Peternak Kebingungan, Produksi Telur Anjlok 40 Persen


Business Development  Manager  Cargill Adi Widyatmoko tengah menjelaskan produksi pakan ternak dengan formula baru untuk ayam petelur. Foto Bagus Adji W

 SOLO, WAWASAN.CO - Kalangan peternak ayam petelur kini mengeluh, sehubungan produksi telur ayam yang mengalami menurun drastis. Disatu sisi, penurunan produksi tersebut tidak menyebabkan harga telur mengalami kenaikan. Mereka menduga, ada pabrikan yang menjual telur breeding ke pasaran guna memasok permintaan konsumen.

"Telur breeding seharusnya untuk ditetaskan bukan guna keperluan konsumsi. Penjualan telur breeding untuk dijadikan konsumsi sangat merugikan peternak petelur, karena harganya jauh dibawah ketentuan pemerintah," papar Dewan Penasihat Pinsar Petelur Nasional Pusat, Robby Susanto di Solo, Kamis (29/8).

Ditemui di sela sela acara  peluncuran QMack Series pakan ternak baru produksi Cargill, Robby mengatakan, penyebab penurunan produksi telur yang berlangsung sangatlah komplek. Diantaranya  adanya sejumlah penyakit yang disebabkan bakteri,  kondisi cuaca yang sangat panas di siang hari dan dingin dimalam hari, serta  pemberian pakan yang tidak teratur.

Penurunan produksi tidak diikuti kenaikan harga jual telur ayam. Karena dipasaran ternyata beredar telur  breeding. Telur disebut terakhir ini dijual ke pengecer dengan harga Rp 7.000/ kg.  Padahal telur breeding yang dimiliki pabrikan ini seharusnya ditetaskan menjadi Day Of Chicken (DOC) bukan untuk konsumsi. Peredaran telur breeding  sangat dikeluhkan petani namun kurang ditanggapi pemerintah.

Fluktuasi harga telur juga dipengaruhi kelancaran ketersediaan pasokan pakan. Ketersediaan pakan sangat tergantung dengan stok jagung sebagai salah satu bahan baku. Sebagaimana diketahui, stok jagung dikatakan terombang-ambing. Pemerintah menyatakan persediaan jagung mencukupi namun ternyata dipasaran barangnya tidak tersedia.

Sebaliknya pemerintah menyatakan import padahal persediaan Jagung dalam negeri melimpah. Menyinggung diperkenalkannya pakan ayam petelur formula baru oleh produsen Carfgirll, pihaknya menyambut dengan antusias.  Produksi pakan yang tidak mengandung antibiotik ini diharapkan dapat menekan biaya produksi, sehingga dapat menambah keuntungan peternak telur, terangnya.                                                                     

 Pada kesempatan terpisah Business Development  Manager  Cargill Adi Widyatmoko didampingi  Technologi Application Manager Fatimah mengatakan, perusahaan tempatnya  bekerja tengah meluncurkan pakan ternak petelur dengan formula baru.  Pakan disebut terakhir jauh lebih efisien. Sebagai gambaran dibutuhkan  2,5 kg pakan  dengan formula lama  untuk menghasilkan  satu kilogram telur. Sedangkan dengan pakan formula baru cukup butuh 2,2 kg pakan untuk menghasilkan satu kilogram telur.

Dengan pakan formula baru  usia produktif  ayam menghasilkan telur  bertambah menjadi  dikisaran 90 – 110 minggu dibandingkan sebelumnya yang hanya 80 minggu. Diyakini bisnis pakan ternak untuk petelur yang efisien masih terbuka lebar sehubungan konsumi telur masyarakat Indonesia baru mencapai 125  butir/ tahun. Angka disebut terakhir kalah jauh dengan Malaysia yang warganya rata rata mengkonsumsi 300 butir telur/ tahun.

 

Penulis : baaw
Editor   : edt