Borobudur Marathon Butuh Sinergitas Lintas Stakeholders


Para peserta meramaikan Borobudur Marathon (BoMar) tahun 2018. (Foto :Dok)

BOROBUDUR, WAWASANCO-  Minggu (17/11) dimulai pukul 05.00 WIB, 11.000 runners dari Tanah Air dan 35 negara akan beradu cepat di lomba lari Borobudur Marathon (BorMar) 2019 yang mengambil start di Taman Lumbini, Candi Borobudur.  Ada tiga kategori di BorMar 2019 ini, masing-masing nomor 10 Km, half marathon (21 Km), dan full marathon (42, 195 km). 
BorMar memang bukan lomba lari biasa. Terbukti, kendati penentuan peserta menggunakan sistem ballot (undian) runners asing yang ikut mengalami kenaikan signifikan. Tahun lalu pelari asing yang terdaftar 250 peserta dari 27 negara, tahun ini meningkat menjadi 550 pelari dari 35 negara. Fantastis!
Hal lain, pelari tak hanya mengayuh kaki untuk menyentuh pita finish tercepat, tapi lebih dari itu, mereka akan disuguhi eksotisme alam berupa bukit, persawahan, atraksi kesenian, panorama candi, juga kuliner lokal.
Magnet lain dari even tahunan ini adalah, realitas bahwa lomba yang selalu ditunggu runners amatir dan profesional itu telah berhasil mendorong tumbuhnya potensi wisata dan ekonomi masyarakat setempat. Warga sekitar candi yang dibangun oleh Dinasti Sailendra itu diberdayakan dalam menyelenggarakan even besar olahraga tahunan ini.
''Bagi kami pengelola homestay, BorMar telah memberikan income yang signifikan. Kami juga punya warga binaan pemilik homestay yang tiap tahun meningkat setelah ada even ini,'' kata Hani Sutrisno, pengelola homestay Halal Desa Bahasa, seraya menambahkan semua homestay fullbooking.
Kadinas Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Jateng Sinoeng N Rachmadi menyebut, BorMar membawa implikasi besar pada pembangunan perekonomian dan pariwisata. Dia berdata , jika pada BorMar 2018 perputaran uang yang dibelanjakan mencapai Rp 19 miliar, maka tahun ini diprediksi menyentuh angka Rp 21 miliar lebih.
Hal menarik dari BorMar adalah semangat besar dari orang-orang di belakangnya untuk menggaungkan agar lomba ini berkelas dunia dan benar-benar menciptakan kemaslahatan bagi rakyat.
Lihatlah, bagaimana even 2019 yang mengambil tema 'Sinergi dan Harmoni' ini  didesain untuk berpihak pada warga. Misalnya, Penyelengara Borobudur Marathon 2019 memberikan pendampingan kepada 25 pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecik Menengah) kuliner, dari 19 desa dan 32 sekolah yang dilalui lintasan lari. Mereka mendapat mentoring penyajian makanan dari juru masak profesional. Kelak UMKM diproyeksikan menjadi pasar internasional di kawasan candi. Sebuah nafas sinergi nan harmoni telah dihembuskan demi kemajuan bersama.

*Butuh Sinergitas

Ketua Yayasan Borobudur Marathon Liem Chie An mengungkapkan, pihaknya optimistis BorMar sudah berkelas dunia dan tengah merintis jalan ke World Marathon Majors (marathon resmi yang diakui IAAF). Hanya saja, dia mengaku, pihaknya dan sponsor tidak mungkin berdiri sendiri. Mereka patut didukung semua pihak, terutama pemerintah daerah dan pusat. 
''Harus ada sinergitas lintas stakeholders. Kami kira ini bukan saja kebanggaan Magelang, tapi juga Jateng dan nasional. Mari kita besarkan bersama,'' harap pemiliki buku otobiografi 'Bakul Pithik di Balik Borobudur Marathon' itu.
BorMar memang telah mendapatkan apresiasi dan pengakuan dari berbagai pihak. Majalah lari berbasis daring, Run Hood menobatkan Borobudur Marathon sebagai half marathon dan maraton terbaik di Indonesia pada tahun 2018. Bahkan, medali BorMar 2018 juga diklaim sebagai medali terbaik untuk even marathon di Tanah Air oleh mereka.  Tak hanya majalah, komunitas lari nasional Indo Runner pun menganugerahi lomba menapaki jalan dengan kaki itu sebagai ajang lari marathon terfavorit pada 2018. 
Keinginan Chie An layak didukung. Apalagi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam sebuah kesempatan mengatakan, bahwa BorMar menjadi alat promosi wisata dan budaya Jawa Tengah.
“Ini potensi yang luar biasa, dan saya harap ini menjadi The Best Marathon in Indonesia dan kami ingin mengundang orang-orang bahagia untuk ikut berlari bersama kita menikmati keindahan Borobudur,” ujar Ganjar. BorMar juga layak menjadi Sport Tourism, bagi Provinsi Jawa Tengah khususnya dan Indonesia umumnya.
Segendang sepenarian dengan Ganjar, Presiden Jokowi saat berkunjung ke Candi Borubudur, Agustus lalu, menyebut bahwa  Borobudur menjadi titik fokus baru pembangunan pariwisata di Indonesia. Kawasan Borobudur merupakan salah satu pengembangan pariwisata unggulan di Indonesia. 
Layar telah dikembangkan. Dan saatnya BorMar yang sudah memiliki reputasi internasional ini harus terus dikembangkan, dan tentu saja dengan dukungan berbagai elemen terkait. 

Penulis : ao , wishnu ajie , -
Editor   : jks