Muhammadiyah Peduli Korban Rob


Tim gabungan PW Muhammdiyah Jateng dan Lazismu Demak saat memberikan bantuan pangan kepada warga pesisir Sayung korban rob yang juga terdampak covid-19.

DEMAK, WAWASANCO- Berbuat baik tak pernah berbatas. Seiring genangan rob atau pasang laut yang semakin tinggi setiap harinya hingga mengganggu aktivitas warga, menjadikan PW Muhammadiyah Jateng terpanggil membantu meringankan beban mereka. 

Di antara yang terdampak cukup parah adalah wilayah pantura Sayung Demak. Dua kali dalam sehari air pasang laut menggelombang, hingga mengepung area pemukiman. Di samping membanjiri jalur pantura Semarang - Demak hingga berimbas kemacetan lalulintas.

Sehubungan itu PW Muhammadiyah Jawa Tengah menugaskan Tim MDMC (Lembaga Penanggulangan Bencana) Jawa Tengah yang dipimpin Chairil Anam untuk menyalurkan bantuan sembako  bagi para korban rob. Berkoordinasi Lazismu Demak, MDMC pimpinan Chairil Anam itu membagikan 300 paket secara bertahap di empat desa terdampak abrasi, yakni  Purwosari, Sriwulan, Sidogemah dan Desa Bedono.

"Sebelumnya mohon maaf jika bantuan yang diberikan belum bisa memenuhi harapan. Semoga bermanfaat dan dapat membantu meringankan beban masyarakat yang semakin berlipat oleh terpaan pandemi corona," tutur Chairil  Anam.

Di sisi lain, Direktur Program Lazismu Demak Ahmad Ghufron  didampingi Ketua PCM Sayung Nurdin Nasyir dan Sekretaris Fahrur menjelaskan, empat desa tersebut dipilih karena merupakan wilayah paling parah terdampak rob dan abrasi. "Banjir rob seolah menjadi rutinitas, karena menggenangi rumah warga keempat desa iyu hampir stiap hari," ujarnya, Jumat (22/5).

Sehubungan jalur darat yang sulit ditempuh, sebagian bantuan diangkut menggunakan perahu nelayan. Seperti diberikan kepada warga Dukuh Tambaksari Desa Bedono.

Dikarenakan lokasinya terpencil, Tambaksari Bedono merupakan lokasi terparah dan paling memprihatinkan. Kabar baiknya warganya memiliki semangat hidup yang luar biasa. 

"Mereka memilih bertahan demi menjaga makam cikal bakal sekaligus ulama Syech Mudzakir, yang sering disebut makam Apung. Warga seperti itu perlu diperhatikan," kata Achmad Ghufron.

Mengenai bantuan tersebut, perwakilan warga, Hafidzi mengungkapkan, rasa terimakasihnya karena masih ada pihak yang memperhatikan kesulitan mereka. Terlebih sejak covid-19 melanda, Makam Syech Mudzakir sebagai destinasi wisata bahari ditutup. Pun mereka tak dapat melaut karena musim gelombang tinggi.

Penulis : ssj
Editor   : jks