“Muslihat Wajar” dalam Kebudayaan Visual

1.2K

Kebudayaan urban Indonesia berkembang menuju kebudayaan visual. Konsep, citraan, dan abstraksi diri dan masyarakat dikembangkan dengan teknologi rupa. Inilah situasi yang membuat komunikasi kebudayaan kita semakin rimbun oleh simbol rupa. Kerimbunan itu menciptakan keindahan, tetapi sekaligus kepalsuan.

Dalam kebudayaan visual diasumsikan citra tampak (looking) adalah yang utama. Penilaian terhadap kualitas objek pertama-tama (dan kerap semata-mata) didasarkan pada tampilan visualnya. Sesuatu dianggap bernilai dan menarik jika secara visual menarik. Jika tampak buruk, ia layak pula dinilai buruk secara keseluruhan. Gejala inilah yang kerap disebut sebagai regime of looking.

Regime of looking dibangun dengan kesadaran bahwa sesuatu yang tampak pasti memiliki makna. Ada hubungan referensial antara citra visual dengan nilai tertentu. Warna, bentuk, ukuran, dan komposisi ditautkan dengan konsep yang bersifat spiritual, batiniah, juga filosofis. Dengan begitu, yang visual dianggap dapat mewakili, merepresentasikan, atau (bahkan) menggantikan “nilai” itu sendiri.

Regime of looking membawa dampak besar dalam kehidupan ekonomi, politik, dan bahkan komunikasi antarpribadi seperti hubungan asmara dan rumah tangga. Dalam ekonomi (perdagangan khususnya) regime of looking telah menjadikan tampilan visual menjadi nilai utama sebuah produk. Produk musti didesain atraktif. Tidak sekadar supaya eye catching tetapi juga mengandung makna-makna tertentu.

Gejala demikian melahirkan perilaku visual, tindakan yang muncul akibat rekayasa visual. Dalam contoh konsumsi, misalnya, sekarang banyak orang yang beli keripik bukan karena rasanya, tapi karena ingin berpose dengan gambar orang tersenyum yang tercetak dalam kemasan keripik itu. Gambar itu reproduksi dalam produk visual lain, kolase foto, yang disebarkan melalui media visual berupa jejaring sosial.

Dalam politik, gejala kebudayaan visual berkembang dalam taraf yang mengagumkan tetapi sekaligus mengerikan. Lihat, misalnya, bagaimana politisi mendandani diri. Berbagai atribut dikenakan agar dirinya diidentikkan dengan sifat tertentu. Hasilnya, tokoh politik bisa “mengklaim” dirinya cukup islami hanya karena dia berpeci atau berjubah. Seorang politisi merasa pemerintahannya telah bekerja keras hanya karena ia konsisten menekuk lengan baju dalam tiap tampilan publiknya. Atau, seorang politisi berhak merasa diri sebagai tokoh kebhinekaan hanya karena konsisten mengenakan hem motif kotak.

Dalam kehidupan yang lebih personal, asmara misalnya, berlaku pula regime of looking. Ketertarikan individu kepada lawan jenis kerap kali didasari pada wajah, busana, make up, dan semacamnya. Wajah dengan tekstur tertentu, busana dengan desain tertentu, make up dengan teknik tertentu seolah-olah mewakili kedirian orang bersangkutan. Bukan berarti perilaku demikian keliru. Tetapi itu membuktikan bahwa perjodohan pun tak luput dari perilaku visual.

Penguasa Tanda

Istilah regime of looking yang dimunculkan sosiolog kontemporer sejatinya mengandung paradoks, setidaknya jika ditelusuri proses pembentukan istilah itu. Dalam kata regime terdapat asumsi bahwa kebudayaan visual tidak muncul sebagai gejala yang alami tetapi karena ada kekuasaan di dalamnya. Artinya, di balik berkembangnya gejala itu terdapat subjek yang aktif dan (bisa jadi) berusaha meraih keuntungan.

Tentu tidak mudah untuk melacak subjek di balik berkembangnya kebudayaan visual itu. Lebih-lebih jika “subjek” dibatasi sebagai orang atau institusi yang spesifik. Tetapi jika “subjek” itu dimaknai sebagai cara berpikir, pelacakan tersebut relatif lebih mungkin. Meskipun dengan catatan: tetap mengandung risiko ketidaktepatan.

Jauh sebelum teknologi rekayasa visual berkembang seperti sekarang, permainan rupa telah berkembang dengan kerumitan masing-masing. Unsur-unsur rupa seperti garis, bentuk, tekstur, dan warna dihimpun dalam semesta simbol.  Simbol mengasumikan adanya makna, persepsi yang dihasilkan melalui intepretasi.

Makna itu sendiri tidak pernah dan tidak bisa netral. Ada subjek dominan yang memiliki legitimasi untuk mengatur bahwa simbol tertentu bereferensi dengan makna tertentu. Legitimasi itu lazimnya tampak sebagai kesepakatan, meski sebenarnya adalah pemaksaan. Oleh karena itu, permainan simbol visual adalah arena pertarungan.

Festival Tanda

Dalam batas-batas tertentu, regime of looking telah bekerja di abad-abad terdahulu. Para baron mengenakan pakain berbahan bulu yang lembut bukan semata-mata karena nyaman, tetapi karena ingin membedakan diri dengan buruh yang dipekerjakannya. Dengan bulu yang halus para baron ingin mewartakan kehalusan laku dan budi pekertinya.

Di China, pakaian warna kuning keemasan dengan ornamen naga bahkan dibatasi hanya untuk keluarga raja. Warna keemasan melambangkan kemuliaan, nilai yang tinggi, dan ekslusivitas. Adapun binatang mitologi naga dipersepsi mewakili sifat dewa. Dengan jalan berpikir itu warna keemasan dan gambar naga sudah “berbicara” banyak. Rupa menjadi kata dan warta dalam bentuk yang lain.

Meski begitu, regime of looking baru benar-benar menjadi festival ketika teknologi rekayasa visual menjadi produk massal. Program pengolah gambar seperti Adobe Photoshop memungkinkan manipulasi visual bisa dilakukan dengan murah dan mudah. Belakangan bahkan berkembang “aplikasi jahat” yang membuat tipuan visual bisa dilakukan dalam sekali klik. Camera 360 contohnya.

Karena telah menjadi festival, siapa pun boleh berpartisipasi. Aturan pun diminimalisasi. Seperti festival dalam arti sebenarnya, masing-masing partisipan boleh berakrobat dengan cara masing-masing untuk memperoleh perhatian publik. Tidak mengherankan kalau kebudayaan visual menyebar hingga kelas masyarakat terbawah, melahirkan keriuhan visual yang parah. Muslihat visual bisa dilakukan siapa pun dengan tujuan apa pun.

Lihat bagaimana anak-anak muda merekayasa foto profilnya, cara mereka mengelola akun Instagramnya, juga ritual foto-foto dalam setiap kunjungannya. Tindakan-tindakan itu jadi contoh yang sempurna bahwa kebudayaan visual adalah selebrasi bersama. Tradisi visual itu menembus ruang, waktu, dan tradisi. Bentuk komunikasi masyarakat menjadi demikian rimbun oleh rakayasa visual.

Risikonya, tipuan-tipuan visual berkembang tanpa bisa dibatasi. Muslihat visual jadi strategi komunikasi yang lazim dan seolah bisa dimaklumi. Komunikasi berkembang dalam “kebohongan yang diwajarkan”. Jarak antara simbol dengan konsep yang diwakilinya mendekat bahkan hilang sama sekali. Penipuan visual jadi kewajaran.

*Rahmat Petuguran, dosen Bahasa Indonesia Unnes.  Penulis buku Politik Bahasa Penguasa

Penulis :
Editor   :