Kombanis Karya Peneliti Undip, Minimalisir Dampak Negatif Akibat Penyelaman


MENYERAHKAN – Tim dosen pengabdian masyarakat Iptek Bagi Desa Binaan Undip (IDBU) menyerahkan bantuan Kombanis, kepada perwakilan nelayan Tambak Lorok Semarang, kemarin. Foto dok

SEMARANG, WAWASAN.CO - Kolaborasi dosen antar Fakultas Undip, berhasil menciptakan kompresor selam ban higienis (Kombanis) untuk nelayan. Alat tersebut dibuat sebagai solusi, dari permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat nelayan Tambak Lorok Semarang .

Selama ini, sudah puluhan tahun, para nelayan tersebut menyelam menggunakan kompresor angin untuk isi ban. Akibatnya, mereka terkena sejumlah penyakit penyelaman seperti dekompresi, hingga kelumpuhan bahkan kematian, akibat alat kompresor angin tersebut tidak higienis. Hal tersebut, terbukti pada tabung udara yang banyak mengandung air dan kotor.

Tim pengabdian masyarakat Iptek Bagi Desa Binaan Undip (IDBU) tersebut diketuai oleh Sigit Febrianto SKel Msi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), dengan anggota Prof Dr Ir Muhammad Zainuri DEA dan Nurul Latifah Skel Msi, keduanya juga dari FPIK. Serta Zaenal Arifin SSi Msi dari Fakultas Sains dan Matematika.

“Kegiatan menyelam mengunakan kompresor angin ban ini, telah dilakukan nelayan pencari kerang hijau secara turun temurun. Hal tersebut dilakukan, karena kompresor ban untuk isi angin ini relatif lebih murah, dibandingkan dengan kompresor selam menggunakan tabung. Selain itu,juga relatif lebih tahan lama di air,” papar ketua tim Sigit Febrianto, kemarin.

Diterangkan, jika menggunakan kompresor ban angin, nelayan dapat menyelam selama 3 jam sehingga bisa mendapatkan hasil kerang hijau yang cukup banyak. Keranjang berisi kerang tersebut, kemudian dibawa naik ke atas kapal dengan cara menarik selang, sehingga para nelayan dapat menyelam sejauh 50 meter kombinasi kedalaman horisontal dan vertikal.

“Namun, dibalik kelebihan kompresor ban angin tersebut terdapat kekurangan, yakni pada kualitas udara dan tabung, sehingga dampak dari kompresor ban sangat mengkhawatirkan. Jika alat ini digunakan setiap hari dan terus menerus, maka akan menimbulkan penyakit penyelaman,” lanjutnya.

Disisi yang lain, harga kompresor selam yang mencapai ratusan juta rupiah, juga menjadi penghalang bagi para nelayan untuk dapat membeli peralatan yang sesuai.

Berdasarkan permasalahan tersebut, tim peneliti Undip menciptakan alat selam Kombanis, yang terjangkau, lebih murah dan memenuhi kaedah kesehatan peralatan selam.  “Kombanis memiliki kelebihan, dibandingkan dengan alat kompresor angin biasa, yaitu terdapat tabung membran oksigen. Selain itu, pipa juga dirubah menjadi lebih panjang. Dari semula 25 cm menjadi 3.000 cm,” tandasnya.

Tidak hanya itu, Kombanis juga dapat mengikuti ritme kerja nelayan, yang sering kali menyelam sekitar 2-3 jam per hari.  “Alat ini sudah diujikan kepada nelayan, dan menunjukan hasil yang cukup memuaskan,” tandas Sigit.

Hal tersebut dibenarkan Mashur salah seorang nelayan Tambak Lorok, sekaligus Ketua KUB Mitra Bahari. Diterangkan, setiap kali menyelam dan naik kepermukaan untuk mengangkat hasil tangkapan kerang ke dalam perahu, mereka selalu istirahat terlebih dahulu karena kelelahan.

“Namun, setelah menggunakan Kombanis, kita dapat menyelam selama empat kali tanpa istirahat dan tidak merasakan kelelahan, seperti waktu menggunakan kompresor angin. Tentu hal ini sangat membantu kita. Kedepan kita berharap, Kombanis ini dapat meningkatkan keamanan dan menjaga kesehatan kita, dalam menyelam. Sekaligus dapat diproduksi massal, agar para penyelam tradisonal seperti kita ini, dapat merasakan manfaatnya secara luas,”pungkasnya. 

 

Penulis : arixc
Editor   : edt