Anak Tukang Jamu Jadi Dokter Lulusan UMP


Nila Munaya, gadis kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 10 Maret 1995, menyelesaikan S1 Pendidikan Dokter di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Banyumas. (Foto :Dok)

PURWOKERTO, WAWASANCO- Mimpi Nila Munaya, gadis kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 10 Maret 1995, menjadi dokter akhirnya terwujud. Nila menyelesaikan S1 Pendidikan Dokter di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, tahun 2017 pada 23 september 2019 lalu.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang Profesi Dokter (koas) di Rumah Sakit jejaring dan utama (1 tahun di RS dr.Soeselo Slawi, selanjutnya ke Puskesmas di Kab.Banyumas, yaitu Puskesmas Jatilawang, RSUD Salatiga, dan B2P2TOOT Tawangmangu utk stase herbal. Setelah melewati perjuangan panjang, Nila akhirnya melaksanakan sumpah dokter, Senin (13/1)

Namun, di balik capaian itu, Nila anak dari pasangan keluarga Sofwan Moh Ishom dan Nur Aeni ini harus melalui perjuangan berat untuk menggapai cita-citanya. Tujuannya satu, anak sulung dari dua bersaudara ini ingin mengangkat derajat kedua orangtuanya.

Nila terlahir dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya bekerja sebagai penjual jamu, sedangkan ibunya sebagai guru, mengabdi sebagai guru honorer 10 tahun yang diangkat menjadi ASN tahun 2006 lalu.

Meski demikian, profesi orangtuanya tidak membuat Nila berkecil hati. "Saya dari kecil ketika ditanya mau jadi apa? Saya jawab ingin menjadi dokter. Meskipun awalnya orangtua ragu dan khawatir tidak mampu membiayai kuliah saya. Tapi berkat dukungan dari semua pihak, kami percaya Allah akan memberikan rezeki dan memberi pertolonganNya, sehingga Insya Allah bisa menjalani semuanya sampai akhir," kata Nila.

Nila sempat patah semangat, saat usianya masih duduk di Sekolah Dasar. Saat berdialog dengan guru pembimbing yang menginspirasinya. “Saking sayangnya beliau (guru pembimbing) bilang kepada teman gurunya bahwa, kasihan ya, orang tuanya mungkin tidak bisa menyekolahkan untuk menjadi dokter. Tapi dari keluarga saya memang hanya memiliki keinginan dan tekad yang kuat modal bismillah untuk memiliki harapan salah satu dari keluarga kami ada yang di bidang kesehatan, khususnya menjadi dokter,” urai Nila.

Orangtua Nila  saat itu tidak punya pilihan lain selain niat dan tekad yang kuat untuk menguliahkan anaknya menjadi seorang dokter. “Nila sejak kecil sudah memiliki cita-cita menjadi dokter. Dan waktu itu saya bilang, untuk menjadi dokter itu uangnya harus banyak. Dan itu uangnya darimana? Namun keluarga semua mengatakan yang penting punya niat dan cita-cita yang kuat,” tutur Nur Aeni.

FK UMP  melantik 20 dokter baru, terdiri dari 14 dokter wanita dan 6 dokter pria, dalam Sumpah Dokter FK UMP di Aston Hote Purwokerto, Senin (13/1)

Dekan Fakultas Kedokteran UMP dr Mamboyanto mengatakan sumpah dokter ini merupakan tonggak sejarah bagi FK UMP dengan lulusan perdana bisa mencapai 87%. “Semuanya itu karena kerjasama komponen dari para dosen, karyawan, komite orangtua dan dukungan rektor beserta civitas akademika,” katanya.



Dijelaskan, berdrinya FK  UMP sangat berat dan unik karena pada waktu itu dalam keadaan moratorium sehingga ada lima calon FK baru, hanya FK UMP yang lolos diberikan ujian dengan nilai 90 lebih sehingga izin oprasionalnya diserahkan secara pribadi oleh dirjen kala itu.

“Ini tidak terlepas perjuangan dari segenap civitas dan komponen yang mendukung dengan berdirinya FK UMP maka komandonya adalah kualitas dengan standar input proses output, dan terbukti dengan lulusan ini ada yang memiliki nilai diatas 80. Sehingga nantinya akan diberikan penghargaan dari komite orangtua mahasiswa medika dan satu-satunya yang dalam pembimbingan dan uji kompetensi mahasiswa profesi pendidikan dokter gratis semua,” jelasnya.

Mambo berpesan agar nantinya setelah sumpah dokter, kemudian internship, baru bisa praktik mandiri. “Jagalah nama baik almamater kalian. Karena ini adalah perjuangan awal kedepan untuk menyesuaikan diri,” jelasnya.

Sementara itu Rektor UMP Dr Anjar Nugroho berbagga dan berbahagia bisa menyaksikan sumpah dokter. Karena untuk menuju pelantikan dan sumpah dokter tersebut harus melalui proses yang panjang.

“Untuk bisa masuk di Fakultas Kedokteran saja dibutuhkan seleksi yang ketat. Tidak setiap orang bisa masuk kesini. Itu sudah harus melalui proses yang sangat berat sekali,” katanya.

Rektor mengungkapkan bahwa untuk sampai disumpah dokter itu yang paling berjasa adalah orang tua. “Bahwa kami mengantarkan menjadi dokter itu bukanlah yang utama. Yang utama justru adalah orangtua kalian. Merekalah orang yang paling penting yang menyebabkan para mahasiswa ini menjadi dokter,” pungkasnya.

 

 

 

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt