MAGELANG- Pasar tradisional terbesar di Kota Magelang yakni Pasar Rejowinangun meraih penghargaan dari Kementrian Perdagangan RI sebagai pasar tradisional terbaik nasional tahun 2017 dan meraih penghargaan Pancawara kategori pasar dengan pedagang lebih dari 500 orang.
“Pasar Rejowinangun ini berhasil menyisihkan empat pasar tradisional lainnya seperti Pasar Flamboyan, Pontianak, Kalimantan Barat, Pasar Aceh, Aceh Darussalam, Pasar Kliwon Kudus dan Pasar Tayu,
Pati,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Magelang, Joko Budiyono, Selasa (24/10).
Joko Budiyono mengatakan, dengan diraihnya penghargaan tersebut maka Pasar Rejowinangun Kota Magelang dinilai telah sejajar dengan pasar-pasar tradisional terbaik di tanah air.
Menurutnya, keberhasilan Pasar Rejowinangun terpilih terbaik se-Indonesia tersebut tidak lepas dari berbagai inovasi yang dilakukannya baik dalam penataan pedagang maupun kenyamanan para pembeli saat berbelanja di pasar yang pernah ludes terbakar pada 26 Juni 2008 silam
Ia menambahkan, di dalam pasar yang berdiri di atas tanah seluas 24.313 meter persegi tersebut terdapat fasilitas berupa ruang laktasi( ruang untuk ibu menyusui ), ruang pamer UMKM dan juga los khusus kuliner.
“ Selain itu, juga ada tempat penitipan anak, layanan kesehatan, pasar tertib ukur,” katanya didampingi Kepala Bidang Pasar, Sarwo Imam S.
Untuk mendukung program tersebut, pihaknya juga akan melakukan inovasi berupa pengolahan sampah baik limbah cair dan sampah organik. Pihaknya juga memanfaatkan dan pengolahan pupuk organik yang ada di
pasar yang mempunyai jumlah pedagang sebanyak 3.450 orang.
Ia menambahkan, sejak difungsikan kembali Pasar Rejowinangun empat tahun lalu setelah kebakaran yang melanda tahun 2008 silam, Pasar Rejowinangun mengusung konsep semimodern, yang membuat penataan dan suasana pasar ini, begitu tampak seperti supermarket namun nuansa tradisional yakni tawar menawar antara pedagang dan pembeli masih terjadi di pasar tersebut.
Menurutnya, kesadaran pedagang di Pasar Rejowinangun untuk membuang sampah di tempat yang telah ditentukan sudah cukup tinggi. Terutama dari bekas sayuran, daging, dan ikan yang sudah membusuk sehingga tidak menimbulkan bau tidak sedap di area los.
”Setelah mendapat penghargaan, kita bersama masih perlu mempertahankan kekompakan antara pedagang, pengelola, dan seluruh petugas kebersihan pasar. Kita bangga atas peran paguyuban pedagang pasar,” katanya.
Joko mengakui, produksi sampah Pasar Kebonpolo belum seluruhnya ditangani dengan maksimal. Meski telah dilakukan pemilahan dan pengolahan sampah organik, namun belum dapat diolah seluruhnya menjadi pupuk organik. Masih ada sebagian sampah pasar yang harus dibuang ke Tempat Pengelolaan Sampah Akhir (TSPA) Kota Magelang di Banyuurip.
Penulis : widias
Editor :