Restorasi Sungai untuk Pengendalian Covid-19


Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro, Rame

SEMARANG, WAWASANCO - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menetapkan Covid-19 sebagai pandemi karena telah menyebar di seluruh dunia pada tanggal 12 Maret 2020. Bulan berikutnya, tanggal 13 April 2020, Pemerintah Indonesia menetapkan  pandemi Covid-19 sebagai bencana nasional. Seperti diketahui Virus SARS-CoV-2 telah menyebabkan pandemi global Covid-19.

Dunia saat ini masih diselimuti keprihatinan, akibat pandemi global Covid-19 yang masih terus memakan korban. Penyakit ini telah menimbulkan korban lebih dari 8 juta orang  terinfeksi, 450 ribuan lainnya meninggal dunia, dan kerugian ekonomi dalam triliunan dolar di seluruh dunia. Data terkini kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia adalah lebih dari 45 ribu kasus positif, 2400 lebih kasus meninggal, dan penambahan kasus baru diatas seribu orang per hari.

Covid-19 adalah penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Beberapa penyakit zoonosis lain seperti Ebola, Flu Burung, Flu Babi, Middle East Respiratory Syndrome (MERS),  dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) selama beberapa tahun terakhir ini menunjukkan keragaman karakteristik, termasuk dalam proses dan kecepatan penularan, sehingga  mengakibatkan tingginya kematian dan kerugian ekonomi.

Penelitian vaksin Covid-19 masih gencar dilakukan dan WHO berharap 2 Miliar dosis vaksin tersedia di akhir tahun 2021. Disisi lain biaya perawatan pasien Covid-19 di Indonesia membutuhkan biaya sangat besar, merujuk dokumen Menteri Keuangan Nomor S-275/MK.02/2020 pada tanggal 6 April 2020 menetapkan satuan biaya perawatan pasien Covid-19 yaitu Rp 7,5 juta hingga Rp 16,5 juta per hari.

Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan Virus SARS-CoV-2 berasal dari kelelawar. Covid-19 menjadi ancaman pandemi terbesar saat ini karena tingginya intensitas penyebaran yang terjadi antar manusia melalui percikan-percikan (droplet) dari orang yang terinfeksi Covid-19 saat berbicara, bersin atau batuk.

Risiko penularan lainnya mungkin terjadi berdasarkan penelitian Franklin & Bevins (2020) pada Jurnal internasional “Science of the Total Environment” edisi 733 menunjukkan bahwa Virus SARS-CoV-2 ada pada feses manusia dan air permukaan melalui saluran pengolahan air limbah.

Disinyalir saat ini penularan Covid-19 mungkin terjadi melalui air permukaan dan residu feses manusia yang ada di sungai. Sementara rendahnya kesadaran sanitasi dan kerusakan lingkungan masif terjadi pada sebagian sungai di Indonesia. Orang naik motor ke hulu sungai untuk buang air besar. Padahal di hilir sungai yang sama banyak masyarakat yang mandi dan mencuci pakaian. Tidak hanya itu, berbagai limbah juga dibuang oleh masyarakat ke sungai. Sungai masih banyak diperlakukan sebagai tempat sampah, bukan sumber penghidupan. Meskipun begitu sebagian air sungai masih dimanfaatkan sebagai bahan baku penyediaan air bersih.

Sungai sangat penting dalam penyediaan air bersih untuk pencegahan Covid-19. WHO dan UNICEF sepakat bahwa praktik kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan adalah faktor kunci dalam mencegah penularan Covid-19 dan patogen lainnya. Degradasi kualitas air sungai berpotensi meningkatkan penyebaran infeksi, termasuk zoonosis seperti Covid-19, terutama untuk masyarakat kurang mampu mendapatkan air bersih dan melakukan sanitasi.

Peningkatan transmisi Covid-19 dan zoonosis lainnya melalui sektor masyarakat yang kurang mampu mengarah pada dampak langsung bagi individu, keluarga dan masyarakat, serta menciptakan risiko penyebaran infeksi dalam populasi yang lebih luas.  Dalam aliran sungai yang saling berhubungan sedemikian rupa, peningkatan kebersihan kualitas air sungai dapat memberikan sekat terhadap krisis kesehatan akibat pandemi saat ini dan masa depan.

Sungai beserta keanekaragaman hayati berperan sebagai penyedia air bersih sekaligus pemutus transmisi penyakit menular. Namun kondisi sungai saat ini tidak mendukung fungsi tersebut karena aktivitas manusia telah menyebabkan kerusakan ekosistem sungai. Sebagian daerah aliran sungai di Indonesia sangat membutuhkan program restorasi dalam rangka mengembalikan atau memulihkan kepada keadaan semula.

Menurut Allison & Murphy (2017) dalam “Routledge Handbook of Ecological and Environmental Restoration” bahwa restorasi memberikan keuntungan terhadap keanekaragaman hayati secara keseluruhan. Sungai memiliki empat jasa ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan, yaitu jasa pengaturan, jasa penyediaan, jasa budaya, dan jasa pendukung. Jasa pengaturan berupa pemngaturan air, pemurnian air dan pengolahan air limbah, pengaturan penyakit, dan pengendalian biologis sangat selaras dengan tujuan restorasi sungai untuk pengendalian Covid-19.

Seluruh aspek yang terkait dengan eksosistem sungai harus dikelola dengan pendekatan holistik untuk mencapai target pengelolaan sungai. Penanganan sungai yang berbasis mencintai sungai sebagai sumber kehidupan, kepatuhan pada regulasi, dan dukungan menuju fungsi ekologis sungai menjadi persyaratan utama yang harus dipahami oleh Pemerintah, industri, dan masyarakat.

Harmonisasi pengelolaan sungai secara terpadu akan menghasilkan ekosistem sungai dengan sinergi fungsi konservasi dan pembangunan. Pengelolaan sungai secara terpadu ini selaras dengan program PBB “Sustainable Development Goal”No.6 (SDG6) yaitu "Memastikan ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua".

Pengelolaan sungai berwawasan lingkungan di indonesia dapat dilakukan melalui pendekatan restorasi sungai yang dimulai dengan analisa risiko dan penilaian kajian manfaatnya serta dampak terhadap kondisi sosial ekonomi dan ketahanan atas pemanasan global. Sosialisasi dan pemahaman perlu diberikan pada komunitas industri dan masyarakat terdampak restorasi dalam rangka peningkatan kesadaran akan pentingnya restorasi sungai sehingga selaras dengan kebutuhan dan potensi.

Restorasi Sungai yang berhasil akan memberikan keuntungan terhadap keanekaragaman hayati melalui pemulihan ekosistem, habitat, dan kesinambungan ekologi serta lingkungan perairan yang akan mendatangkan banyak manfaat untuk masyarakat.

 

Penulis : rls
Editor   : edt