Rintang Bramantya: Psikologi Pantai & Kuasa Silaturahmi (2)


Rintang bersama si ragil Farah Azra Bramantya

SESUAI  nasihat mertua alm H Sumadi, Rintang menjadikan silaturahmi jadi hal yang utama dalam kehidupannya. Dia terbiasa untuk ‘’kumpul’’ dengan banyak kalangan, lintas strata dan lingkup kepercayaan. Bagi Rintang, tak ada yang lebih nikmat selain memintal dan mempertebal pertemanan dan pergaulan.

‘’Bapak pernah berpesan, perbanyak saudara, persering kumpul, sowan, terutama kepada para sesepuh, alim ulama. Kata Bapak, merekalah guru kehidupan yang sebenarnya,’’ kenang Rintang.

Rintang kemudian menyadari, betapa betulnya nasihat itu. Dengan silaturahmi, dia jadi belajar memahami orang lain, dan dalam waktu yang sama, juga memahami diri sendiri. Dengan sowan ke ulama dan para guru, dia menemukan banyak jawaban kehidupan, justru dari percakapan-percakapan ringan.

‘’Tiba-tiba, saat ngobrol, cling! gitu, semacam ada pijar di kepala saya. Inspirasi, gitu ya? Padahal itu dari dialog ringan dengan kiai, tapi justru menjawab semua hal yang selama ini jadi kegelisahan saya. Itulah sebabnya, saya ringan saja untuk sowan. Dan ini rahasia silaturahmi, makin sering dilakukan, makin kita ketagihan, seperti selalu punya energi,’’ katanya, bersemangat.

Bacawabup Kendal dari PDIP ini juga menuturkan, dalam pergaulannya dengan banyak kalangan, dia menemukan rumusan yang paling ideal, yakni membesarkan prasangka baik. ‘’Dengan baik sangka, kita akan enteng dan riang menerima siapa, dan datang ke siapa saja. Dengan baik sangka, kita tidak bicara kepentingan-kepentingan, tapi persaudaraan.’’

Dengan prinsip itu, Rintang sukses ketika bekerja di perusahaan tambang di Sumatra dan Kalimantan. Dia mampu ‘’mempertemukan’’ perusahaan dan masyarakat dalam kesamaan kebutuhan. Dia menjadi jembatan untuk membenihkan kepercayaan bahwa semua hal bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik, terarah, dan target solusi.

‘’Ketika itulah, saya tanpa sadar memahami psikologi pantai...” ungkapnya.

Psikologi pantai? Apa itu? Rintang menjelaskan, bahwa ketika seseorang memosisikan diri sebagai pantai, dia akan dapat menerima apapun dengan ringan, dan menjadi saluran atau jembatan dari banyak kepentingan.

‘’Di pantai, siapapun datang. Yang senang, ke pantai. Yang susah, ke pantai. Di pantai, banyak kepentingan datang, bertemu, dan berdialog sendiri. Pantai tidak memberikan jawaban langsung, tapi dia menampung, membiarkan, memerdekakan pengunjung. Dan, tiba-tiba, solusi datang sendiri, kan?’’ jelasnya, panjang.

Dengan ‘’menjadi’’ pantai, Rintang membiarkan banyak kemungkinan lahir dari pertemuan dan dialog. Dia percaya, setiap orang pada dasarnya selalu ingin berbuat baik. Dan harus ada orang yang siap menjadi pemulung dan fasilitator dari niat baik orang-orang itu. Rintang mencoba menjadi inisiator dari hal itu.

Penulis : wishnu ajie
Editor   : edt