Pelaku Persetubuhan Anak Hingga Hamil Dibekuk

  • Gara-Gara Ditinggal Istri Merantau

Kapolres Purbalingga AKBP Kholilur Rochman bersama pelaku persetubuhan dengan anak kandung.(Foto :Humas Polres Purbalingga)

 

 

PURBALINGGA,WAWASANCO- Polres Purbalingga berhasil mengungkap kasus persetubuhan sedarah antara ayah dan anak kandung.

Perbuatan itu dilakukan oleh Tarsum (47), warga  Desa Karangreja Kecamatan Karangreja. Selama setahun Tarsum leluasa menyetubuhi anak kandungnya sendiri. Aksi bejatnya terungkap pekan lalu. Sejak 14 November lalu, warga Desa/Kecamatan Karangreja Purbalingga itu mendekam di ruang tahanan Mapolres Purbalingga.

"Perbuatan Tarsum pertama kali dilakukan pada Agustus tahun lalu," tutur Kapolres Purbalingga, AKBP Kholilur Rochman didampingi Kasat Reskrim AKP Willy Budiyanto dan Kasubag Iptu Widyastuti, Jumat (29/11).

Dia menambahkan, saat pertama kali beraksi, Tarsum masuk ke kamar tidur Melati (17), anak kandungnya dan langsung berbaring di sebelahnya. Melati yang kaget spontan bertanya, "Bapak ngapa ning ngkene?" (Bapak kenapa disini?).

Tarsum menjawab hanya ingin tidur di kamar anaknya sembari meraba payudara dan bagian genital anak perempuannya. Merasa diperlakukan tidak wajar, Melati beringsut menjauh sembari menanyakan kemauan ayahnya. Tarsum malah memeluk anaknya sambil menegaskan keinginannya berhubungan intim dengan anak gadisnya.

Dengan ancaman dan tekanan,  Melati pasrah diperlakukan tidak senonoh oleh ayah kandungnya sendiri. Modus yang sama diulang-ulang hingga Nopember 2019.

"Bahkan setelah mengetahui anaknya hamil akibat ulahnya, pelaku masih tetap mencabulinya," ujar Kapolres.

Kasus persetubuhan sedarah itu terungkap berkat kecurigaan petugas Puskesmas Bobotsari. Bidan curiga mendapati anak dibawah umur yang melahirkan tanpa ada suaminya.

"Petugas Puskesmas juga curiga. Warga Karangreja mau melahirkan di Puskesmas Bobotsari. Kecurigaan itu disampaikan ke polisi," ujar Kholilur.

Tarsum leluasa melakukan aksinya karena si isteri merantau dan bekerja di Jakarta. Anak pertama pelaku bekerja sebagai buruh bangunan dan kerap tidak pulang ke rumah. Sedangkan anak bungsunya masih kecil.

Pelaku dijerat dengan pasal 81 Ayat (2) dan Pasal (3) UU Nomor 17 Tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Pasal tersebut mengancam pelaku dengan hukuman penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 Miliar.

 

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt