Wakil Ketua Bidang Ekonomi Syariah Zakiah Joban dan Wakil Ketua Bidang UKM Naneth Ekopriyono saat mempresentasikan beberapa produk lokal Semarang kepada pengusaha muslim Malaysian yang tergabung dalam Mubin akhir pekan lalu. Foto: Nurul Wakhid
SEMARANG – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Semarang siap menjalin kerjasama informasi dan akses jaringan untuk pengembangan bisnis dengan Mubin (Moslem Business Network Association of Malaysia). Hal itu disampaikan Ketua Kadin Kota Semarang Arnaz Agung Andrarasmara kepada Wawasan.co di Semarang, Senin (23/10).
Menurutnya, pertemuan pihaknya ini akan membuka kerjasama dua belah pihak antara pengusaha Semarang denga Malaysia. “Ada sekitar 30 pengusaha Malaysia yang tertarik menjalin hubungan bisnis dengan kami. Ini peluang usaha untuk teman-teman pengusaha syariah dan UKM,” terangnya.
Dijelaskan, pihaknya membawa beberapa contoh produk yang dapat dikerjasamakan dalam pertemuan pekan lalu dengan Mubin. Di antaranya produk makanan, handycraft dan fashion.
Meski demikian, imbuh Wakil Ketua Ekonomi Syariah Kadin Zakiah Joban, pengusaha Malaysia lebih tertarik dengan produk makanan. Mereka justru mencari makanan ringan baik yang berbahan pisang, singkong dan lain-lain.
“Karenanya pertemuan tersebut harus ditindaklanjuti dengan pertemuan berikutnya yang lebih spesifik. Kadin sendiri akan segera membentuk Kadin Business Support Desk sebagai lanjutan kerja sama business to business,” tukasnya.
Diakui, respon pengusaha Malaysia sangat tinggi dengan produk makanan dari Indonesia. Namun mereka kurang tertarik dengan produk yang sudah memiliki brand sendiri, selain itu produk Indonesia harus disesuaikan dengan aturan Food and Beverages Association (FBA) serta standar halal Malaysia.
Selain itu, banyak produk Indonesia dikemas masish kurang baik. Namun dari sisi bumbu dan rempah, hal itu tidak diragukan lagi. “Produk makanan di Indonesia diakui mereka jauh lebih kaya rempah-rempahnya selain itu harganya juga jauh lebih terjangkau,” tuturnya.
Wakil Ketua Kadin Bidang UKM Naneth Ekopriyono menegaskan jika kerjasama ini akan membawa prospek positif bagi kedua pengusaha dari dua negara tersebut. Kerja sama yang ada nantinya dapat dikembangkan ke arah fashion dimana mereka juga menyukai produk batik.
“Menjadi tantangan terbesar bagaimana menjaga kualitas dan kemasan karena kita kalah jauh dalam hal bagaimana packaging sebuah produk untuk ekspor serta melengkapinya dengan informasi dalam Bahasa Inggris agar lebih bisa diterima masyarakat dunia,” pungkasnya.
Penulis :
Editor :