Jogo Tonggo Kunci Bahagia

  • Oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang, Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd.

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) sekaligus Guru Besar Unnes, Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd.

Saya sungguh sangat hormat dengan pak Gubernur Jawa Tengah, akan gagasan “jogo tonggo” yang berarti menjaga tetangga, sebagai upaya pencegahan virus corona di tengah masyarakat. Ada dua hal penting di dalamnya, yaitu sebagai gerakan jaring pengaman sosial dan keamanan, serta jaring pengaman ekonomi.

Cakupan ini sudah sungguh komprehensif, dalam menanggulangi penyebaran virus covid-19. Hal ini tidak akan saya bahas di sini, toh sudah banyak yang mengulasnya.

Saya merasakan, dengan menjalankan program jogo tonggo-nya Pak Ganjar, tercipta kebahagiaan, oleh karena didalamnya terjalin saling memperhatikan dan saling mengasihi. Hidup bahagia menjadi hal yang sangat penting dalam kondisi seperti sekarang ini.

Semua orang pasti mendambakan hidup bahagia; kaya miskin, di kota maupun di desa, pejabat atau rakyat biasa. Siapa pun akan memimpikan hidup bahagia. Hidup bahagia itu bisa murah, tetapi juga bisa mahal.

Seorang pengayuh becak yang sudah lama menunggu penumpang dengan harap-harap cemas, tiba-tiba datang seorang penumpang, maka dia akan bahagia. Ketika kemudian sang penumpang becak tersebut memberikan pembayaran lebih, rasa bahagia abang becak tadi akan berlimpah-limpah, meski kelebihan pembayaran itu tidak seberapa.

Seorang penunggu angkutan umum di jalan raya di malam hari, yang hendak pulang ke rumahnya yang cukup jauh, jalanan sudah mulai sepi sementara rintik-rintik hujan mulai turun, kecemasan mulai dirasakan, tiba-tiba datang bus kota yang penuh sesak dengan penumpang, akan tetapi orang itu bisa terbawa juga meski berdiri, orang itu pun memperoleh kebahagiaan. Sederhana sekali bahagia itu diperoleh.

Akan tetapi kerapkali bahagia itu mahal diperolehnya. Kekayaan, jabatan, popularitas kerapkali tidak dapat menjamin hidup bahagia. Sebuah keluarga yang berkecukupan dan seluruh anggota keluarganya terpelajar, kerapkali pula sulit memperoleh rasa bahagia.

Masing-masing tenggelam dengan kesibukan pekerjaannya, sehingga berkumpul bersama secara lengkap merupakan barang langka. Saling sapa dan saling memperhatikan sesamanya, menjadi hal yang asing dan terlupakan.

Kerapkali pula, seseorang berada dalam keterasingan, kesendirian, kehampaan, meskipun berada di lingkungan keluarga yang berkecukupan dan tidak kurang sesuatu apa pun. Ketika seluruh anggota keluarganya berkumpul di rumah, ya secara fisik memang mereka berkumpul. Akan tetapi tetap saja mereka sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri melalui smart phone masing-masing. Kerisauan, keresahan, kejenuhan, kecemasan, kesendirian, keterasingan; menjadikan bahagia itu mahal harganya.

Adalah sebuah kota yang bernama Kota Roseto di Pensylvania, sebuah negara bagian di Amerika Serikat, yang dikenal sebagai kota paling bahagia di dunia . Dalam sejarahnya kota ini merupakan kota lama, yang dibangun pada abad ke 19 oleh para imigran dari Italia.

Seorang sosiolog bernama Stewart Wolf, tertarik untuk meneliti kehidupan sehari-hari masyarakat kota Roseto ini.  Dia menemukan keunikan-keuinikan, yang tidak ditemukannya di masyarakat kota lain. Ketika di Amerika banyak masyarakatnya yang terkena serangan jantung sekitar tahun 1961-an, masyarakat kota Roseto sama sekali tidak terkena.

Hasil survey sosiolog ini menemukan, bahwa kurun waktu itu tidak ada warga Roseto, yang meninggal di bawah usia 55 tahun karena terkena serangan jantung, pada saat penyakit ini mewabah di kalangan masyarakat Amerika secara luas. Kemudian sedikit sekali warga Roseto yang berusia 65 tahun meninggal karena serangan jantung.

Penelitian Stewart Wofl waktu itu juga menemukan, betapa gaya hidup atau life style masyarakat Roseto biasa-biasa saja, seperti gaya hidup masyarakat Amerika pada umumnya. Menyantap makanan berlemak,menyantap makanan berkalori tinggi dan sejenisnya. Sehingga banyak di kalangan warga Roseto yang mengalami obesitas.

Olah raga pun jarang dilakukan, jika pun melakukan olah raga hanya yang sederhana saja, seperti jalan sehat, senam dan sejenisnya. Akan tetapi mereka sehat sampai berusia lanjut, tidak seperti umumnya masyarakat Amerika saat itu yang banyak terserang penyakit jantung.

Akhirnya, sosiolog itu menemukan bahwa kunci masyarakat Roseto yang selalu sehat. Hal  itu karena mereka selalu bahagia. Dalam kehidupan keseharian mereka, saling berkunjung antar sesama, berhenti untuk berbincang-bincang ketika bertemu di jalan, saling memasak  untuk diberikan kepada tetangga, saling senyum dan bertegur sapa, serta saling mengasihi. Hal itu selalu mereka lakukan. Kehidupan mereka, menurut Stewart, sangatlah egaliter.

Tidak ada rasa saling curiga, saling membenci, saling cemburu, saling menyakiti, dan sejenisnya. Mereka selalu hidup bersama dalam kebahagiaan. Keseharian mereka inilah, yang menjadikan sehat dan berumur panjang, terhindar dari penyakit seperti pada umumnya dialami oleh masyarakat luas pada saat itu.

Ya, bahagia itu penting sekali. Rasanya terlalu singkat hidup ini dijalani, jika kemudian kita tidak dapat menikmati dan menciptakan kebahagiaan.

Ketika Nabi Muhammad saw bersama para sahabatnya baru sampai di madinah dari perjalanan hijrah yang sangat memelahkan itu, beliau bersabda. “Ya ayyuhannas afsus salam wa ithma'amut tha'am washilul arham wa shalluu billaili wannasu niyam. Tadkhulul jannata bissalam”. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad) Secara bebas terjemah hadits ini adalah wahai manusia tebarkanlah salam, bersedekahlah dengan memberi makan orang miskin, sambungkanlah tali silaturrahim dan shalatlah kamu di malam hari ( tahajjud) tatkala manusia sedang tidur, maka kamu akan masuk surga dengan selamat.

Nilai-nilai yang terkandung dalam hadits ini sangat fundamental dan universal. Di dalamnya, terkandung tata nilai bagaimana membangun sebuah masyarakat yang bahagia dan sejahtera, yang kehidupannya akan terasa di dalam surga. Tidak hanya nilai-nilai material, sosial, akan tetapi juga nilai spiritual. Inilah nilai-nilai yang mengkonstruksi kehidupan yang bahagia. Selain itu kandungan nilai hadits ini pun bersifat universal.

Siapapun masyarakat di muka bumi ini, apa pun agama mereka, ketika menjalani kehidupan dengan tata nilai tersebut, akan tercipta sebuah masyarakat yang bahagia. Masyarakat Roseto merupakan salah satu contoh dari masyarakat yang kehidupannya menjunjung tinggi pilar-pilar tata nilai kebahagiaan.

Menebarkan salam berarti menebarkan kedamaian, kasih sayang, pada seluruh kehidupan. Tidak hanya pada manusia, akan tetapi juga lingkungan sekitar kita, sehingga dengan hal tersebut akan tercipta keharmonisan ekosistem secara seimbang, baik fisik, sosial, budaya, maupun kemanusiaan.

Memberi makan kepada orang lain, khususnya kaum fakir miskin adalah merupakan sedekah yang dapat menimbulkan rasa bahagia bagi orang lain. Sebagian rizki yang kita miliki, hendaknya dapat pula memberikan efek bahagia bagi orang lain di sekitar kita. Secara sosiologis, sedekah ini juga menimbulkan rasa akrab dan saling menjaga, dalam kehidupan bersama di masyarakat.

Orang bijak mengatakan, sekokoh-kokohnya pagar tembok beton dalam mengamankan rumah kita, akan tetap lebih kokoh pagar sendok dan mangkok. Artinya tidak usahlah kita memasang pagar tembok tinggi dari beton yang kokoh, demi untuk menyelelamatkan kekayaan rumah kita, akan tetapi santunilah orang-orang di sekitar kita, maka dengan sendirinya mereka akan menjaga harta dan rumah kita.

Demikian juga dengan silaturahmi, saling bertegur sapa, serta saling memberikan perhatian tulus pada sesama warga masyarakat, akan mampu menciptakan ketenteraman, kedamaian, dan rasa kekeluargaan. Dalam kondisi masyarakat demikian; maka kecemasan, keterasingan, kehampaan akan bisa disingkirkan. Jadilah bahagia.

Kemudian pesan Nabi, satu lagi dalam konteks ini yaitu kita diperintahkan untuk bangun di tengah malam guna melakukan sholat tahajjud. Hal ini dimaksudkan agar ruh spiritualitas selalu mendasari kehidupan kita sehari-hari. Itulah kebahagiaan sejati.

Penulis : rls
Editor   : edt