Memperjuangkan kemerdekaannya. Karena mereka adalah pemilik bumi pertiwi.

Begitu pula tokoh Hardo di Perburuan. Dia menolak menyerah kepada Jepang. Walaupun dia harus menjadi buronan dan menyamar sebagai pengemis, Hardo terus memperjuangkan keyakinannya untuk menjadi orang yang merdeka. Dia menginginkan Indonesia merdeka.

Kita patut berterima kasih kepada sineas kita, karena mereka mau menghasilkan film yang membuka mata kita. Menyadarkan kita bahwa kemerdekaan yang kita raih ini berawal dari proses yang panjang. Oleh karena itu kita  tak boleh melupakan perjuangan para pahlawan. Karena 

Menghayati dua cerita tersebut, kini di usia kemerdekaan Indonesia yang sudah mencapai usia 74 tahun, seyogyanya kita tidak hanya merayakannya. Kita harus memperjuangkan kemerdekaan itu menjadi kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Banyak persoalan yang terjadi di masyarakat. Mulai dari adanya diskriminasi dalam hukum, ekonomi bahkan pendidikan. Adalah tugas setiap komponen bangsa ini untuk berjuang bersama untuk menghilangkan diskriminasi tersebut.

Tahun 2019 merupakan tahun politik. Kita telah melalui proses politik dengan terpilihnya presiden dan wapres serta anggota dpr pusat, provinsi dan kabupaten/kota.  Kita berharap dan mensuport mereka untuk berjuang. Ya berjuang untuk memperjuangkan kemerdekaan yang belum dirasakan oleh warga masyarakat.  Karena mereka dipilih untuk melaksanakan amanat penderitaan rakyat.

 Kita tidak ingin para pemimpin dan wakil kita malah menjadi penindas bagi rakyatnya.  Jika para pemimpin kita juga menyaksikan “Bumi Manusia “ dan “Perburuan” mereka tentu menghayati dan memahami bahwa mereka harus memperjuangkan kemerdekaan seutuhnya bagi segenap rakyat Indonesia.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt