Webinar Nasional Taruna Merah Putih Pecah Rekor 1.000 Peserta


MAGELANG,WAWASANCO – Dewan  Pimpinan Pusat Tarurna Merah Putih (DPP TMP) telah memecahkan rekor dengan jumlah peserta 1.000 orang dalam Webinar melalui chebel youtobe,  berlangsung Minggu (28/6-2020) kemarin.  Sebagai Keynote Speaker, Ir Hasto Kristiyanto, MM  (Sekjen DPP PDI Perjuangan), Moderator Ketua Umum DPP TMP  Maruarar Sirait, SIP.

            “Animo peserta Webinar  luar biasa, mencapai angka 1000 orang, dan ditonton melalui streaming youtube hampir 2000 orang.  Acara berlangsung empat jam tersebut, karena mereka mengikuti hingga acara selesai,” kata Ketua Panita Webinar Nasional Taruna Merah Putih, Mul Budi Santoso kepada Wawasanco, Senin (29/6-2020).

            Menurut Mul Budi Santoso yang sering dipanggil Bodrek menjelaskan, tingginya animo peserta Webinar Nasional Taruna Merah Putih dengan tema "Jas Merah: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, Ciptakan Sejarah Positif Bagi Bangsa" dalam Rangka Peringatan Bulan Bung Karno 2020.

Sedangkan  narasumbernya, diantaranya H. Ganjar Pranowo, SH, M.I.P (Gubernur Provinsi Jawa Tengah),  Mardani H. Maming (Ketua Umum BPP HIPMI),  Dr dr Theresia Monika R.,Sp.AN.,KIC.,MSi (Dokter yang mengembangkan terapi plasma konvalesen sebagai metode pengobatan pasien COVID-19),  Denny Siregar  (Pegiat Media Sosial & Influencer),  I Kadek Suwisnawa Pridayana (Ketua OSIS SMA Taruna Nusantara).

Webinar Nasional Taruna Merah Putih,  mencoba menggali semangat Soekarnois dalam upaya pembangunan bangsa yang dinamis oleh kaum muda. Sebagai organ sayap partai terbesar, yakni PDI Perjuangan, maka TMP melihat bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang minus akan semangat kebersamaan.

Ketua Umum DPP TMP, Manuarar Sirait menyatakan, berbagai tindakan provokasi yang bermaksud memecah belah bangsa, kerap terjadi. Tetapi, disisi lain krisis yang sedang melanda dari berbagai arah dan dimensi, justru menjadi kekuatan untuk merekatkan kembali semangat gotong-royong yang dicetuskan oleh founding father, Bung Karno.

“Komunikasi dan konsolidasi kader muda bangsa dibawah kepemimpinan PDI Perjuangan, telah menunjukkan sebuah prestasi dan komitmen yang teguh untuk membangun NKRI secara utuh dalam semangat marhaenisme dan Soekarnois, yakni kepedulian dan gotong royong,” tegaasnya.

Sedangkan Sekjen DPP PDI Perjuangan,  Hasto Kristiyanto menegaskan,  bahwa Pancasila adalah Rumah Kita. Sebagai rumah yang tidak sekedar sebagai tempat tinggal, Pancasila sebagai ideologi harus tetap berdiri kokoh sebagaimana bendera merah putih yang telah berkibar dan tidak boleh turun.

“Saya melihat,  bahwa pertahanan terakhir untuk menegakkan keutuhan Pancasila, adalah kader muda militan yang berwawasan kebangsaan,” katanya.

Menurut Hasto, dengan bonus demografi dengan populasi terbesar di dunia, kaum muda Indonesia dituntut untuk menciptakan sejarah dan energi positif melalui penguasaan IPTEK dan inovasi kreatif. Pemuda adalah pelopor yang sadar akan tanggungjawab sebagai pilar pembangunan bangsa.

Sementara itu, Dr Monika Theresia  menambahkan, penguasaan riset dan IPTEK tersebut harus terimplementasi dan  ditunjukkan yang mengembangkan terapi plasma konvalesen dalam upaya pengobatan pasien C-19.  Dia berharap, bangsa indonesia harus mampu menjadi leader dan promotor dalam riset dan inovasi.

Penciptaan sejarah yang positif harus didasari dengan hati yang bersih. Dokter yang sudah bekerjasama dengan puluhan Rumah Sakit di Nusantara dalam rangka penerapan terapi plasma ini, mengatakan bahwa mencintai bangsa ini, harus dijiwai dalam setiap tarikan nafas yang dihembuskan.

Karakter yang mewujud dalam kedisplinan dan dedikasi yang tinggi sebagaimana diungkapkan oleh I Kadek Suwisnawa Pridayana, Ketua Osis SMA Taruna Nusantara yang turut memberi pandangan dalam webinar ini.

Pegiat Medsos, Denny Siregar menyatakan,  dengan terbuka akan kebanggaannya terhadap tiga orang pemuda yang terbukti mencetak sejarah positif bagi bangsa. Yakni, M. Yamin, Soepomo dan Soekarno yang menginspirasi Pancasila sebagai ideologi bangsa yang utuh dan integral. Mereka adalah sosok yang mengikrarkan diri sebagai Indonesia.

Sejarah bangsa Indonesia diiringi oleh konflik, drama dan air mata. Sosok yang sudah menerima hampir 70 an somasi karena cuitannya di Medsos ini mengatakan bahwa kegelisahan yang membuat dia tidak bisa tenang adalah aliran yang mengatasnamakan agama yang berpotensi merusak tatanan yang ada.

Penulis : as
Editor   : jks