Pembunuhan Mbah Jaya Direkonstruksi, Keluarga Tuntut Hukuman Mati

337

Penyidik Satreskrim Polres Pekalongan menggelar reka ulang pembunuhan Mbah Jaya di Mapolres Pekalongan, kemarin. Foto: Hadi Waluyo.
 
KAJEN - Penyidik Satuan Reskrim Polres Pekalongan menggelar rekonstruksi pembunuhan Sugeng alias Mbah Jaya (55), warga Dukuh Petungkon, Desa Tembelangggunung, Kecamatan Lebakbarang, Kamis (5/10) kemarin. Rekonstruksi dilaksanakan di Mapolres Pekalongan dengan pengamanan polisi bersenjata laras panjang, untuk menghindari amukan massa keluarga dan tetangga korban. 
 
Ada 16 adegan, dari 17 adegan, diperagakan oleh tersangka Eko Budiono (27), tetangga korban sendiri. Sebab, dalam salah satu adegan, tersangka nampak emosi dengan istri korban bernama Kunipah (45), yang dihadirkan langsung dalam rekonstruksi itu. Yakni, saat adegan tersangka masuk kali pertama ke rumah korban dan bertemu dengan istri korban. Tersangka mengaku versi saksi istri korban berbeda dengan versi dirinya. "Sudah lakukan saja ini kan versi dia (istri korban), nanti ada versi kamu," ujar petugas.
 
Polisi beberapa kali mengingatkan tersangka untuk diam dan menunjukkan kejadian saat pembunuhan itu terjadi. Namun, tersangka menolaknya, sehingga khusus untuk satu adegan itu peran tersangka akhirnya digantikan oleh anggota polisi bernama Brigadir Hamam Fanani. Untuk 16 adegan lainnya, tersangka melakukannya dengan lancar. Korban sendiri diperankan oleh anggota polisi bernama Brigadir Aris Fajar, sedangkan saksi seluruhnya diperankan oleh warga desa setempat. 
 
Istri korban Kunipah sepanjang rekonstruksi itu tak kuasa membendung tangis. Kunipah menuntut agar tersangka dihukum mati. Kunipah juga mengaku khawatir jika tersangka nanti keluar, maka keselamatan jiwanya akan terancam. "Dia harus dihukum mati. Utang nyawa, dibayar nyawa," tuturnya.
 
Dalam adegan itu, nampak tidak ada penyesalan pada diri tersangka. Termasuk upaya permohonan maaf kepada keluarga korban. Tersangka justru nampak masih marah terhadap istri korban. "Ini akibat mencelakai bapakku," teriak tersangka saat memperagakan adegan membacok korban dengan senjata tajam.
 
Dalam rekonstruksi tersebut menjelaskan bagaimana alur pertama kronologi kejadian pembunuhan tersebut. Bermula saat pelaku mendatangi korban sambil membawa bendho (parang), kemudian langsung membacokan bendo yang dibawanya ke arah kepala dan tubuh korban. Korban dibacok ketika sedang ngopi bersama istrinya. Istri korban juga terkena sabetan senjata tajam di bahu kiri hingga mendapat tiga jahitan.  
 
Setelah kejadian tersebut, tersangka melarikan diri bersama ayah dan ibu ke hutan. Dalam kasus ini, pelaku telah melakukan pembunuhan yang direncanakan dan penganiayaan berat yang direncanakan atau pembunuhan dan penganiayaan berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 KUHPidana Subsider Pasal 353 ayat 3 KUHPidana atau Pasal 338 KUHPidana Subsider pasal 354 ayat 2 KUHPidana lebih Subsider Pasal 351 ayat 3 KUHPidana.
 
KBO Reskrim Iptu Bambang Tunggono mengatakan, rekonstruksi merupakan bentuk pemeriksaan untuk meyakinkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk lebih kongkret. Adegan yang dilakukan merupakan bentuk penuangan berita acara, sehingga tidak ada keraguan untuk mengirimkan tersangka kepada jaksa.
 
"Untuk barang bukti senjata tajam memang belum ditemukan karena dibuang di tengah hutan dan kami sudah berupaya untuk mencarinya, namun ini tidak mempengaruhi proses penuntutan," ujarnya.
 
 

Penulis : haw
Editor   : wied