Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, di Kenormalan Baru


Empat gubes Unnes, dari kiri Prof Rustono, Prof Fathur Rokhman, Prof Ida Zulaeha dan Prof Agus Nuryatin

SEMARANG, WAWASANCO - Di era new normal, perlu strategi dalam penyampaian pembelajaran, dalam upaya pencegahan covid-19. Termasuk untuk mengatasi persoalan yang muncul, akibat pembelajaran secara jarak jauh (PJJ).

Hal tersebut mendorong empat profesor dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang (Unnes), memaparkan berbagai strategi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada era kenormalan baru.

Hal itu disampaikan sebagai respons terhadap banyaknya masalah yang muncul, dalam pembelajaran bahasa dan sastra pada era pandemi ini. Terutama karena pembelajaran harus dilakukan secara jarak jauh.

Profesor bidang pendidikan bahasa, Prof Ida Zulaeha, menilai ada berbagai persoalan yang tidak bisa dihindari dalam PJJ. "Harus diakui, pemaparannya menjadi kurang cenderung leluasa. Karena para guru dan siswa memang belum diperkenankan bertemu. Apalagi orang tua juga, belum tentu bisa menggantikan peran guru," katanya.
Jumlah tugas yang terlalu banyak, juga menjadi keluhan siswa karena mereka merasa terbebani. "Ini karena proses adaptasi ini masih dalam tahap difusi, belum memasuki adaptasi," lanjutnya.

Untuk merespons itu, Prof Ida mengungkapkan bahwa teknologi yang tersedia sudah cukup akomodatif untuk mengembangkan pembelajaran yang menarik secara daring. Misalnya evaluasi menggunakan permainan dan sebaiknya.

Salah satu aplikasi yang disarankan Prof Ida adalah Tynker. Dengan aplikasi itu guru bisa mengembangkan berbagai strategi pembelajaran yang interaktif.

Sementara, Prof Dr Rustono mengungkapkan bahwa pada masa adaptasi kebiasaan baru ini banyak penyimpangan perilaku berbahasa. Hal itu tampak dalam penggunaan bahasa di internet, terutama media sosial.

"Namun demikian, pembelajaran bahasa harus tetap mengedepankan penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah," tandas guru besar ilmu pragmatik tersebut.
Di pihak lain, profesor ilmu sastra Unnes, Prof Dr Agus Nuryatin memaparkan berbagai tipe pembelajaran sastra di sekolah.

Menurutnya, pembelajaran sastra baik ekspresi maupun apresiasi sangat memungkinkan dikembangkan dengan media berbasis internet. Hal ini karena ekspresi dan apresiasi sastra sebenarnya telah menjadi keseharian anak-anak.
"Hal ini bisa kita lihat, mereka sudah terbiasa mengungkapkan perasannya secara indah di media sosial," terangnya.

Rektor Unnes yang juga profesor sosiolinguistik Prof Dr Fathur Rokhman MHum, menyampaikan bahwa, Unnes ingin menjadi mitra guru di berbagai daerah, dalam menyelesaikan problematika pembelajaran yang muncul dalam era kenormalan baru.

"Kit memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan teruji,  pakar-pakar yang dimiliki Unnes, serta didukung dengan infrastruktur pembelajaran yang ada, Unnes  siap membantu guru untuk melaksanakan pembelajaran yang lebih baik," tandasnya. 

Penulis : arr
Editor   : edt