Rintang Bramantya: Cinta Keluarga dan Inspirasi Mertua (1)


Rintang Bramantya dan Marya Ulfa

MEMILIKI sebuah keluarga yang sakinah adalah dambaan setiap orang.  Demikian juga Rintang Bramantyo, wiraswasta muda yang mengaku selalu  'jatuh cinta' pada dunia otomotif. Baginya keluarga merupakan kehidupan sesungguhnya sebelum bersinggungan dalam masyarakat.

Karena memandang keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka dia sangat tahu benar bagaimana menerapkan seni membangun biduk rumah tangganya seharmonis mungkin. Rintang menabur benih kasih sayang dalam sebuah komunikasi yang cair, riang dan nyaman. Dia ingin anak-anaknya kelak, menjadi pribadi yang berbudi luhur dan generasi Qurani.

''Saya ingin mendirikan madrasah cinta dalam keluarga. Penuh kehangatan, demokrasi, saling mengisi dan melengkapi. Suasana saling asah, asih dan asuh dalam rumah harus tercipta,'' kata owner BB Mobilindo, galeri mobil di Perumahan Beranda Bali BSB Semarang, saat ditemui beberapa waktu lalu.

‘’Di rumah kami, nyaris tak ada bentak dan teriak. Semua berjalan dengan kesepahaman untuk saling membahagiakan. Riang gembiara aja, suasananya.’’

Rintang mengakui, Allah SWT memberi umatnya dengan kelebihan dan kekurangan. Bersama sang istri tercinta, Marya Ulfah,  dia harus bijak dalam mendidik kedua anaknya, Zaki yang duduk di bangku SMA dan putrinya Azra yang masih SD.

Menurut dia, hal penting dalam mendidik anak adalah spirit kejujuran, rajin ibadah, keterbukaan, dan komunikasi. Karakter itulah yang mampu membentuk pribadi seseorang menjadi mulia. Dia selalu ingat petuah kedua orang tuanya, H Saryanto dan Hj Mulyati agar dalam membangun istana keluarga dengan landasan iman dan takwa serta saling asih.

''Saat makan bersama, kami terbiasa berdiskusi dengan anak-anak,  untuk mendengar keinginan mereka seperti apa. Soal cita-citanya, harapannya ke depan, dan kebutuhan mereka. Alhamdulillah, mereka adalah anak yang menyenangkan, patuh dan hormat dengan orangtua. Mereka sudah bisa membedakan antara mana itu keinginan dan kebutuhan,'' kata pria yang pernah bekerja di pertambangan batubara di Kalimantan itu.

 

Wejangan Sang Mertua

Rintang merasa beruntung memiliki Marya Ulfah, istri yang selalu memberikan support dan pengertian dalam karier dan kehidupan bermasyarakat. Apalagi, ayah Marya sekaligus mertuanya, H Sumadi (alm) begitu mengharapkannya untuk menjadi menantu yang berbakti dan taat kepada ajaran agama.

Bagi kalangan masyarakat Kaliwungu dan Sukerejo sekitarnya, Kendal, Sumadi adalah sosok yang tak asing. Dia tokoh masyarakat terpandang karena amaliyahnya. Dia suka membantu, menyisihkan rezekinya untuk pembangunan masjid. Hidupnya selalu berada di jalan Allah.

Di kalangan para sopir angkot Jurusan Kendal-Kaliwungu, nama toko obat miliknya yaitu  ‘’Budi Jaya’’  sering menjadi ‘tetenger’ saat menurunkan penumpang.

‘’Bapak pribadi sederhana. Sebagai menantu, saya merasa salut. Pertama karena keuletannya. Hidup Bapak dimulai dari nol, dari jualan rokok, punya kios di belakang bioskop hingga sekarang punya toko obat Budi Jaya. Perjalanan Bapak yang hanya sekolah SD,  penuh dengan pergulatan dan anugerah. Faktor kedua yang membuka mata saya, tentu saja amal ibadahnya yang nyaris tak putus,’’ kenang Rintang.

Ada hal yang membekas dalam sanubarinya tentang sosok Sumadi.  Yaitu semangat menolong yang tanpa pamrih, penuh keikhlasan. Di matanya, sang mertua adalah figur yang memiliki rasa sosial tinggi, suka bersedekah dan berzakat.

Jejak rekam sang mertua, sangat menginspirasi dalam laku hidupnya. Dia termovitasi untuk meneruskan langkahnya. ‘’Semangat membantu untuk hal-hal yang baik inilah yang saya tiru. Dengan menolong, akan dibuka semua jalan kebaikan kepada kita, baik itu rezeki dan nikmat-nikmat yang lain,’’ katanya menyitir wejangan sang mertua.

 

 

Penulis : wis
Editor   : edt