Kepala Desa Bentar Sari, Ruswa Abdul Mukti secara simbolis menerima penyerahan bantuan jembatan wakaf dari alumni SMA Negeri 1 Brebes tahun 1985. Foto. Eko Saputro
BREBES, WAWASANCO - Alumni SMA Negeri (SMAN) I Brebes tahun 1985 menggelar aksi peduli dengan membangun beberapa jembatan desa. Salah satunya, Jembatan Kampung Tumenggungan, Desa Langkap, Kecamatan Bumiayu.
Jembatan yang dibangun sejak tiga minggu lalu itu, sekarang sudah dinikmati warga perkampungan setempat.
Jembatan yang semula dari bambu sederhana berubah menjadi jembatan kokoh yang dapat dilalui mobil dan membuka akses ke beberapa dukuh di Desa Langkap.
Kepala Desa Langkap, Mustolih saat dihubungi, Rabu (4/12) atas nama warga mengucapkan terima kasih atas hibah tanpa syarat jembatan wakaf dari alumni SMA Negeri 1 Brebes.
"Prosesnya sangat cepat, sehingga dinamakan jembatan 'Sapa Nyana' yang berarti siapa sangka," ujar Mustolih.
Menurut Koordinator Berbagi Jembatan Wakaf SMAN 1 Brebes 1985, Agus Priyanto,, ternyata tim malah dapat membangun jembatan di empat desa sekaligus dalam waktu satu bulan.
"Ini bukan proyek Bandung Bondowoso yang dikerjakan semalaman, tapi hasil kerja keras dan ketulusan dukungan warga," kata Agus.
Agus mengemukakan, hibah jembatan wakaf menjadi alternatif dan solusi membangun jembatan selain dari dana desa dan partisipasi warga.
"Alumni SMA Negeri 1 Brebes tahun 1985 terpanggil berkontribusi dalam membangun jembatan wakaf. Selain itu, program kepedulian sosial lainnya juga digelar, seperti donasi air bersih di wilayah yang kekeringan di Brebes dan berbagi 10 ribu bibit mangrove dan bibit buah," terang Agus.
Agus menjelaskan, dana pembangunan jembatan murni dari empat alumni SMA Negeri 1 Brebes.
"Penanggung jawab survei, pengerjaan, dan pengawasan proyek oleh alumni," kata Agus.
Dijelaskan, dari dana wakaf sekitar Rp 115 juta, digunakan untuk membangun jembatan di Desa Langkap, jembatan di Desa Bentar Sari, dan perbaikan jalan di Wanasari. Namun, jumlah jembatan yang dibangun malah "beranak' di Desa Tambak Serang, dan Desa Pasir Panjang.
Agus mengemukakan, lokasi jembatan di Bentar Sari, Kecamatan Salem, menghubungkan antarkampung melewati sawah. Masih di Salem, jembatan di Pasir Panjang berlokasi dekat longsor Bukit Lio tahun 2018. Sementara lokasi di Tambak Serang, Kecamatan Bantarkawung terletak enam kilometer dari jalan besar melewati medan berat.
Agus menekankan, spirit program ini dapat menjadi ladang amal bagi yang berwakaf dan menjadi contoh bagi yang lain untuk menebar kebaikan dengan membangun jembatan. Bahkan, warga desa di tempat lain terinspirasi ingin membangun jembatan wakaf.
Sementara, Pelaksana Program Jembatan Wakaf, A Badarussamsi menerangkan, percepatan pembangunan jembatan dengan hasil fisik kokoh karena pendekatan dengan pejabat desa yang non birokratis, efisiensi dana, dan dukungan partisipasi warga. Dalam pembangunan jembatan di Tambak Serang, pasukan mak-mak malah ikut terjun bergotong royong membangun jembatan.
"Warga ikut guyub memiliki jembatan. Semuanya berjalan lancar, seperti ada yang menuntun," tukas Badar.
Dia menambahkan, dengan partisipasi warga dalam bentuk tenaga dan material, dana pembangunan bisa dipangkas. Bahkan, dari dana yang ada, masih cukup untuk memperbaiki dan membangun empat jembatan di Purwatan, Bumiayu yang sekarang sedang dituntaskan.
Kepala Desa Bentar Sari, Ruswa Abdul Mukti mengakui manfaat besar jembatan wakaf yang menghubungkan Kampung Mancagar ke Pabelokan. Jembatan lama terbuat dari bambu di atas sungai yang cukup dalam.
"Ini jembatan pintas yang biasa dipakai warga pergi ke sawah, sekolah, dan pasar," pungkas Ruswa.
Kepala Desa Bentar Sari, Ruswa Abdul Mukti secara simbolis menerima penyerahan jembatan wakaf bantuan dari alumni SMA Negeri 1 Brebes tahun 1985. Foto. Eko Saputro
Penulis : ero
Editor : edt