Ratusan Rumah Rusak Diterjang Banjir


Korban banjir dan ganah longsor di Desa Tegalwaton, Senjoyo, Kecamatan Tenggaran, Kabupaten Semarang dievakuasi melintasi sungai dengan arus yang deras oleh tim gabungan, Kamis (7/11) pagi. Foto : Ernawaty

TENGARAN, WAWASANCO- Ratusan rumah warga di Desa Tegalwaton, Senjoyo, Kecamatan Tenggaran, Kabupaten Semarang diterjang banjir disertai tanah longsoran, Kamis (7/11) pagi. Akibat kejadian itu, puluhan warga mengalami luka serius karena tertimbun reruntuhan bangunan rumah mereka lantaran terlambat menyelematkan diri.

Tak hanya longsor, di beberapa titik lainnya di desa yang sama juga mengalami banjir hingga menerjang kawasan padat penduduk. Banjir tak terduga datangnya ini, disebabkan adanya perubahan iklim dengan hujan terus menerus disertai angin hingga menyebabkan kawasan Senjoyo dengan kontur tanah berupa tebing yang curam longsor.

"Beberapa tebing mengalami longsor, yang menyebabkan puluhan rumah tertimbun tanah disertai bebatuan. Belum dapat dipastikan berapa korban luka dari warga serta kerugian material dialami masyarakat setempat," ungkap seorang tokoh masyarakat Desa Senjoyo.

Peristiwa ini kemudian dilaporkan Kepala Desa Tegalwaton, yang diteruskan ke Babinsa hingga berlanjut ke Dandim 0714 Salatiga, Bupati Semarang dan jajaran Korem 073/Makutarama. Disepekati agar membentuk tim dan menyatakan kawasan Tegalwaton, Senjoyo darurat bencana alam.

Tim gabungan dari unsur TNI-Polri, Satpol PP, BPBD Kabupaten Semarang, Unit K-9 dari Polres Semarang maupun Polres Salatiga serta pihak terkait lainnya terjun membantu warga yang mengalami musibah.

Karena kondisi medan yang sulit tak sedikit tim gabungan kesulitan mengevakuasi warga tertimbun. Bahkan, tak jarang bala bantuan tiba di lokasi harus ektra membawa korban luka serius menggunakan tandu melewati medan yang sulit.

Mereka yang luka dibawa baik secara manual atau pun memanfaatkan perahu karet melintasi sungai dengan arus yang deras dibantu sejumlah personil gabungan TNI-Polri menuju mobil ambulans untuk dilarikan ke posko pengungsi.

Kekacauan juga sempat terjadi di lokasi tenda pengungsian. Sejumlah warga protes lantaran pembagian logistik tidak merata. Namun, dengan sikap bijak dari tim gabungan dibawa komando Komandan Korem 073/Makutarama warga hang semula "panas" dapat diredam dan memahami situasi yang ada.

Semua rentetan peristiwa diatas, adalah simulasi bencana alam yang digelar Korem 073/Makutarama dengan melibatkan sejumlah unsur terkait.

Tampak ikut menyaksikan pelatihan tersebut, perwira di jajaran Korem 073/ Makutarama, pejabat di lingkungan Pemkot Salatiga dan Kabupaten Semarang.

*Latihan Penanggulangan
Danrem 073/Makutarama Kolonel Kolonel Arm Moch Erwansjah, S.I.P., M.Hum mengatakan, tiap tahun wilayah kepemimpinannya memang rutin menggelar latihan penaggulangan bencana alam.

Total anggota yang dilibatkan dalam pelatihan tersebut mencapai 750 personil gabungan.

"Dengan mengajak semua komponen masyarakat, khususnya di wilayah Salatiga dan Kabupaten Semarang. Kegiatan pelatihan penaggulangan ini rutin kami gelar tiap tahun," ungkapnya.

Sebetulnya, bencana alam secara besar di wilayah jajaran Korem 073/Makutarama tidak ada (peristiwa/kejadian).

Namun dengan adanya perubahan siklus pergantian cuaca, diharapkan masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam. "Masyarakat, juga tidak perlu panik, karena diyakini instansi terkait telah menyiapkan segalanya," tandasnya.

Usia pelatihan, sebelum menutup kegiatan Danrem menyempatkan memberikan arahan kepada personil yang terlihat latihan.

Dalam arahannya, Danrem 073/Makutarama Kolonel Kolonel Arm Moch Erwansjah, S.I.P., M.Hum mengatakan, kegiatan melibatkan instansi samping seperti

itu sebagai upaya mendorong Pemda baik Kota/Kabupaten di wilayah Korem 073/Makutarama giat menggelar latihan. Khususnya kepada BPBD di tiap daerah di Jawa Tengah.

"Kita dorong kepada BPBD daerah untuk giat dan lebih profesional menggelar latihan. Dan kalau perlu, BPBD daerah menggelar latihan gabungan," kata Danrem Kolonel Kolonel Arm Moch Erwansjah, S.I.P., M.Hum.

Meski demikian, ia berharap tidak berharap ada kejadian bencana khususnya di wilayah jajaran Korem 074/Makutarama. 

sejauh ini, ungkapnya, dari tahun 2018 tidak ada pengerahan besar-besaran BPBD di wilayah Korem 074/Makutarama. 
"Terakhir, hanya Kebakaran gunung Merbabu. Kita berharap, 2019 pun tidak ada bencana alam. Namun, sejak latihan di awal pekan tetap tidak berharap ada bencana sesungguhnya," paparnya.

Ia menambahkan, sejauh ini dari pemetakan wilayah yang kerap dilanda bencana terdapat titik-titik dengan kekhususan bencana. Seperti di Kabupaten Demak, menjadi langganan rob dan banjir  di wilayah Kabupaten Semarang rawan longsor. Dan masih ada beberapa wilayah lain yangenjfai fokus ketika perubahan iklim terjadi.

Pada akhirnya, Danrem mengucapkan terimakasih kepada semua yang terlibat dalam latihan Tugas Bantuan Kepada Pemda Dalam Rangka Menanggulangi Bencana Alam di Daerah di Kawaan Senjoyo.

"Dan seandainya terjadi bencana, dapat bahu membahu. Karena tugas pokok tidak dapat dilakukan satu pihak saja," pungkasnya. 

Penulis : ern
Editor   : jks