SEMARANG, WAWASANCO – Ditengah pandemi covid-19, sektor ekonomi turut terimbas. Laksana pukulan telak dari petinju kelas berat, berbagai usaha ikut terhantam. Mulai dari perhotelan, jasa, event organizer, UMKM, hingga pedagang di pasar-pasar tradisional.
"Pelaku UMKM di Jawa Tengah, harus bisa berkresi dalam menghadapi pandemi covid-19. Umumnya keluhan yang disampaikan, selama pandemi ini, jarang ada pembeli yang mau datang ke tempat usaha. Persoalan ini, bisa diatasi dengan memanfaatkan teknologi informasi, salah satunya melalui penjualan online," papar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati di Semarang, Kamis (16/4).
Dipaparkan, banyak platfom yang ditawarkan penyedia market online yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku UMKM. "Jika kesulitan, bisa juga menggunakan media sosial. Ada banyak pilihan media sosial, yang bisa dimanfaatkan," terangnya.
Ema menandaskan, ada banyak kemudahan yang bisa didapat dari penjualan secara online. Selain jangkauan lebih luas, komunikasi juga bisa dilakukan saat itu juga, layaknya saat berjualan langsung tatap muka dengan konsumen.
"Kita dorong UMKM agar jeli memanfaatkan penjualan secara online, untuk meningkatkan pendapatan mereka di tengan pendemik covid-19. Hal ini karena banyak masyarakat saat ini beralih ke market place, seiring dengan himbauan pemerintah untuk melakukan social distancing," tandasnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Priyo suyono. Pihaknya mencatat, saat ini traffic untuk market place mengalami peningkatan antara 20-30 persen, sejak pandemik covid-19 melanda Indonesia. Beberapa yang meningkat diantaranya training online, learning online dan shoping online.
“Dengan peningkatan traffic, ini waktunya teman – teman UMKM untuk mengupdate kembali barang – barangnya yang selama ini hanya menjadi stock,”ungkapnya
Menurut Priyo, saat ini UMKM memasuki masa dimana mereka harus bertahan di tengah lesunya ekonomi akibat pandemic virus corona. Namun demikian masih terdapat kesempatan untuk mengembangkan usaha mereka melalui marketing digital atau secara online.
“Saat ini memang teman-teman UMKM harus bisa bertahan. Untuk itu, harus bisa memanfaatkan digital marketing untuk meningkatkan penjualan mereka,”ujar Priyo.
Diterangkan, perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat impresif. Laporan East Ventures Digital Competitiveness Index (EVDCI) menyebutkan bahwa Nilai pasar ekonomi digital Indonesia telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan diproyeksikan mencapai US$133 miliiar pada 2025.
Laporan EV-DCI menunjukkan bahwa ekonomi digital yang saat ini tumbuh pesat, hanyalah sebagian kecil dari potensi Indonesia. Namun pertumbuhan bakal makin melesat jika Indonesia bisa menanggulangi beberapa kendala yang dihadapi, seperti keterbatasan talenta digital, pelaku usaha yang enggan menggunakan produk digital, hingga akses atas layanan finansial yang rendah.
Dari data yang disajikan oleh EVDCI, para pemangku kepentingan dan sektor publik dan sektor swasta, bisa saling membandingkan tingkat pemanfaatan teknologi digital di wilayah masing-masing.
"Bagi para pemain besar di industri teknologi Indonesia, EV-DCI bisa menjadi panduan untuk melangkah lebih jauh dari kota-kota besar ke seluruh pelosok Tanah Air, untuk membantu lebih banyak bangsa Indonesia menikmati manfaat perekonomian digital. Untuk mereka yang akan atau baru merintis bisnis, EV-DCI adalah sebuah peta peluang,"tambahya lagi.
Dicontohkan, bagi pemimpin di tiap daerah, dengan memanfaatkan indeks tersebut dapat semakin terpacu, untuk berlomba menciptakan ekosistem yang terbaik bagi perkembangan ekonomi digital, baik lewat pembangunan infrastruktur, pengembangan talenta, maupun regulasi yang tepat.
"Perlu peran dan kerjasama antar sektor, termasuk dar pemerintah daerah dalam pemanfaatan ekonomi digital ini. Termasuk, UMKM juga harus mempersiapkan diri untuk menjalankan bisnis jika pandemik corona berakhir. Dengan demikian mereka dapat langsung mengembangkan bisnis mereka, tanpa harus menunggu waktu untuk perbaikan ekonomi global," tandasnya.
Penulis : arr
Editor : edt