1 Muharram dan Semangat Muhasabah


Tanggal 1 September umat  bertepatan dengan datangnya Tahun Baru 1  Muharram.   Berbagai prosesi dilakukan di berbagai daerah untuk menyambut hadirnya tahun baru Islam tersebut. Umat muslim merayakannya dengan ceria dengan berbagai acara.

Diantaranya dengan menggelar pawai taaruf berkeliling kota.  Semua menyambut gembira dan sukacita. Jika dirunut,   1 Muharram merupakan momentum bersejarah bagi umat Islam. Karena waktu itu pada 622 SM merupakan suatu hari yang penting bagi umat Islam  karena menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam yaitu memperingati penghijrahan  Nabi Muhammad SAW dari Kota Mekkah ke Madinah  pada tahun 622  Masehi. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1 Muharram  tahun baru pada kalender Hijriyah.

Namun Tahun Hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah itu diambil sebagai awal perhitungan bagi kalender Hijriyah. Kalender Hijriyah secara resmi belum dimulai ketika zaman Rasulullah. Kalender ini hanya dimulai pada zaman Khalifah Arrasyidin kedua yaitu Umar al-Faruq R.A. Ada beberapa sarandari para sahabat untuk penetapan tanggal bagi Madinah ketika itu.

Ada  yang mengusulkan tahun Islam dimulai ketika kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada yang mengusulkan awal tanggal Islam ditetapkan pada hari Rasulullah diangkat sebagai nabi dan rasul tetapi pandangan yang menyarankan awal tanggal Islam pada tanggal hijrah Nabi SAW.

Penetapan ini adalah untuk mengenangkan betapa pentingnya tanggal hijrah yang menjadi perubahan paradigma dalam sejarah agama Islam yang mana pertama kali dalam sejarah Islam seorang nabi dan rasul membentuk pemerintah dengan segala kesulitan dan berhasil membuat hubungan diplomatik dengan beberapa negara serta menyampaikan dakwah Islam secara global sehingga Islam tersebar ke merata dunia.

Momentum Tahun Baru  Hijriyah ini sudah selayaknya menjadikan momentum bagi umat muslim khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.  Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti  mengatakan  1 Muharram adalah saatnya  kita melakukan muhasabah baik di bidang spiritual, sosial dan politik.

Muhasabah di bidang spriritual adalah bagaimana kita melakukan evaluasi atas perilaku spiritual kita. Melakukan evaluasi atas dosa dosa yang telah kita lakukan di masa lalu, memperbaiki perilaku spiritual dan ibadah kita. Bertobat dan meningkatkan ibadah kepada Tuhan.

Muhasabah sosial adalah terkait kepedulian kita terhadap masalah sosial, dan kesejahteraan umat dan sesama. Kita perlu memperbaiki relasi sosial kita. Lebih peduli kepada sesama dan saling meningkatkan kerjasama dengan sesama umat. Terutama dalam mengentaskan berbagai persoalan kemanusaian dan sosial.

Muhasabah politik tak boleh dilupakan. Karena kita baru saja melaksanakan perhelatan politik yaitu Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pileg). Keduanya menguras energy dan emosi kita. Perbedaan dukungan membuat kita sempat tercerai berai dan nyaris bermusuhan satu sama lain.

Elit politik juga tak lepas dari persaingan politik di hajatan politik itu. Dengan selesainya perhelatan politik itu saatnya kembali melupakan permusuhan dan kembali berjabat tangan. Siapapun yang memenangkan Pileg dan Pilpres tak boleh jumawa. Yang menang harus berangkulan kembali dengan yang kalah. Bergandeng tangan kembali untuk membangun Indonesia. Kita harus sama sama berhijrah menuju Indonesia yang bersatu.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt