Menggantung Tinggi Cita-cita Demi Merawat Ibu


Demi menjaga sang ibu, Serli Artia bocah berusia 12 tahun tidak mendapat kesempatan belajar lantaran harus merawat Siti Arwah sang ibu yang mengalami gangguan fungsi saraf sehingga lumpuh sebelah.Foto: Felek Wahyu

 HIDUP mewah penuh dengan kesenangan, bisa sekolah tinggi agar dekat dengan cita-cita hingga jalan-jalan menghibur diri ditempat wisata yang indah menjadi impian mayoritas orang. Namun, ketika harapan kenyataan tidak seindah dalam sinetron atau drama Korea yang kebanyakan diputar di televisi tentu juga tidak bisa ditinggal lari juga.

 Begitu juga yang dialami Serli Artia Dewi remaja berusia 12 tahun Desa Karanggeneng, Kecamatan Godong. Hidup penuh keindahan bak artis sinetron harus ditepis jauh. Bukan hanya kenyataan, mimpi hidup penuh hura-hura pun tidak mengijinkan menyelip diangan bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) Negeri 1 Karanggeneng.

 Pilihan antara sekolah dan menjaga sang ibu yang sakit dan adik yang masih balita memaksa bocah yang belum bisa membedakan pentingnya pendidikan untuk meraih kehidupan lebih baik di masa depan dan pengabdian pada orang tua.

Namun, dengan sesekali mengusap air mata, bocah berambut ikal yang lebih sering dipanggil Serli oleh temannya lebih memilih mengikuti permintaan orang tua yakni menjaga sang ibu yang sakit dan mengorbankan melanjutkan sekolah maupun mondok kendati mampu meraih peringkat tiga di sekolahnya.

 “Saya harus memilih jaga ibu atau sekolah,” ungkap bocah kelahiran 10 September 2005, sembari sesekali menyeka air mata.

 Pilihan menjaga sang ibu, harus diambil lantaran Siti Arwah (33) sang ibu menderita gangguan saraf sejak tujuh bulan. Sedang, Selvi Nova Aryani adiknya masih berusia empat tahun. Tugas membersihkan membersihkan rumah hingga memenuhi keperluan sang ibu di rumah berdinding papan dengan ukuran 5 x 8 meter yang ditinggali bersama keluarganya.

 Di sisi lain, Fuad Arifin (36) sang ayah harus memeras keringat bekerja mencari uang sebagai buruh bangunan di Karangawen, Kabupaten Demak. Sejak beberapa saat lalu, menjaga ibu harus dilakukan sebagai pengganti kegiatan sekolah yang tidak bisa diambil. ”Saya juga ingin bermain seperti teman-teman. Ingin sekolah untuk raih cita-cita,” akunya tanpa segan menunjukkan nilai di raport sekolahnya.

 Bukan sekolah umum yang ingin diambil, namun, jika ada kesempatan Serli hanya berharap ingin mengenyam pendidikan agama di pondok pesantren. “Ingin pergi mondok di Magelang. Tapi siapa yang merawat ibu dan dek Selvi,” akunya sembari terisak.

 Terkait sakit yang dialami, Siti Arwah mengaku tidak mengetahui secara pasti. Namun, sakit yang saat ini menghambat aktifitasnya didapati secara tiba-tiba. Pasalnya, ketika bangun tidur tangan dan kaki kanannya tidak bisa digerakkan.

 Bahkan, karena sakit Siti Arwah sempat kesulitan mengucap kata-kata. ”Sekarang sudah bisa bicara, kaki dan tangan juga mulai bisa digerakan. Tapi untuk berjalan, saya harus dibantu Serli atau tetangga. Tiap pagi, Serli yang membantu mengurus kebutuhan rumah, saya sampai adiknya,” aku Siti Arwah.

 Mulanya, Siti menduga sakit yang didetiranya hanya karena kelelahan dan akan sembuh usai cukup istirahat. Namun, ketika dirinya menghantar Serli mendaftar ke sekolah di salah satu SMP sakit lumpuh kembali kambuh.

 “Saat mengantarkan Serli daftar sekolah di salah satu SMP kambuh. Saat itu makin parah saya dilarikan ke rumah sakit diantarkan pihak desa,” akunya.

 Kemudian, untuk bisa sembuh Siti Arwah, memanfaatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dimiliki berusaha berobat hingga tiga kali di RSUD Purwodadi Raden Soedjati. Kendati kondisi sakit, Siti tidak ingin anaknya kehilangan masa depan. Siti meminta Serli sekolah. Namun, karena tidak ada yang merawat sang ibu Serli memilih tidak sekolah dan menjaga sang ibu karena kemiskinan sehingga tidak punya biaya untuk merawat di Rumah Sakit.

 

 

 

 

Penulis : fww
Editor   :