Dirjen Dikti Kupas Masa Depan Pendidikan Tinggi Indonesia


Seminar "The Future of Higher Education in Indonesia” diselenggarakan secara online oleh Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Selasa (1/12). Foto : Ernawaty

SALATIGA, WAWASANCO- Perguruan tinggi perlu mendisrupsi dirinya sendiri untuk memasuki dunia pendidikan 4.0. Hal ini diungkap Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D menjadi narasumber tunggal dalam seminar yang diselenggarakan secara online oleh Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Selasa (1/12).

Nizam menuturkan, perubahan sangat cepat dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat dari revolusi industri 4.0 menjadi tantangan tersendiri bagi dunia perguruan tinggi.

"Oleh sebab itu, perguruan tinggi untuk co creation melalui perkawinan antara kampus dengan dunia industri," kata Nizam.

Secara nyata, ujar dia, mahasiswa perlu diajak merasakan pengalaman dunia kerja bersama-sama dengan dosen guna membangun masa depan.

Peraih Gelar Doctor of Philosophy dari University of London, UK ini juga mendorong kampus untuk menuju kampus sehat sesuai dengan program Kemendikbud. Kampus sehat, dijelaskannya tidak hanya sehat fisik, tetapi sehat mental, sehat lingkungan, dan sehat perilaku.

"Kampus sehat dapat diwujudkan dengan kolaborasi semua pihak, dimulai dengan perilaku sehat. Selain itu pemerintah juga menyiapkan 16 kompetensi dasar untuk menghadapi abad ke-21, serta agar dapat bersaing di era yang penuh tantangan. Sebagai 21st century learning spaces, Terdapat tiga hal yang sudah ditetapkan pada perguruan tinggi yaitu kampus nyaman, kampus aman, dan kampus sehat," terangnya.

Kegiatan ini, dimoderatori Pembantu Rektor IV UKSW, Joseph Ernest Mambu, S.Pd., M.A., Ph.D., seminar ini mengusung tema “The Future of Higher Education in Indonesia”.

Prof. Nizam mengatakan saat ini, kampus dituntut menyiapkan kompetensi mahasiswa pada dunia yang unknown.

Menurutnya akan tidak bijak jika mahasiswa hanya memperoleh sistem pendidikan yang preskriptif atau terbatas.

"Hal paling penting dalam menghadapi masa depan ialah memberi kebebasan belajar bagi mahasiswa sesuai program Kampus Merdeka," ujar dia.

Program ini, lanjutnya, dapat menciptakan mahasiswa sebagai pembelajar mandiri, adaptif, kreatif, dan memiliki kemampuan problem solving yang kompleks, multidimensi, multikultural, serta multidisiplin. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengembangkan kompetensi-kompetensi baru melalui kebijakan kebebasan mengambil pelajaran di luar program studinya.

"Kita harus membuka ruang yang luas, buka jalan untuk bangun kompetensi. Generasi milenial akan mengalami kebosanan jika hanya berada di satu ruang, perlu jadi perenungan agar mahasiswa memiliki kesempatan belajar lintas prodi," tutur Guru Besar Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Sementara itu, Rektor UKSW Neil Semuel Rupidara, SE., M.Sc., Ph.D menyebut bahwa UKSW berkomitmen untuk bersama-sama pemerintah membangun Indonesia melalui layanan pendidikan tingginya. Dengan tagline “We are the Creative Minority,” UKSW ingin menjadi perguruan tinggi yang membentuk minoritas yang berdaya cipta bagi pembangunan dan pembaruan masyarakat dan negara Indonesia.

"UKSW sebagai salah satu perguruan tinggi Kristen terbesar di tanah air ingin memperoleh masukan secara langsung dari pemerintah agar tetap terus eksis membangun Indonesia," tandas Neil.

Selain itu melalui seminar ini, UKSW berharap dapat memperoleh pandangan terhadap masa depan pendidikan tinggi di Indonesia.

"Terkait dengan antisipasi terhadap perkembangan teknologi pembelajaran dan internasionalisasi pendidikan tinggi," terangnya. 

Penulis : ern
Editor   : edt