Pekan Kesenian Rakyat, Nguri-Uri Kesenian Tradisional di Tengah Pandemi


Lengger Lanang “Ngudi Rahayu”Desa Panusupan Kecamatan Rembang, Purbalingga tampil dalam Pekan Kesenian Rakyat Jawa Tengah (PKRJT) di kompleks Bioskop Misbar, Usman Janatin City Park, Purbalingga, Sabtu (`14/11) malam. Pentas digelar untuk nguri-nguri kesenian tradisional di tengah pandemi Covid-19. (Foto : Dok)

PURBALINGGA, WAWASANCO- Kondisi Pandemi Covid-19 membuat kesenian tradisional termasuk di Kabupaten Purbalingga  mati suri. Kondisi tersebut disebabkan adanya berbagai pembatasan, termasuk untuk pementasan.

 

Guna nguri-uri kesenian tradisional dan para pekerja seninya  tetap eksis dan bisa terus berkreasi,   Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Jateng bekerjasama dengan  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan   (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga dan Dewan Kesenian Purbalingga (DKP)  menggelar Pekan Kesenian Rakyat Jawa Tengah (PKRJT) di Kabupaten Purbalingga.

 Acara digelar di Bioskop Misbar Purbalingga, Sabtu (14/11)  yang disiarkan secara langsung melalui saluran kanal youtube Misbar Purbalingga.

 

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dindikbud Provinsi Jawa Tengah Eris Yunianto, S.Pd., M.Pd., mengatakan PKRJT merupakan wahana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mengapresiasi potensi-potensi berkesenian rakyat Jawa Tengah. “Tentunya ini menjadi upaya yang penting bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangka meningkatkan, mewujudkan ketahanan kebudayaan di Jawa Tengah,” ungkapnya.

 

Gelaran yang menampilkan sekitar 10 kesenian dan melibatkan seniman muda juga sepuh dari beragam penjuru Purbalingga. Puluhan seniman yang jarang pentas karena masa pandemi ini datang dari kesenian tradisi, tari, keroncong, pantun, dan permainan rakyat.

 

“Senang melihat anak-anak muda Purbalingga masih ada yang melestarikan kesenian tradisional dan saya sangat terkesan dengan kesenian Angguk. Ternyata di Purbalingga ada kesenian unik seperti itu,” tutur Yoga Hediasa, salah satu penonton yang langsung datang ke Bioskop Misbar Purbalingga.

 

Terdapat tiga kesenian tradisi langka yang ditampilkan pada kesempatan itu, yaitu Kothekan Lesung, Angguk, dan Lengger Lanang. Hal ini untuk memberi kesempatan seni tradisi yang sudah jarang pentas untuk mengekspresikan diri dengan penonton yang lebih luas melalui live streaming.

 

Menurut Maryoto, salah satu penayagan kesenian Lengger Lanang, ia dan rombongan merasa senang sekali berkesempatan pentas di kota kabupaten. “Selama ini kami hanya berlatih, sementara untuk pentas sudah jarang yang nanggap. Semoga setelah pentas di sini, jadi dikenal banyak masyarakat,” katanya.

 

Untuk tari tradisional, pementasan melibatkan tiga sanggar tari dan satu dari Forum Silaturahmi Sanggar Tari Purbalingga (FSSTP). Satu grup keroncong muda yang terdiri dari pelajar usia SMP, permainan rakyat, serta pantun yang menarik ketika dipentaskan.

 

Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Rien Anggraeni, S.Pd., mengatakan kegiatan ini untuk memberikan ruang bagi para pegiat seni dimasa pandemi. “Membanggakan sekali, terutama dengan tampilnya kesenian rakyat yang hampir punah. Ke depan kami akan terus berusaha memprogramkan revitalisasi agar kesenian tradisi terus tumbuh,” pungkasnya.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt