Sinergi Pengembangan SNI Plastik Aman Lingkungan


FOTO BERSAMA - Para pembicara dan peserta berfoto bersama disela workshop 'Industri Plastik: Antara Kebutuhan dan Tantangan', di Patra Semarang, Jumat (11/10). foto Arixc Ardana

SEMARANG, WAWASAN.CO - Sifat plastik yang sulit terurai meninggalkan permasalahan tersendiri bagi kehidupan ekosistem. Namun, permasalahan tersebut , akan timbul jika tidak adanya kesesuaian dalam pengelolaan dan daur ulang plastik bekas pakai.

"Plastik itu masih diperlukan, karena murah, kuat dan praktis. terutama oleh industri, persoalannya bukan pada plastiknya, namun bagaimana pengelolaan plastik tersebut setelah tidak digunakan," papar Kasubdit Industri Plastik dan Karet Hilir, Kementerian Perindustrian, Rizky Aditya Wijaya di sela workshop 'Industri Plastik: Antara Kebutuhan dan Tantangan', di Patra Semarang, Jumat (11/10).

Dipaparkan, penggunaannya telah menyentuh semua aspek kehidupan manusia mulai dari peralatan rumah tangga, mainan anak, kemasan pangan serta minuman, komponen elektronik, komponen otomotif, hingga komponen pesawat terbang.

 Disatu sisi, Implementasi Industri 4.0 memungkinkan perusahaan untuk memperpanjang siklus pakai suatu aset dan sumber daya, meningkatkan utilisasi, menciptakan pemulihan material dan energi untuk penggunaan lebih lanjut, serta menurunkan emisi dan penggunaan sumber daya dalam proses.

"Kementerian Perindustrian, juga berupaya untuk meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan, salah satunya melalui Penyusunan Good Manufacturing Practices (GMP) terkait penggunaan bahan daur ulang bagi industri kemasan, penyusunan kebijakan berupa peraturan, kajian, pedoman, standar produk, standar industri hijau, insentif bagi industri daur ulang hingga pelaksanaan bimbingan teknis dan sosialisasi," tandasnya.

Sementara, Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN, Nasrudin Irawan menegaskan, terkait penggunaan plastik, pihaknya berperan aktif dalam mengembangkan Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait Plastik. Diantaranya SNI 19-4377-1996, Plastik polietilena untuk mengemas, kemudian SNI 7323:2008 untuk plastik – wadah makanan dan minuman – Polystyrene foam, SNI 7322:2008 untuk produk melamin –perlengkapan makan dan minum, hingga SNI 8424:2017 tentang  resin polietilena tereftalat (PET) daur ulang.

“Perumusan SNI lingkup plastik dan kemasan pangan berbahan plastik dilakukan oleh Komite Teknis 83-02 Plastik dan Barang Plastik dengan sekretariat Komite Teknis di Pusat Standardisasi Industri, Kementerian Perindustrian,” jelas Nasruddin.

Menurutnya, perhatian masyarakat yang semakin tinggi terhadap langkungan menjadikan tantangan tersendiri dalam merumuskan SNI plastik dan produknya yg lebih ramah lingkungan, serta memenuhi konsep 5 R dan Circular Economy.

 

Penulis : arixc
Editor   : edt