Bersama Membangun (Prestasi) Olahraga


Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tahun 2019 yang jatuh 9 September diwarnai adanya insiden. Menyusul rencana PB Djarum Kudus yang hendak menghentikan audisi atlet bulutangkis. Sikap dari klub yang sudah banyak melahirkan atlet bulutangkis nasional berprestasi dunia ini disebabkan adanya statemen dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menyampaikan bahwa audisi tersebut merupakan wujud eksploitasi anak dengan menggunakan merk dagang rokok.

KPAI beranggapan hal itu melanggar aturan. Pernyataan KPAI mendapatkan banyak reaksi. Kebanyakan mempertanyakan dasar alasan keluarnya pernyataan tersebut. Pasalnya sudah puluhan tahun PB Djarum membina olahraga bulutangkis dan mampu memunculkan atlet berprestasi. Atlet bulutangkis binaan dari PB Djarum mampu mengharumkan nama Indonesia.

Semua khawatir, karena jika PB Djarum tak lagi menjaring atlet melalui audisi, bagaimana nasib pembinaan dan prestasi atlet bulutangkis. Padahal cabang olahraga tersebut menjadi andalan Indonesia. Dari bulutangkis Indonesia Raya bisa berkumandang di Olimpiade.

Momentum Haornas menjadi perenungan bagi kita bersama.  Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab dengan pembinaan prestasi olahraga di tanah air.  Sesuai UU Nomor 3 Tahun 2015 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, pemerintah di berbagai tingkatan berperan serta dalam pembinaan dan pengembangan olahraga. Dalam Pasal 20 ayat 4 dijelaskan  bahwa berperan serta yang dimaksud adalah menyelenggarakan, mengawasi, dan mengendalikan kegiatan olahraga prestasi.

Tentu pemerintah tidak sendiri melakukannya.  Langkah itu perlu dilakukan bersama masyarakat dalam hal ini induk organisasi olahraga dan masyarakat yang lain. Dari sini terlihat diperlukan adanya sebuah sinergi dalam pembinaan olahraga prestasi.

Dijelaskan lebih rinci lagi pemerintah memberikan dukungan finansial, pengelolaan sdm serta menyediakan kompetisi yang teratur. Peran ini juga bisa dilakukan oleh masyarakat. Sedangkan KONI sebagai induk organisasi olahraga melakukan pembibitan, fasilitasi, membuat program latihan dan memberikan penghargaan.

Jadi dari amanat undang-undang tersebut jelas bahwa pembangunan bidang olahraga memerlukan sinergi. Masing-masing oleh pemerintah, KONI dan juga masyarakat.  Koordinasi yang baik akan menghasilkan prestasi olahraga yang baik.

Kembali ke persoalan PB Djarum dan KPAI, pemerintah sebaiknya segera turun tangan. Bagaimana ada jalan tengah terbaik untuk menyelesaikan persoalan yang ada.  Momentum Haornas ini sebaiknya digunakan untuk memantapkan sinergi pembinaan prestasi olahraga kita.

Tahun 2020 akan ada multi event Olimpiade di Tokyo. Lagi-lagi kita mengandalkan perolehan medali emas dari bulutangkis.  Cabang olahraga ini terus berupaya mempertahankan tradisi emas. Jangan sampai persoalan yang menimpa PB Djarum dan KPAI berkepanjangan. Buntutnya fokus untuk membina atlet dan mempersiapkan atlet bulutangkis untuk berprestasi dunia bisa terganggu. Saatnya duduk bersama dan menanggalkan ego. Saatnya bersinergi untuk membangun prestasi olahraga. Karena olahraga prestasi seperti tertulis di UU Nomor 3/2005 juga berguna untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt