Klething Kuning muncul... (foto: Bernd Schoenewald)
Frankfurt am Main, Jerman. Sabtu yang kelabu. Awan gelap dan gerimis yang tak henti tidak mencegah puluhan orang menyemut di pintu depan sebuah gedung serbaguna di pinggiran Mainhattan, julukan bagi satu-satunya kota berpencakar langit di Jerman, Frankfurt am Main. Siang ini Persatuan Masyarakat Indonesia di Frankfurt dan sekitarnya, yang disingkat Permif e.V., mengundang masyarakat Jerman dan Indonesia di Frankfurt untuk menikmati persembahan budaya Jawa untuk mencerahkan hari-hari kelabu kala musim dingin mulai mendekat. Acara ''Java am Nachmittag“ atau ''Sore bersama Budaya Jawa“ dipersembahkan oleh Permif e.V. bekerjasama dengan KJRI Frankfurt dan berbagai kelompok budaya untuk memeriahkan acara tahunan ''Interkulturelle Wochen“ (Pekan Antarbudaya) yang secara rutin diselenggarakan kota Frankfurt. Persembahan budaya Jawa yang digelar pada tanggal 11 November 2017 ini merupakan salah satu dari 120 acara yang diadakan oleh berbagai komunitas di seluruh kota Frankfurt dalam dua minggu ini.
Suasana Indonesia pun sangat kental terlihat dari pintu masuk yang penuh dengan antrean orang-orang berbusana kebaya dan batik. Antrean mengular karena, meskipun 300 tiket sudah habis terjual sebelum hari H, banyak orang yang tetap tertarik untuk hadir, sekedar untuk mencicipi kuliner khas Indonesia, dari gado-gado, batagor, sampai kue terang bulan mini dan bubur mutiara, yang ditawarkan di sela-sela acara sendratari Ande-Ande Lumut yang menjadi daya tarik utama. Bazar makanan yang dibuka tepat pada pukul 12.00 waktu setempat tentunya menawarkan menu makan siang yang lain daripada yang lain bagi masyarakat yang sehari-harinya berkutat dengan kentang dan roti.

Rangkaian acara utama pun dibuka dengan penjelasan mengenai berbagai motif dan makna batik Jawa oleh ibu Annegret Haake, seorang wanita Jerman sepuh yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk mengoleksi, meneliti, dan memperkenalkan motif dan makna batik. Buku-buku tentang batik yang beliau tulis dalam bahasa Jerman adalah salah satu sumber utama dan penting bagi masyarakat yang ingin mengenal batik lebih jauh. Di samping menjelaskan tentang batik, ibu Haake juga membuka sebuah meja di mana para pengunjung bisa melihat dan mencoba sendiri, bagaimana caranya menggunakan canting, sebuah kesempatan yang tidak dilewatkan oleh banyak orang Jerman.
Sendratari Ande-Ande Lumut dibuka dengan persembahan tari Golek Ayun-Ayun yang diiringi oleh gamelan live dari kelompok gamelan Wacana Budaya Frankfurt. Berbagai adegan para klething yang kemayu berpadu dengan teks bahasa Jerman dan lagu-lagu berbahasa Jawa membuat para pengunjung larut dalam kisah ini. Tingkah laku Yuyu Kangkang yang genit demi mendapatkan ciuman pun mengundang gelak tawa dan pujian penonton. Ketika akhirnya Klething Kuning bersanding dengan Ande-Ande Lumut di pelaminan, penonton telah dibawa dalam sebuah petualangan rasa yang memanjakan telinga dengan gamelan dan angklung, menyegarkan mata dengan tari-tarian, dan memperluas cakrawala dengan kisah tentang batik dan cerita rakyat Indonesia.
Di sebuah sore di bulan November yang kelabu, di belahan dunia yang jauh dari tanah air yang hangat dan penuh matahari, hati berkobar ketika mengingat kembali celetukan salah seorang pengunjung, ''Ah, serunya, serasa sedang berada di Indonesia.''
Penulis :
Editor : awl