Cukur Rambut Gimbal Warnai Dieng Culture Festival


BANJARNEGARA, WAWASANCO – Dieng Culture Festival (DCF) tidak lepas dari tradisi pemotongan rambut gimbal (gembel) anak di Kabupaten Banjarnegara, tepatnya sekitar Candi Dieng. Tradisi tersebut dilakukan secara sakral dengan berbagai prosesinya.

Kisah rambut gimbal tersebut dapat disaksikan dalam sebuah sendratari yang ditampilkan Sanggar Tari Tiara dalam Pembukaan DCF 2020. Pertunjukan berdurasi sekitar 23 menit itu juga biasanya rutin dipentaskan di DCF tahun sebelumnya.

Pembina Sanggar Tari Tiara, Mudiyano menuturkan, sendratari bertajuk Anak Gimbal tersebut terinsipirasi kisah legenda Ki Demang Rewok, seorang pertapa dari Mataram. Namun, selama bertapa di wilayah Dieng untuk mencari ketenangan jiwa, Ki Demang Rewok kerap mendapat gangguan karena saat itu Dieng masih hutan belantara.

“Namun, dengan kesaktian Ki Demang, para pengganggu menyingkir kalah,” ujarnya, Rabu (16/9/2020).

Setelah itu, Ki Demang Rewok bertemu dengan Kolodete, yang juga seorang bertapa berambut gimbal (gembel). Ki Demang Rewok pun berpesan, semua anak berambut gimbal adalah titisannya, sehingga harus dicintai.

“Dari kisah itulah tradisi potong rambut gimbal ada di sini,” paparnya.

Dari keyakinan warga, lanjut Mudiyono, rambut gimbal bisa dialami siapa saja, terutama anak-anak. Biasanya, anak yang akan gimbal mengalami sakit demam.

“Itu tidak hanya bayi yang baru lahir, tapi bisa juga anak-anak berusia bulanan atau tahunan. Biasanya mengalami sakit demam, dan rambutnya akan muncul gimbal,” jelas dia.

Nah, dalam tradisi potong rambut gimbal itu ada syarat untuk memenuhi permintaan si anak gimbal.

“Waktu potong rambut anak yang bersangkutan diberi permintaan dan itu harus dipenuhi. Seperti sepeda, HP, laptop, dan sebagainya. Kalau itu tidak dituruti, rambut gimbalnya yang dipotong akan kembali gimbal lagi,” terangnya.

Gelaran DCF 2020 digelar secara virtual selama dua hari yakni 16-17 September. Hal itu untuk menyikapi kondisi pandemi Covid-19

Penulis : rls
Editor   : edt