Santri Harus Berwawasan!


Hibatun Wafiroh saat memimpin upacara Hari Santri di MTs Negeri Kaliangkrik. (Tri Budi Hartoyo)
MUNGKID- Sejumlah kegiatan mewarnai peringatan Hari Santri 2017 di Ponpes Alfalah-Assholihaat Kaliangkrik, Magelang. Selain upacara
bendera, juga membaca sholawat nariyah 1 miliar serentak bersama
santri di seluruh Bumi Nusantara dan nonton barang film Sang Kiai dan
film Santri.
 
Hibatun Wafiroh, pengasuh Ponpes Alfalah-Assholihaat, mengatakan,
kegiatan nonton bareng tersebut, dimaksudkan agar secara visual, para
santri bisa mengerti dan menjiwai perjuangan para ulama dan santri
dalam merebut kemerdekaan RI dan mempertahankanya.
 
"Sekaligus untuk menumbuhkan kecintaan para santri terhadap tanah air
Indonesia sebagai implementasi dari sabda nabi, hubbul wathon minal
iman," ujar perempuan berkerudung yang kesehariannya menjabat sebagai
Sekretaris Fraksi PKB di DPRD Kabupaten Magelang.
 
Saat memimpi upacara bendera di halaman MTs Negeri Kaliangkrik,
Wafiroh memberikan motivasi kepada para santrinya agar lebih giat
dalam belajar serta menghidupkan tradisi untuk mencintai ilmu
pengetahuan. Semangat belajar itu harus dijadikan sebagai sebuah
gerakan bagi para santri untuk mengembangkan pengalaman, wawasan, pemahaman dan pemikiran ilmu pengetahuan.
 
"Kami sangat berharap, agar para santri tidak hanya berkutat mendalami
ilmu agama, agar nantinya lulusan pesantren bisa alim dalam berbagai
ilmu pengetahuan, menjadi pengusaha, birokrat, dokter, ilmuwan dan
atau profesi lainnya," kata Wafiroh.

Turut memeriahkan acara diisi berbagai kegiatan inovasi sesuai karakter masing-masing dari 250 siswa dan 150 santri peserta upacara.
 
Diharapkan, kegiatan itu bisa meningkatkan etos kerja para guru dan
memacu semangat belajar para siswa dan santri.
 
"Peringatan hari santri tidak hanya seremonial, tetapi yang lebih
penting adalah bagaimana kita dapat meneladani perjuangan santri dan
kiai terlebih dahulu. Santri tidak hanya uang belajar di ponpes karena
yang belajar agama harus menghormati para kiai," kata Kepala MTs Negeri Kaliangkrik, Ahmad Zaini MPd.
 
Ponpes yang lahir di Surau itu embrio lahirnya Madrasah di jaman
sebelum kemerdekaan. Karena hanya berupa surau sehingga tanpa sistem
dan minim fasilitas. Seiring berjalannya waktu agama islam lahir klasikal dan disamakan dengan mata pelajaran umum kemudian menjadi madrasah.
 
Peringatan Hari Santri juga dilaksanakan bersama seluruh anggota Fatayat se Kecamatan Kaliangkrik. Kegiatan digelar di Desa Pengarengan, sebuah desa di pinggang Gunung Sumbing, yang jauh dari ibukota kecamatan dan tidak bisa diakses dengan transportasi umum.
 
Di forum itu, Wafiroh menyampaikan pentingnya pendidikan bagi
anak-anak sampai ke jenjang perguruan tinggi serta pendidikan agama di
pesantren. Dia menekankan arti pentingnya meningkatkan partisipasi
sekolah bagi anak-anak di kawasan lereng pegunungan dan pedesaan di
wilayah Kaliangkrik.
 
"Mesti harus diakui, secara geografis desa-desa di kawasan lereng
Timur Gunung Sumbing harus berjuang ekstra keras untuk mencapai lokasi
sekolah menengah yang lebih dengan ibukota kecamatan. Butuh tenaga dan
biaya berlebih. Namun hal itu diperlukan agar mereka bisa meraih masa

Penulis : tbh
Editor   : awl