Dari Usaha WO Beralih ke Kuliner Rumahan

  • Dampak Pandemi Covid-19

Rya bersama salah satu usaha baru rumahan Risoles Ayam Mercon di bilangan Tingkir, Salatiga, Senin (4/5). Foto : Ernawaty

SALATIGA, WAWASANCO- Pandemi Covid-19, membuat nyaris semua lini usaha tutup hingga gulung tikar. Tak terkecuali, jasa Wedding Organizer (WO) serta Photobooth.

Sejak adanya larangan menggelar hajatan yang dapat mengumpulkan massa imbas dari  pandemi Covid-19, banyak WO dan Fotobooth yang tutup.

Kisah Rya Eka W dan Unggul Cahyo Laksono, asal Perum Taman Mutiara, Gg Blue Safir 23, Kelurahan Tingkir Tengah, Kacamata Tingkir, Salatiga patut menjadi inspiratif.
Kepada Wawasan, Rya mengisahkan bersama suami, sempat mengurusi WE 'HEMAS WO' lengkap dengan layanan
Photobooth dengan nama 'ElletraPhotobooth' dari tahun 2015-an.

"Dalam kondisi Covid-19 saat ini terpaksa kami menutup WO dan Fotobooth. Sebelum Corona, satu momen bersih dapat Rp 3-4 juta. Tapi sejak pemerintahan mengeluarkan tidak boleh mengggelar hajatan praktis kondisi ekonomi ikut terpukul, karena WO dan Fotobooth tutup total," ungkap Rya Eka W kepada wartawan, Senin (4/5).

Keduanya harus banting stir menanggalkan keahlian mereka dalam mengurusi pernikahan orang lain.

Karena dapur harus tetap ngebul, Rya tak menyerah. Ibu muda dari Maximilian Beryl dan Kyla Nasya coba putar otak dengan membuat jajanan berbuka puasa secara on-line.

Keahliannya dalam memasak modal yang diajarkan sang ibunda, membuat Rya mencoba bisnis kuliner rumahan.

Diuntungkan dengan momen Ramadan saat ini, Rya mampu membuat dapurnya kembali 'bernafas'

Dengan kuliner yang ia beri label 'Nyemil Food', Rya membuat jenis cemilan yang tak biasa. Unik dan menarik, menjadi pilihannya. Yakni menjual risoles isi ayam mercon.

"Risoles ini barang sepele. Tapi karena isi yang beda, harga juga terjangkau banyak yang berminat. Dan Alhamdulillah, dalam seminggu cukup membantu dapur tetap 'ngebul' dan optimis ditengah kondisi seperti saat ini," ujarnya.

Masih dalam kemasan 'home industri', Rya menjual secara on-line dengan harga terjangkau. .

Satu pis seharga Rp 2.500, Rya menjual dalam bentuk pak-pakan dengan wadah mika berisi 12 pis dan dijual dengan harga Rp 12.500.
"Hasilnya, sehari bisa terjual 20-25 pak," imbuhnya.

Sebagai upaya tetap mengedepankan SOP Covid-19, Rya dan suami menyediakan layanan antar langsung ke pemesan. Tidak hanya di Salatiga. Jangkauan risoles Rya, telah mencakup wilayah Ambarawa dan Ungaran sekitarnya.

Ia pun berbagi tugas dengan suami dalam mengantar pesanan.
Grop WhatsApp, berbagai medsos dimiliki keduanya, menjadi sasaran suami istrinya ini dalam memasarkan menu berbuka puasa khas lida Nusantara tersebut.

Rya berharap, langkahnya inspiratifnya ini bisa menjadi motivasi bagi pemilik usaha yang tutup imbas dari pandemi Covid-19.

"Setelah sedikit mapan dan Covid-19 mereda, saya berencana, membuka gerai kecil-kecilan dan risoles secara menetap," pungkasnya.

Penulis : ern
Editor   : jks