Pancasila Bisa Jadi Ideologi Dunia


Yudi Latief saat berbicara hebatnya Pancasil sebagai idiologi negara

JAKARTA, WAWASANCO- Mantan Kepala Badan Pembinaan Idiologi Pancasila (BPIP) Yudi Latief menyayangkan kebanyakan masyarakat kita menerapkan nilai-nilai Pancasila hanya sila 1, 2 sampai 3. Sementara sila ke 4 dan 5 di lupakan. Padahal dunia mengakui Pancasila bisa menjadi mercusuar idiologi dunia.

''Sepertinya masyarakat Indonesia belum mampu mengimplementasikan nilai-nilai luhur dalam Pancasila secara utuh dan holistik,'kata Yudi Latief dalam FGD bertajuk “Implementasi Pancasila dari Masa ke Masa” yang diselenggarakan oleh Mediatrust, di Jakarta, Senin (9/9).

Yudi mengambil contoh banyak orang berteriak dan berdebat perlunya saling toleransi dan bersatu karena negara kita adalah negara Pancasila.  Tapi itu hanya sampai sila ketiga.

Menurut Yudi,  kalau hanya sampai sila ketiga, semua orang termasuk konglomerat juga mau. Tapi masuk ke sila 4 dan 5, bagaimana politik dan ekonomi dijalankan, mulai berjatuhan satu-per satu.

''Ironisnya mereka yang berhenti sampai sila ke-3 itu merasa yang paling Pancasilais. Ini masalah etika,” ujar Yudi.

Menurut Yudi  saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Pancasila dan bangsa Indonesia untuk memimpin peradaban ke depan. Sebab, paham komunisme dan kapitalisme tidak bisa menjawab tantangan zaman.

“Bahkan ada pemikir Jerman yang menilai sudah saatnya Pancasila menjadi mercusuar dunia ke depan,” paparnya.

Yudi menerangkan, secara konsepsional Pancasila memang dipuji dunia. “Tapi mengapa bangsa Indonesia sendiri tidak bisa menerapkan nilai luhur Pancasila? Karena level peradaban bangsa Indonesia tidak sampai kepada ekspektasi Pancasila. Itu alasannya,” jelasnya.

Lebih jauh Yudi mengatakan bangsa Indonesia harus mampu merealisasikan kerangka nilai dari Pancasila. “Bagaimana mengimplementasikan Pancasila, bukan hanya sekadar hafalan, tapi itu menjadi panduan transformasi sosial untuk menuju peradaban unggul,” jelasnya.

Pada bagian lain Yudi Latif, menyatakan bangsa Indonesia harus memanfaatkan warisan luhur (legacy) dari masa lalu untuk menjadi ancang-ancang bagi masa depan. Legacy penting bagi bangsa Indonesia untuk melihat masa lalu sehingga memiliki wawasan historis dan mengambil pelajaran berharga.
“Tapi bagi kebanyakan kita, kembali ke masa lalu itu diartikan sebagai kemajuan itu sendiri. Padahal, masa lalu itu sebagai inti untuk menemukan pelajaran. Dengan menengok ke masa lalu itu layaknya menengok ke spion, jalan kita tetap ke depan,” kata Yudi

Yudi menilai jika bangsa Indonesia mau berlari kencang dalam pembangunan, bercermin dari banyak kasus, memang dibutuhkan mundur beberapa langkah untuk berancang-ancang. “Tapi tujuan kita kan ke depan, bukan ke masa lalu itu sendiri,” katanya.

Dengan cara seperti itu, lanjut dia, bangsa Indonesia bisa lepas dari ‘penjara’ masa lalu. “Maksudnya, dahulu kita ini meratapi kenyataan bahwa di Orde Baru terjadi de-Soekarnoisasi. Lalu sekarang, kita melakukan re-Soekarnoisasi. Tapi tetap hati kita terpenjara di masa lalu.

Mestinya, lanjut Yufi,  kita mampu untuk melampaui masa lalu itu. Ini yang membuat politik di Indonesia tidak bisa lepas dari masa kekanak-kanakannya tadi, masa lalu itu diulangi bukan dilampaui. Ini yang salah kaprah,” jelasnya.

Menurut Yudi, kalau dilihat masa lalu itu tidak sepenuhnya terang, tidak sepenuhnya gelap. “Sebutlah seluruh kejelekan Orde Lama, kita masih bisa mencari aspek-aspek kebaikan dari Orde Lama, paling tidak yaitu kita pada masa berkobar-kobar keluar dari masa penjajahan, membangun integrasi nasional (national building) dimulai. Lalu kita lihat Orde Baru, ada lorong-lorong gelap Orde Baru. Tapi di balik lorong-lorong gelap itu ada capaian Orde Baru yang tidak bisa kita nafikkan. Bagaimana dari negara yang tadinya defisit, inflasi merajalela, pangan kekurangan di mana-mana, namun Orde Baru bisa menyelesaikan masalah pangan, dan lain-lain,” paparnya.

Yudi menambahkan untuk mengambil wawasan dan pelajaran berharga dari masa lalu, bangsa Indonesia sebaiknya membuat ‘pagar’ atau rambu-rambu. “Kita lihat masa lalu mana yang tidak boleh diulangi lagi, tapi juga melihat mana legacy di masa lalu di Orde Lama dan Orde Baru yang pantas dan baik untuk dilanjutkan,” jelasnya.

Namun, dia menilai, saat ini justru terjadi pandangan yang agak menyimpang saat mempertahankan legacy buruk di masa lalu, dan justru membuang legacy baik dari masa lalu.

“Nah problem kita itu dalam sejarahnya agak menyimpang, mempertahankan masa lalu yang baik, dan mencari masa depan yang lebih baik. Ini yang perlu diluruskan,” paparnya. 

Penulis : Arya
Editor   : jks