Penggunaan Elpiji Bersubsidi Belum Tepat Sasaran


Tim gabungan yang terdiri atas Pertamina Wilayah VIII eks Karesidenan Kedu, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Bagian Perekonomian dan Satpol PP Temanggung menukar tabung elpiji bersubsidi dengan nonsubsidi di dua tempat usaha makanan. Dalam penukaran tersebut, dua tabung gas ukuran tiga kilogram ditukar satu tabung gas nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram. Foto : Widiyas Cahyono

TEMANGGUNG , WAWASANCO-Tim  gabungan dari PT Pertamina dan tim monitoring Pengawasan Tata Niaga Elpiji tiga kilogram dan BBM jenis tertentu Kabupaten Temanggung menemukan penyalahgunaan gas elpiji ukuran tiga kilogram yang tidak sesuai  peruntukannya di sejumlah  tempat usaha jasa catering dan usaha roti yang ada di Temanggung.

“ Inspeksi mendadak yang kami lakukan ini untuk memastikan penggunaan gas elpiji bersubsidi  tepat sasaran yakni masyarakat skala rumah tangga,”kata Kasubag Produksi Daerah, Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Temanggung, Rahmaningrum Widi Apsari, di sela kegiatan tersebut, Rabu ( 21/8).

 Rahma mengatakan,  dari hasil inspeksi mendadak tersebut di dua tempat usaha jasa catering dan usaha roti ditemukan penggunaan gas elpiji  bersubsidi  untuk keperluan memasak usaha yang dinilai cukup besar. Dalam sidak tersebut, di salah  usaha jasa catering yang ada di  Kampung Jampirejo Timur, Kelurahan Jampirejo, Kecamatan/Kabupaten Temanggung tim gabungan  menemukan  penggunaan tabung elpiji bersubsidi yang tidak tepat sasaran.

  Di  usaha jasa catering  tersebut,  ditemukan ada 38 tabung gas ukuran tiga kilogram.

Sedangkan di salah satu usaha pembuatan roti yang ada di Kelurahan Jampiroso,  tim gabungan yang terdiri atas  Pertamina Wilayah VIII eks Karesidenan Kedu, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Bagian Perekonomian dan Satpol PP Temanggung  menemukan sebanyak 32 tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram yang tidak sesuai peruntukannya.

“Dari 32 tabung gas  bersubsidi yang ditemukan di usaha pembuatan roti ini,  26 tabung diantaranya kami tarik dan ditukar dengan  13 tabung gas  non subsidi ukuran 5,5 kilogram,” katanya.

Menurutnya,  penggunaan elpiji bersubsidi pada kalangan industri menjadi salah satu penyebab  sulitnya mendapatkan elpiji ukuran tiga kilogram di masyarakat.

Rahma menambahkan, di dua tempat usaha tersebut sebelumnya pihaknya telah  dua kali melakukan pengawasan dan sosialisasi  terhadap penggunaan elpiji bersubsidi. Namun, kenyataannya, dua tempat usaha tersebut masih membandel dan tetap menggunakan gas elpiji bersubsidi untuk keperluan industri yang di atas Rp50 juta per bulan.

“Untuk kali ini, kami terpaksa menarik seluruh tabung gas elpiji bersubsidi dan diganti dengan tabung gas non subsidi,” tandasnya.

Sementara itu, Sales Eksekutif PT Pertamina Rayon 8 wilayah eks-Karesidenan Kedu, Dimas Aji Kharisma Cakra mengatakan, dari hasil pantauan yang dilakukan  saat ini masih banyak terjadi penyimpangan penggunaan  elpiji bersubsidi yang  digunakan oleh  kalangan industri.

“Sementara  sesuai aturan  yang berlaku  industri dengan aset Rp300 juta ke atas atau beromzet di atas Rp50 juta per bulan harus menggunakan elpiji nonsubsidi. Kami edukasi kalangan usaha untuk beralih ke elpiji nonsubsidi, karena elpiji bersubsidi hak dari masyarakat tidak mampu,” katanya.

Dimas menambahkan, dalam sosialisasi ke sejumlah usaha makanan tersebut Pertamina langsung menukar tabung elpiji bersubsidi dengan nonsubsidi. Dua tabung ukuran tiga kilogram ditukar satu tabung gas nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram
“Dalam sosialisasi ini , kami menerapkan  potongan harga khusus. Yakni, dua tabung gas ukuran tiga kilogram  ditukar dengan dua tabung elpiji  ukuran 5,5 kilogram beserta isinya  dan cukup membayar Rp65 ribu,” katanya.

Penulis : widias
Editor   : jks