Diduga Unggah Ujaran Kebencian, Dosen Untidar Diperiksa


Kepala Biro Umum dan Keuangan Untidar Magelang , Among Wiwoho ( baju batik, red) didampingi Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerjasama, Giri Atmoko, saat memberikan keterangan terkait dugaan unggahan ujaran kebencian terkait kejadian penusukan Menko Polhukam, Wiranto beberapa waktu lalu, oleh seorang dosen Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Negeri Tidar ( Untidar) Magelang berinisial H. Foto: Widiyas Cahyono

MAGELANG, WAWASANCO- Diduga mengunggah  ujaran kebencian terkait kejadian penusukan Menko Polhukam, Wiranto beberapa waktu lalu, seorang dosen  Fakultas Ilmu Politik dan Sosial  Universitas Negeri Tidar ( Untidar) Magelang berinisial H,  diperiksa  Dewan Kode Etik universitas tersebut.

“ Saat ini yang bersangkutan sementara telah diperiksa di tingkat fakultas . Nanti dari fakultas, kita masukkan ke tingkat universitas di Dewan Kode Etik, untuk melihat pelanggarannya seperti apa,” kata   Kepala Biro Umum dan Keuangan Untidar Magelang , Among Wiwoho kepada wartawan, Senin (14/10).

Among mengatakan,  Unive rsitas Tidar Magelang melakukan pemeriksaan terhadap salah satu dosen di Untidar berinisial H yang diduga melakukan ujaran kebencian di media sosial. H, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik tersebut diduga melakukan ujaran kebencian di media sosial terkait

"Kami sedang melakukan pemeriksaan awal terhadap yang bersangkutan. Sementara ini di tingkat fakultas, selaku atasan langsung yang bersangkutan.

Among mengatakan,  pihak universitas belum bisa mengatakan perbuatan yang bersangkutan termasuk pelanggaran, apakah termasuk kategori ringan, sedang ataupun berat. Karena semuanya baru dapat diketahui setelah pemeriksaan terhadap yang bersangkutan selesai dilaksanakan, baik di tingkat fakultas, ataupun di tingkat universitas yakni di Dewan Kode Etik.

Menurutnya, bila  yang bersangkutan terbukti  melanggar kode etik atau aturan di universitas, maka oknum dosen tersebut akan diarahkan ke Tim Pembinaan Aparatur.

“Yang bersangkutan akan diperiksa lagi, di tim pembinaan aparatur dan baru nanti ada sanksi disiplin karena ranahnya mengarah ke pelanggaran disiplin, “ katanya didampingi Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerjasama, Giri Atmoko.

Among menegaskan, pihaknya merasa kecolongan dengan adanya unggahan   media sosial Facebook yang diduga memuat ujaran kebencian yang dilakukan  salah satu oknum dosen Fisipol Untidar  tersebut. Meskipun, kapasitas yang bersangkutan mengunggah “nyinyiran” tersebut dilakukan secara pribadi oleh yang bersangkutan.

Ia menambahkan, atas unggahan tersebut dan  sempat  menjadi viral serta menarik komentar dari masyarakat, Untidar mendapatkan teguran dari Kementrian Pemberdayaan Aparatur Negara Reformasi dan Birokrasidan Badan Kepegawaian Negara.

"Ada arahan dari kementerian, kasus ini tolong ditegur. Surat baru lewat secara lisan, juga termasuk pelanggaran kode etik, tapi kita kalau kita larikan ke arahan dari kemenpanRB dan BKN, rasanya jadi pelanggaran disiplin. Yang bersangkutan bisa terancam sanksi disiplin,” ujarnya.

Menurutnya,  kasus dugaan kasus unggahan kebencian melalui media sosial terhadap pejabat negara tersebut, merupakan kasus pertama  kali yang  terjadi di Untidar Magelang

Among menjelaskan, H yang merupakan dosen  program studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Untidar, saat ini statusnya belum menjadi aparatur sipil negara ( ASN). Tetapi sebagai sudah pegawai tetap dan bekerja sebagai dosen di universitas tersebut  sejak 1992 sampai peralihan status universitas menjadi negeri, dari yayasan ke pemerintah pada tahun 2014.

Sementara itu, hingga berita ini disusun, H belum dapat dikonfirmasi. Saat, Wawasan mencoba mengonfirmasinya  melalui telepon selularnya,  yang bersangkutan tidak dapat dihubungi.

Penulis : widias
Editor   : jks