Olimpiade Dolanan Anak, Kenalkan Budaya Tradisional


Sekretaris Daerah Kabupaten Jepara, Ir. Sholih berkesempatan bermain dakon (dolanan tradisional), saat hadir dalam pembukaan Olimpiade Dolanan Anak di Desa Kecapi, Tahunan, Jepara, Jum’at (20/10) lalu. Foto : Budi Santoso.

JEPARA– Olimpiade Dolanan Anak (ODOLAN) selama tiga hari dihelat di Desa Kecapi, Tahunan, Jepara. Kegiatan ini merupakan yang ke-5 kalinya dilaksanakan, sebagai sebuah upaya mengenalkan dan melestarikan budaya tradisi Indonesia. Tahun ini, ODOLAN dilaksanakan dengan beberapa kegiatan tambahan yang sangat menarik. Selama tiga hari (Jum’at, 20 Oktober – Minggu, 22 Oktober), kegiatan ini menarik perhatian banyak pihak.

ODOLAN adalah upaya yang diprakarsai Rumah Belajar Ilalang (RBI) Jepara, untuk mengenalkan dolanan anak masa lampau. Upaya ini diharapkan bisa membuat anak-anak Jepara pada khususnya dan secara luas, untuk bisa mengetahui tradisi budaya mereka. Sekaligus tidak tergantung pada games modern yang kurang edukatif dan bersifat pasif.

Den Hassan, Penggagas RBI Jepara sekaligus Ketua Panitia, menyatakan, tahun ini ODOLAN 2017 mengambil tema “Alam Raya Sekolahku, Semua Orang Itu Guru”. Berbagai macam kegiatan, juga digelar untuk lebih memberi warna dan pengalaman baru bagi peserta. Diantaranya ada Turnamen Gobag Sodor, Diskusi Komunitas, Jazz Lumpur, Bazar Komunitas, Swakarya, Bazar Kuliner, Gojek Bocah, dan Kandang Dolanan. Selain itu masih ada kegiatan workshop untuk anak-anak, di antaranya mendongeng, membatik, tindes art, financial literasi kids.

Selama tiga hari, kegiatan ini  selain menggandeng komunitas seni yang ada di Jepara, juga melibatkan beberapa komunitas serta relawan yang telah bergabung dari berbagai daerah seperti Jember, Surabaya, Jombang, Madiun, Jogjakarta, Semarang, dan Kudus. Moment ini menjadi kesempatan bagi ratusan anak-anak PAUD/TK bersama gurunya menjajal permainan anak tradisional yang telah disediakan oleh panitia ODOLAN.

“Tidak hanya anak kecil, para guru dan orang tua pendamping pun ikut mencoba dolanan anak tradisional. Seakan mengingatkan permainan masa kecilnya dulu sambil mengajari anaknya,” ujar Hassan, Minggu (22/10).

Dalam kesempatan yang sama, Sekda Jepara Ir. Sholih menyatakan, dolanan anak tradisional memang harus bisa terus diajarkan ke anak-anak. Jangan sampai permainan tradisional itu punah karena tidak ada upaya regenerasi dari orang tuanya. Pada saat ini permainan tradisional perlu dilestarikan, dan dikenalkan kepada anak-anak. Sehingga permainan anak tradisional tidak kalah bersaing dengan mainan modern.

Melalui kegiatan ini, bisa dikenalkan kembali budaya permainan daerah kepada anak cucu. Sehingga permainan dan budaya tersebut dapat dilestarikan hingga masa yang akan datang. Anak-anak harus mengetahui sesuatu yang luhur mengenai tradisi budaya bangsanya. Mereka harus bangga dengan apa yang dimiliki bangsanya sendiri.

“Jangan biarkan anak-anak kita terlalu bergantung dengan game-game dari gadget yang pasif, dan dapat mengganggu kesehatan mata," ujar Sholih. 

 

 

 

Penulis :
Editor   :