Intervensi Keperawatan Mandiri untuk Meningkatkan Imunitas


Pembicara menyampaikan materi dalamWebinar ke-6, bertema Intervensi Keperawatan Mandiri untuk Meningkatkan Imunitas, pada Masa Pandemi Covid-19, yang digelar Fikkes Unimus di kampus Kedungmundu, Selasa (23/6/2020).

SEMARANG, WAWASANCO - Tubuh memiliki sistem imun, yang apabila mampu dimaksimalkan, tidak hanya melindungi diri dari beragam penyakit, namun juga menyembuhkan penyakit yang sudah ada. 

Untuk meningkatkan imunitas ini, salah satu caranya dengan terapi Spiritual Emosional Freedom Technique (SEFT), sebuah teknik terapi yang menggabungkan sistem energi tubuh dan terapi spiritualitas. Caranya dengan melakukan tapping atau ketukan pada 12 jalur energi meredian, yang ada pada masing - masing di sisi tubuh.

"Terapi SEFT merupakan cabang ilmu baru yang dinamakan energy psychology. Terapi  ini mengedepankan atau memanfaatkan kekuatan, yang sudah ada di dalam tubuh manusia. Menggabungkan antara doa dan spriritualily," praktisi Keperawatan Jiwa, sekaligus dosen Keperawatan Unimus, Dr M Fatkhul Mubin MKep SpKep Jiwa, dalam Webinar seri 6, yang digelar Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan (Fikkes) Unimus di kampus Kedungmundu, Selasa (23/6/2020).

Dalam seminar yang mengusung tema Intervensi Keperawatan Mandiri untuk Meningkatkan Imunitas, pada Masa Pandemi Covid-19 tersebut, Fatkhul menyebutkan, untuk melakukan terapi SEFT, ada tiga langkah yang harus dilakukan, yakni The set-Up, The Tune In dan The Tapping.

"Langkah pertama, kita perlu men-setup diri kita. Tujuannya untuk mentransfer energi spiritual ke dalam diri kita. Misalnya dengan Bismillah, ihlas, pasrah. Tujuannya untuk mengarahkan sistem energi tubuh kita, agar terfokus dan tepat sasaran dalam menyeleraskan aliran energi yang terganggu. Sekaligus untuk menetralisir psychological revesal atau pikiran nefatif, baik sadar maupun tidak sadar," lanjutnya.

Selanjutnya, langkah The Tune In, dengan 'mengundang' gangguan emosi atau rasa sakit, yang dirasakan agar muncul ke permukaan. "Tujuannya untuk memperbesar intensitas gangguan energi pada tubuh, sehingga setelah itu kita dapat netralisir dengan tapping," tambahnya.

Terakhir, dengan melakukan tapping atau ketukan, untuk menyelaraskan aliran energi tubuh yang sebelumnya kacau, yang disebabkan ingatan negatif atau sampah emosi, dan mengakibatkan gangguan fisik serta emosi.

"Secara lengkap, arahkan pikiran kita ke kejadian negatif yang memicu gangguan emosi, atau tempat rasa sakit untuk gangguan fisik. Kemudian, ucapkan kalimat set up, yang dilakukan dengan khusuk dan sungguh sungguh, penuh keyakinan, ikhlas dan pasrah. Kemudian melalukan tapping pada titik energi, salah satunya di bagian telapak tangan karate chop," jelas Fatkhul.

Sementara, pembicara lainnya, praktisi Keperawatan Holistik yang juga dosen Keperawatan Unimus Ns Sri Widodo SKep MSc, memaparkan materi tentang Terapi Akupresur untuk Meningkatkan Imunitas di Masa Pandemi Covid-19.

Dipaparkan, akupresur diadaptasi dari teknik pengobatan tradisional dari Tiongkok, dengan cara memberikan tekanan di bagian tubuh tertentu. Tekanan ini bisa diberikan melalui siku, tangan, atau alat bantu khusus, namun tidak menggunakan jarum. Karena itu, akupresur sering kali dinamakan akupunktur tanpa jarum.

"Teknik akupresur yang menekan titik-titik tertentu pada tubuh, bisa mengatasi penyumbatan aliran energi dan mengembalikan keseimbangan energi di tubuh. Tubuh yang sakit pun bisa segera sehat kembali," terangnya.

Sri Widodo menjelaskan, ada titik-titik tertentu pada tubuh, seperti halnya akupuntur, tekanan pada titik-titik tertentu itu akan membantu melancarkan peredaran darah ke organ yang sakit, sehingga organ tersebut bisa berfungsi optimal. 

"Ada syarat yang harus dipatuhi dalam terapi akupresur. Pertama terapisnya harus dalam kondisi sehat dan bugar. Kedua, tidak boleh dilakukan pada pasien yang mengalami pembekuan darah. Demikian juga, tidak boleh dilakukan kepada ibu hamil. Dikhawatirkan jika terjadi tekanan, yang berhubungan dengan organ di dalam rahim, akan mengakibatkan kontraksi. Ini bahaya untuk janin dalam kandungan," jelasnya.

Selain itu, orang yang mengalami penyakit infeksi berat, atau membutuhan tindakan kegawat daruratan, juga tidak boleh dilakukan terapi akupresur.

Dalam seminar yang disiarkan secara live melalui aplikasi digital tersebut, juga menghadirkan keynote speaker Ketua Pengurus Pusat Himpunan Perawat Holistik Indonesia, Mardiyono BNS MNS PhD. Dalam kesempatan tersebut, memaparkan materi tentang Keperawatan Holistik dalam Peningkatan Imunitas pada Masa Pandemi Covid-19 dan Tatanan Baru. 

Dimoderatori oleh Ns. Khoiriyah SKep MSc, webinar yang berlangsung 2,5 jam ini diikuti secara online ribuan peserta, dari berbagai wilayah dalam dan luar negeri.

 

Penulis : arr
Editor   : edt