Jargas SR PT PGN Lebih Aman dan Murah

  • Pengguna Tak Perlu Khawatir Kehabisan Gas

MEMERIKSA - Petugas PGN memeriksaan jaringan gas di kampung Ngestimulyo Kelurahan Mlatibaru Semarang Timur, Jumat (29/11). Foto Arixc Ardana

SEMARANG, WAWASAN.CO - Dengan cekatan, Purni Rahayu, istri pemilik usaha bakso Mawardi, memasukkan bulatan daging bakso mentah yang dibuatnya, ke dalam panci berisi air mendidih. Tidak sampai lima menit, satu baskom besar berisi daging giling sebagai bahan baku bakso, sudah kosong. 

Kini dirinya tinggal menunggu ratusan bola-bola daging bakso yang dimasak tersebut matang. Sembari sesekali dirinya membolak balikan bakso, menggunakan 'serok' agar matang merata.

Bagi wanita 53 tahun tersebut, aktivitas ini sudah menjadi kesehariannya selama bertahun-tahun. Setiap hari, ratusan butir bakso dihasilkan. Terlebih bakso Mawardi, sebagai warung bakso legendaris sejak era 90-an, sangat dikenal di Semarang. Permintaan bakso pun banyak, tidak hanya untuk dijual di jaringan warung bakso miliknya, namun juga dalam bentuk paketan bakso siap makan.

Menariknya, bahan bakar dalam proses pembuatan bakso tersebut, tidak menggunakan gas atau LPG tabung, namun jaringan gas (jargas) skala rumah (SR) PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

"Awalnya menggunakan tas tabung 15 kilogram. Setiap bulan rata-rata sekitar Rp 5 juta. Lalu ada sosialisasi tentang jaringan gas SR dari PGN, awalnya sempat ragu-ragu, khawatir kalau tidak sesuai, namun setelah dicoba ternyata lebih hemat dan stok gas selalu tersedia karena mengalir langsung," papar Purni, didampingi suami, saat ditemui di rumah usaha miliknya di Kampung Ngestimulyo Kelurahan Mlatibaru Semarang Timur, Jumat (29/11).

Dipaparkan, dengan empat kompor dari jargas SR PT PGN, untuk mengolah sekitar 60 kilogram daging sapi setiap hari. Belum  termasuk  daging jeoran, dirinya bisa menghemat pengeluaran hingga 30 persen, jika dibandingkan menggunakan LPG tabung. 

Tidak hanya itu, Purni mengaku, jika dulu saat masih menggunakan gas atau LPG tabung, terkadang kalau malam saat gas habis dan tokonya tutup juga tidak bisa memasak, namun dengan menggunakan jargas SR tetap ada setiap saat.

Manfaat positif jargas RT tersebut juga dirasakan warga lain di kampung Ngestimulyo Kelurahan Mlatibaru Semarang Timur. Salah satunya, Sukaisih. Ibu rmah tangga 35 tahun ini mengaku setiap bulan bisa menghabiskan 4-5 tabung LPG bersubsidi 3 kilogram.
 
"Sebelum menggunakan jargas SR PGN, rata-rata sebulan habis 80 ribu hingga 100 ribu untuk beli gas. Cukup mahal, karena terkadang tabung LPG 3 kilogram tidak ada, kalau pun ada harganya sudah naik. Namun setelah pakai jargas, rata-rata sebulan Rp 45 ribu. Jadi lebih murah," terangnya.

Dirinya mengaku tidak was-was menggunakan jargas, karena sudah ada jaminan standar keselamatan yang dilakukan PGN. Termasuk cek rutin yang dilakukan petugas. "Terpenting, pasokan gas selalu ada. Jadi mau masak kapan saja, jam berapa saja, gasnya ada. Jadi tidak perlu khawatir lagi saat kita masak, tiba-tiba gas habis, padahal belum matang," tandasnya. 

Sementara, Sales Area Head Semarang PT PGN Heri Frastyono menjelaskan, pemerintah akan terus mendorong pembangunan jaringan gas sambungan rumah tangga. Termasuk di wilayah Semarang dan sekitarnya.

"Selain wilayah Semarang Timur, kita juga akan memperluas jargas SR di Semarang Barat. Rencananya ada sebanyak 6 ribu jaringan SR baru di wilayah tersebut. Kita rencanakan akan dimulai pada 2020 mendatang," paparnya.

Dari data FEED DEDC (Front End Engineering Design-Detail Engineering Design Construction), sebaran jaringan gas yang disubsidi oleh APBN itu mencakup Kelurahan Krobokan, Karangayu, Cabean, Bojongsalaman, Salamanmloyo, dan Gisikdrono.

Sebelumnya, sebanyak 1.776 pelanggan skala rumah telah mendapat suplai gas murah tersebut. Di mana proyek tersebut mulai dikerjakan sejak 2015 lalu dengan subsidi APBN oleh Kementerian ESDM. 

 

Penulis : arixc
Editor   : jks