Belajar Membatik Bersama di Museum Soegarda Poerbakawatja Purbalingga


Pelajar mengikuti Belajar Membatik Bersama di Museum Prof.Dr. R. Soegarda Poerbakawatja Purbalingga. Kegiatan tersebut dilaksanakan mulai Senin (23/11) hingga Minggu(29/11). (Foto :Joko Santoso)

Pengelola Museum Prof. Dr. R  Soegarda Poerbakawatja Purbalingga kembali mengadakan kegiatan Belajar Bersama di Museum.  Kegiatan tersebut merupakan salah satu dari program publik yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus Non Fisik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Belajar Bersama di Museum ini sebenarnya sudah tahun kedua yang dilakukan Museum Soegarda,” kata Anita, Register Museum Soegarda, Rabu (25/11).

Anita menjelaskan Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini terdapat kelas pelatihan musik tradisi . Karena Purbalingga masuk dalam wilayah Banyumas Raya maka musik khusus yang dipelajari yakni musik calung.“Untuk peserta kelas musik tradisi ini dari awal sudah ditentukan karena untuk memainkan musik ini tidak bisa ganti-ganti dan diakhir juga ditarget bisa menghasilkan karya musik yang menarik,” ujarnya.

Kelas yang dibuka pada Belajar Bersama di Museum yakni Kelas Membatik, Kelas Membuat Gerabah dan Kelas Musik Tradisi. Peserta untuk Belajar Bersama di Museum kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya yakni anggota pramuka yang tergabung dalam Saka Pariwisata dan Saka Widya Budaya Bakti. “Kalau sebelumnya peserta adalah siswa Sekolah Dasar (SD), jadi untuk tingkat kesulitan kelasnya pun sedikit berbeda dari tahun sebelumnya,” terang Anita.

Sementara  untuk Kelas Membatik sendiri  ditarget bisa membuat batik motif pakem atau klasik di atas kain selebar 1 meter. Proses pembuatannya memakan waktu kurang lebih dua hari mulai dari proses menggambar pola hingga menjadi kain batik. “Satu orang di Kelas Batik sebetulnya memakan waktu kurang lebih sampai dua hari, jadi untuk peserta kelas batik selesai paling sore untuk menyelesaikan kain batiknya sampai jadi,” tuturnya.

Selanjutnya Kelas Membuat Gerabah, peserta diharapkan mampu membuat salah satu bentuk gerabah baik asbak, mangkok atau yang lainnya. Setelah selesai membuat, gerabah lalu dijemur, kemudian diberi warna yang menarik sesuai keinginan mereka dan dijemur kembali.“Kelas Membatik dan Membuat Gerabah ini paling menarik, karena mereka bisa mendapatkan ilmu keduanya jadi satu hari untuk membuat gerabah dan satu harinya lagi membuat keramik secara bergantian,” imbuh Anita.

Total peserta Belajar Bersama di Museum tidak lebih dari 50 orang karena adanya pembatasan terkait dengan pencegahan penyebaran covid-19. 50 orang tersebut terbagi menjadi tiga kelas 10 orang mengikuti kelas musik tradisi, 20 orang mengikuti kelas membatik dan 20 orang mengikuti kelas membuat gerabah. “Peserta berasal dari  siswa SMA dan anggota Saka Pariwisata dan Saka Widya Budaya Bakti,” imbuhnya

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt