Kerangka Manusia Korban Longsor Salem Ditemukan


Petugas menunjukkan kerangka.manusia yang diduga salah satu korban tanah longsor Salem yang terjadi pada 2018 lalu. Foto. Eko Saputro

BREBES, WAWASANCO – Seorang petani Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes,  Wahyudin (80), saat sedang menggarap lahan sawahnya menemukan potongan kerangka manusia yang diduga kuat merupakan korban longsor yang terjadi pada 2018 lalu.

Danramil 13 Salem Kodim 0713 Brebes melalui anggotanya,  Pelda Jahri, saat dihubungi Kamis (13/2) mengatakan,  Wahyudin,  petani asal RT 03 RW 04 ini,  menemukan kerangka manusia saat membuat petak-petak sawah pada Rabu (12/2) pagi.

“Lokasi penemuan berada di jalur luncuran longsor 22 Februari 2018 silam, di Blok Simpur 2, Dusun Pasir Panjang Barat, Desa Pasirpanjang, tepatnya di sawah milik Mbah Wahyudin,” lanjutnya.

Jahri menambahkan, cangkul Wahyudin awalnya membentur benda keras. Karena penasaran akhirnya dia melakukan penggalian dan menemukan potongan tulang. Wahyudin akhirnya melanjutkan penggalian dan mengumpulkan potongan-potongan tulang lainnya, dan selanjutnya segera memberitahukan penemuan kepada perangkat desa.

“Mendapatkan laporan dari perangkat desa, anggota kami bersama Bhabinkamtibmas, Komunitas Bangbara, Banser dan Satpol PP Kecamatan Salem, segera meluncur ke lokasi penemuan dan mengevakuasinya ke Puskesmas Bentar, Salem,” tandasnya.

Menurut Jahri juga, penemuan kerangka manusia ini adalah yang kedua kalinya, setelah sebelumnya pada akhir tahun lalu (2/12), dua orang petani setempat yaitu Abidin (57) dan Ahya Wisona (72), menemukan potongan tulang yang meliputi tulang kaki, jari-jari kaki dan tangan, tulang belakang, tulang panggul serta tulang dahi, saat sedang menggali saluran air untuk memupuk tanaman kacang tanah.

“Penemuan yang dulu berada di areal persawahan yang juga merupakan bekas lokasi luncuran longsor,” jelasnya.

Kepala Puskesmas Bentar, dr  Edi Harsono, menuturkan,  untuk sementara pihaknya belum dapat mengidentifikasi penemuan kerangka tulang manusia yang kali ini meliputi ruas tulang kaki, jari-jari kaki dan tangan, tulang panggul, serta serpihan-serpihan lainnya.

Lebih jauh Jahri mengemukakan, keempat keluarga korban yang jenazah anggota keluarganya belum ditemukan hingga saat ini, menyatakan tidak mau untuk melakukan tes DNA, dan sepakat memilih untuk memakamkan kerangka tersebut seperti penemuan kerangka sebelumnya.   

"Hari ini pencarian lebih luas akan dilanjutkan kembali oleh para relawan/unsur gabungan bersama keluarga korban," tukas Jahri

Jahri menuturkan, longsor nasional yang terjadi tahun lalu di kawasan Pegunungan Lio, hutan produksi milik Perhutani BKPH Salem petak 26, RPH Babakan, KPH Pekalongan Barat, wilayah Desa Pasir Panjang tersebut, telah merenggut 18 korban jiwa. 14 jenazah/potongan tubuh telah ditemukan dan teridentifikasi, sedangkan 4 lainnya belum ditemukan.

Dia mengemukakan, aterial longsor menutup areal seluas kurang lebih 16,8 hektar (kurang lebih 1,5 juta meter kubik), dengan kedalaman bervariasi dari 5-20 meter. Longsor juga memutus Jalan Raya Provinsi Banjarharjo-Salem sepanjang kurang lebih sepanjang 520 meter.

Jahri menrangkqn, sejak November 2018 lalu, ribuan bibit pohon keras (trembesi, durian, rambutan, pete, jambu, pinus dan alpukat) telah ditanam di sekitar lokasi longsor, termasuk penanaman 3 ribu  bibit pohon trembesi di petak 7 d areal yang merupakan mahkota longsor Gunung Lio.

"Upaya ini sebagai upaya mitigasi untuk meminimalisir dampak longsor tersebut sehingga tidak terjadi longsor di kemudian hari, tentunya selain pohon produksi yang ditanam itu nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan," pungkas Jahri.

 


 

Penulis : ero
Editor   : edt