Kini, Petani Wonogiri Tanam Tembakau


Para petani tembakau menjual hasil panenannya

WONOGIRI, WAWASANCO - Beberapa waktu lalu, petani Wonogiri hanya mengenal tanam singkong dan padi, sampai-sampai Wonogiri mendapat predikat kota gaplek. (gaplek, makanan yang berbahan baku singkong). Namun belakangan ini, yang mereka tanam sudah mulai beragam. Diantaranya tembakau.

‘’Saat awal menanam tembakau beberapa tahun lalu, banyak yang tidak berhasil karena belum tahu cara menanam, merawat dan menangani pasca panen. Namun setelah dilakukan berbagai pelatihan  yang dibiayai menggunakan  Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), sekarang sudah merasakan hasilnya,’’ kata Safuan, Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Wonogiri, didamping parno Kasi Perkebunan, Selasa (3/12).

Untuk tahun 2019 ini, imbuh Parno, DBHCHT digunakan untuk membiayai tiga kegiatan. Yakni pelatihan penilaian grade tembakau. ‘’Pelatihan ini ditujukan agar para petani mengetahui kualitas tembakau, sehingga paham jenis tembakau beserta nilai jualnya,’’ katanya.

Juga untuk membiayai pelatihan peningkatan kualitas bahan baku tembakau. ‘’ini dimaksudkan agar petani mengerti cara menanam tembakau yang benar, sehingga mampu menghasilkan tembakau yang baik. Dan pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM) petani tembakau.‘’

Tiga kegiatan tersebut dibiayai DBHCHT sebesar Rp 201.200.000.

Tembakau yang ditanam para petani di wialayh Eromoko nampak subur.Dengan adanya berbagai pelatihan yang dibiayai dari DBHCHT beberapa tahun berjalan, kini petani tembakau di Eromoko meraup untung milyaran rupiah  ‘’Di Eromoko ada 11 Desa yang lahannya ditanami tembakau. Dari jumlah itu, ada sembilan desa yang hasil penjualannya mencapai angka miliaran rupiah,  selama tahun 2019 ini, ’’ jelas Danang Erwanto, Camat Eromoko.

Panen Milyaran

Disebutkan, di Desa Baleharjo ada 433 orang petani tembakau yang menggarap lahan 249,04 ha. Dari lahan seluas itu menghasilkan tembakau kering  361.471 kg, dengan hasil penjualan Rp 9.360.361.752.

Di Desa Sumberharjo, Jumlah petani 334 orang, Luas lahan 206,47 ha,   menghasilkan 351.452 kg tembakau kering, laku dijual Rp 9.235.699.000. Di Desa Minggarharjo, jumlah  petani  380 org,  Luas lahan 219,9 ha, menghasilkan 336.071 kg tembakau kering, laku dijual Rp 8.588.177.000.

Desa Ngadirejo, jumlah petani  218 org, luas lahan 136,41 ha, menghasilkan tembakau kering 203.056 kg, seharga Rp 4.954.501.000.  Desa Tegalharjo jumlah petani  133 org, luas lahan   75 ha, menghasilkan tembakau kering  111.707 kg, dijual laku  Rp 3.249.257.000.  Desa Puloharjo jumlah  petani 142 org, luas lahan  84,17 ha, hasil panen 118.267 kg tembakau kering, dijual laku Rp 3.126.007.000

Desa Panekan, Jumlah petani  167 org, menanam tembakau 135,1 ha, menghasilkan  tembakau kering    18.282 Kg, seharga Rp 2.981.268.000. Desa Sindukarto Jumlah petani 137 org,    Luas lahan  64,46 ha, menghasilkan tembakau kering  74.240 Kg. Laku dijual  Rp 1.918.005.000. Desa Eromoko. Jumlah petani 50 org, luas lahan  30 ha, menhasilkan tembakau kering 39.019, laku dijual Rp 1.131.511.000.

‘’Dua desa ini yang hasilnya kurang dari satu milyar. Yakni Desa Ngunggahan, Jumlah petani  35 org, luas lahan   14,5 ha, hasil panen 9.751 Kg kering dijual laku Rp 292.540.000. Desa Pucung Jumlah petani  17 org,  Luas lahan 7 ha, hasil panen tembakau kering 5.500 Kg laku Rp 110.000.000,’’ kata Danang.

DBHCHT adalah dana yang diberikan kepada Pemerintah kepada daerah penghasil tembakau. Keberadaan dana ini merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas bahan baku tembakau, pembinaan industri tembakau, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan pemberantasan barang kena cukai ilegal (Pasal 66A UU Nomor 39 tahun 2007 ayat 1 )

 

Penulis : tpe
Editor   : jks