Terkait Kesehatan Pekerja Tol, Warga Dua Desa Resah


Dua Kepala Desa, bersama Forkopincam Pabelan serta tim Puskemas Pabelan saat mendatangi proyek rest area KM 456 tersebut, Kamis (26/3). Foto : Ernawaty

UNGARAN, WAWASANCO- Dua pekan terakhir sejak merebaknya Virus Corona/ Covid-19 saat ini, membuat warga dua desa di wilayah Kecamatan Pabelan, yakni Desa Ujung-ujung dan Desa Tembelangan, resah. 

Hal ini dikarenakan para pekerja proyek rest area tol Bawen-Salatiga KM 456 kedapatan 'berkeliaran' di pemukiman warga.

Bahkan dari ratusan yang menetap  sementara, ada pula memanfaatkan indekos di belasan rumah warga tanpa memberikan keterangan identitas diri atau pun kesehatan dari pihak berwenang.

Hal ini dibenarkan Kepala Desa Ujung-ujung Samroni kepada Wawasan, Kamis (26/3).

Ditengah mengunjungi lokasi proyek bersama Forkopincam Pabelan serta tim Puskemas Pabelan, kedatangan perangkat desa Ujung-ujung dan Tembelangan meminta kejelasan terkait kesehatan serta asal usul pekerjaan proyek rest area KM 456 tersebut.

"Kami datang untuk meminta kejelasan. Karena kami banyak mendapatkan aduan dari warga masyarakat yang resa setelah mengetahui para pekerja proyek tol rest area KM 456 'berkeliaran' di pemukiman mereka," ungkap Samroni.

Warga di dua desa ini kuatir para pekerja yang belum jelas asal usulnya tersebut, berasal dari daerah pendemi Covid-19 dan membawanya ke pemukiman mereka.

Mengingat saat ini, adanya himbauan dari Pemerintah Pusat hingga daerah untuk memperhatikan dan mencatat pendatang khususnya dari daerah pandemi Covid-19 di Indonesia.

Keresahan warga lainnya, mempertanyakan mengapa disaat sekolah, sejumlah instansi pemerintah libur dan swasta merumahkan karyawannya justru para pekerja proyek rest area tol Bawen-Salatiga KM 456 ini tetap bekerja.

"Proyek harusnya diliburkan sejalan dengan kegiatan pendidikan seperti himbauan pemerintah. Kalau tidak ada wabah Covid-19, warga kami juga tidak masalah," imbuhnya.

Sebagai informasi, rumah warga yang digunakan sebagai transit sementara para pekerja pendatang ini mencapai belasan.

"Intinya kita ingin para pekerja ini tidur di rest area saja, buatkan mess sendiri jangan keluar masuk pemukiman warga. Kita tahu ini proyek pemerintah tapi kan himbauan Covid-19 juga yang buat pemerintah pusat," tegasnya.

Dalam pertemuan dengan pihak pelaksana proyek (Pimpro) rest area tol Bawen-Salatiga KM 456, dimediatori Camat Pabelan yang mendapatkan amanah dari Sekda Kabupaten Semarang sebagia Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di wilayah Kabupaten Semarang.

*Menerapkan
Menanggapi keresahan itu, Projek Manager dari PT Astari Marga Sarana Ahmad Nuryadin kepada wartawan mengatakan sejalan dengan merebaknya Covid-19 saat ini pihaknya telah menerapkan keselamatan dan kesehatan pekerja proyek rest area tol Bawen-Salatiga KM 456.

Ia menjelaskan, protokoler Kementerian PU sejauh telah dijalankan dengan membentuk Satgas K3, edukasi yang dilakukan tiap pagi, pengarahan keselamatan bekerja dan di tambah penanganan khususnya ditengah merebaknya Covid-19 di rest area 456.

Total jumlah tenaga yang dipekerjakan di proyek rest area tol Bawen-Salatiga KM 456 kurang lebih 430-an orang.

"Bukan hanya diproyek, tapi di mes pun kita terapkan hal serupa. Namun memang kita ada keterbatasan dengan alat pengukur suhu. Jadi tiap pagi kita akan cek kesehatan pekerja, juga suhu badan pekerja. Diatas 37 derajat kita pulangkan. Dibawa itu silakan bekerja," papar Ahmad Nuryadin.

Terkait pekerja yang menyebar di lingkungan sehingga merasakan warga, bersama Satgas K3 akan lebih diefektifkan keberadaan pekerja.

"Kalau ditarik ke dalam semuanya, kita akan lihat terlebih dahulu karena kondisi kapasitas kurang. Tapi akan kami petakan menurut waktu kerja mengingat waktu pekerjaan saat ini tinggal tiga Minggu saja," pungkasnya.

Penulis : ern
Editor   : jks