Optimisme Dibalik Pemindahan Ibu Kota


Presiden Jokowi  di Istana Negara Senin (26/8) telah mengumumkan  bahwa pemerintah menetapkan akan memindahkan ibu kota negara.  Lokasinya ada di Kalimantan Timur, masing-masing sebagian ada di  Kabupaten Penajam Paser Utara dan di sebagian Kutai Kertanegara.

Optimisme mengemuka dibalik keputusan tersebut. Presiden menyampaikan pemindahan efektif dilaksanakan tahun 2024.  Oleh karena itu dibutuhkan sebuah langkah yang terencana dan matang. Mulai dari payung hukum serta penyiapan anggaran.

Optimisme tentu mengemuka dengan rencana itu.  Ini sebuah terobosan yang berani terutama terkait dengan upaya pemerataan pembangunan.  Ibu kota saat ini yaitu DKI Jakarta sudah sangat kelebihan beban. Semuanya terpusat di Jakarta. Pemindahan ibu kota diharapkan bisa mengatasi anggapan bahwa pembangunan hanya terpusat di Jawa saja.

Wacana pemindahan Ibu Kota sebenarnya sudah digulirkan sejak presiden pertama Soekarno tahun 1957.  Saat itu Soekarno merencanakan agar ibu kota dipindahkan ke Palangkaraya Kalimantan Tengah. Alasannya karena lokasinya tepat di tengah-tengah.

Presiden Soeharto pada tahun 1997  juga menyiapkan  lahan seluas 30 hektare  di Jonggol Jawa Barat  sebagai lokasi ibu kota baru.  Hal yang sama dilakukan oleh presiden SBY, kendati dia belum menentukan lokasinya.

Jokowi menindaklanjutinya dengan lebih riil. Dia mengumumkan langsung keputusan tersebut. Bappenas  memprediksi anggaran untuk pemindahan ibu kota mencapai  Rp 466  triliun.  Sebanyak 19, 2 persen didanai oleh  APBN.  Sisanya didanai dari hasil pemanfaatan asset pemerintah ataupun kerjasama dengan swasta.

Kita melihat keputusan Jokowi merupakan langkah rasional. Pasalnya Jakarta selama ini sudah banyak beban. Selain sebagai ibu kota, Jakarta juga menjadi pusat  pemerintahan, bisnis, politik  bahkan kegiatan yang lain. Jakarta menjadi tempat dimana orang seluruh Indonesia datang untuk mengadu nasib.

Oleh karena itu pemindahan ibu kota sebuah langkah brilian. Kita perlu memandang optimis, karena ini akan menjadi sebuah kebijakan agar wilayah luar Jawa juga bisa berkembang pembangunannya.  Selama ini orang enggan untuk mengadu nasib ke luar Jawa. Dengan alasan fasilitas yang kurang memadai, lapangan kerja yang minim dan dianggap belum maju.

Langkah Jokowi untuk memindahkan ibu kota ke luar Jawa tentu sudah dilakukan dengan hitung-hitungan yang matang.  Kita perlu memberikan apresiasi.  Namun perlu juga ada control agar jika ada hal-hal yang dirasa kurang perlu dikritisi untuk disempurnakan.  Sehingga  persiapan dan  pelaksanaannya bisa dilakukan dengan matang.

Saat ini memang masih ada wacana pro dan kontra.  Itu adalah wajar adanya. Namun jika kita tidak berani memulai wacana baru, kita akan stagnan.  Rencana pemindahan ibu kota merupakan langkah strategis untuk membawa Indonesia lebih maju. Tentu dengan persiapan dan perencanaan yang matang. Sehingga saat pelaksanaannya nanti berbuah manis dan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt