Pentas Wayang Potehi, Tolak Pagebluk Pandemi Covid-19


PENTAS : Pentas wayang potehi tolak pagebluk covid-19, digelar di gedung Rasa Dharma, jalan Gg Pinggir, Kamis (1/10/2020).

SEMARANG, WAWASANCO - Suara musik terdengar dari gedung Rasa Dharma, jalan Gg Pinggir, Kamis (1/10/2020). Di atas mobil, terlihat tiga orang tengah memainkan alat musik seperti gembrong, kecer hingga rebab, sementara dua lainnya, sibuk memainkan boneka kain.

Ya, hari itu, Perkumpulan Boen Hian Tong  (Rasa Dharma) bekerja sama dengan Perkumpulan Fu He An, serta didukung PT Marimas Putera Kencana menggelar pentas  wayang potehi. Uniknya, pertunjukkan tersebut dilakukan di atas mobil wayang potehi keliling (GoPot).

Mengambil cerita tentang Legenda 10 Matahari, dikisahkan pada jaman dahulu kala terdapat 10 matahari, yang menyebabkan penderitaan dan kekeringan di bumi. Suatu hari, muncul seorang ksatria yang berhasil memanah dan memusnahkan 9 matahari dan menyisakan 1 matahari untuk menyinari bumi. Karena jasanya itu, sang Ksatria mendapat hadiah sebuah pil ajaib, yang kemudian pil tersebut dititipkan kepada sang istri untuk disimpan. Namun ada seorang pencuri yang tahu keajaiban pil itu , dan berusaha untuk mencurinya.

Demi melindungi pil ajaib itu, sang istri akhirnya memakan pil itu supaya pil itu tidak dicuri. Tak lama berselang setelah memakan pil itu, tubuh sang istri melayang ke udara dan terus melayang hingga ke bulan.

Hal tersebut, membuat sedih hati sang ksatria karena kehilangan istri yang dicintai. Untuk mengenang istrinya, sang ksatria membuat sebuah kue yang berbentuk bulat seperti bulan. Untuk memperingati peristiwa tersebut, kemudian oleh kalangan Tiong Hoa dikenal dengan sembahyang Tiong Jiu Pia.

"Pentas ini digelar dalam rangka Sembahyang Tiong Jiu Pia, sekaligus peluncuran GoPot. Sementara, cerita yang diangkat tentang legenda 10 Matahari. Pemilihan cerita ini juga menjadi sebuah harapan, agar pagebluk berupa covid-19 ini bisa segera berakhir," papar Ketua Perkumpulan Boen Hian Tong, Harjanto Halim.

Tidak hanya itu, pihaknya juga mengajak warga Semarang untuk melantunkan doa bersama,  sebagai bentuk harapan agar pandemi ini segera berakhir. 

"Kami berharap Kota Semarang senantiasa aman, tentram, dan diberkati. Dan semoga Pilkada yang akan diadakan tanggal 9 Desember 2020 akan berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin yang adil, bijaksana serta bisa mengayomi seluruh warga Kota Semarang," tandasnya.

Sementara, Ketua Perkumpulan Fu He An sekaligus dalang wayang potehi, Toni Harsono, menuturkan wayang potehi yang merupakan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa ini awalnya ditujukan sebagai sebuah persembahan bagi para dewa di kuil.

"Namun kini wayang potehi, sudah menjadi sebuah kesenian bangsa. Tidak hanya untuk kelompok Tionhoa, namun juga masyarakat umum. Cerita yang dibawakan pun bisa menyesuaikan, termasuk bahasa yang digunakan juga bisa Indonesia. Jadi lebih fleksibel," terangnya.


 

Penulis : arr
Editor   : edt