Pemerharti Sejarah di Purbalingga Gelar Diskusi 105 Tahun Jenderal Soedirman


PURBALINGGA, WAWASANCO – Jenderal Soedirman adalah sosok yang tak bisa lepas dari Kabupaten Purbalingga. Sang Panglima Besar itu dilahirkan di Bumi Perwira. Hal tersebut menggerakan diselenggarakannya sebuah acara untuk mengenang jasa-jasa sang Pahlawan Nasional.

 

“Kebetulan beliau lahir dan wafat di bulan Januari. Soedirman lahir 24 Januari 1916, 105 tahun yang lalu dan wafat 29 Januari 1950, 71 tahun yang lalu,” ujar Gunanto Eko Saputro usai acara “Gendu-Gendu Rasa 105 Tahun Jenderal Soedirman”, Kamis (28/1/2021)

 

Menurut Gunanto, bisa dibilang Januari adalah Bulan Soedirman. “Oleh karena itu kami menyelenggarakan Gendu-Gendu Rasa ini sebagai bentuk penghormatan kepada beliau, tokoh besar yang dilahirkan di Purbalingga,” ujarnya.

 

Gunanto yang aktif menulis di blog-nya tentang sejarah Purbalingga menjadi narasumber bersama Budayawan Agus Sukoco. Moderatonya selebgram dan milenial influencer Rakhma Lutfita. Acara disiarkan secara daring melalui kanal purbalinggaku.news.

 

Pada acara tersebut, Gunanto memaparkan tentang sejarah Pak Dirman, mulai dari lahirnya, masa mudanya sampai dengan kiprahnya berorganisasi lalu di militer yang mengantarkannya menjadi Jenderal Besar. “Soedirman ini sosok yang luar biasa. Beliau lahir di Purbalingga, tumbuh dan berkembang di keluarga angkat yang menyayanginya, aktif di berbagai kegiatan sejak remaja, karir militer melesat dan menjadi jenderal di usia yang masih sangat muda kemudian wafat tanpa menikmati pengorbanan dan perjuangannya,” ujarnya.

 

Sementara itu, Agus Sukoco memberikan persepsi sosio-budaya terhadap sosok Jenderal Soedirman. Menurutnya, warga Purbalingga patut bersyukur menjadi tempat lahir seorang pahlawan nasional.

 

“Bentuk syukur kita adalah dengan mengejawantahkan semangat, pengorbanan dan perjuangan Jenderal Soedirman dalam kehidupan kita sehari-hari,” ujarnya.

 

Sang Jenderal, imbuh Agus Sukoco, merupakan pusaka yang dimiliki oleh bangsa ini. “Beliau berjuang dengan tulus ikhlas dan meninggal saat muda tepat setelah penyerahan kedaulatan yang diperjuangkannya. Beliau dijaga dari nafsu dan ketamakan yang biasanya menyertai kekuasaan,” ujarnya.

 

Menurut Agus Sukoco, Soedirman juga sosok yang sangat patriotik.“Misalnya, saat berselisih pendapat dengan para pemimpin bangsa lainnya, Pak Dirman selalu menempatkan kepentingan negara dan bangsa di atas segalanya,” ujarnya.

Soedirman lahir dari pasangan Karsid Kartawiradji, kuli pabrik gula dan Siyem. Setelah diberhentikan dari pekerjaanya Karsid bersama istrinya Siyem yang tengah mengandung lalu numpang tinggal di rumah saudari Siyem yang bernama Tarsem di Desa Bantarbarang, saat ini di Kecamatan Rembang, Purbalingga. (*Ada versi lahirnya di Desa Bodas Karangjati)

 

Tarsem lumayan bekecukupan karena bersuamikan seorang camat bernama Raden Cokrosunaryo. Saat numpang inilah Siyem melahirkan seorang anak lelaki. Ia diberi nama oleh pamannya, Soedirman. Hari lahirnya, Minggu Pon, 24 Januari 1916, Bulan Maulud dalam penanggalan Jawa. Soedirman diadopsi Cokrosunaryo, juga diberi gelar Raden.

 

Soedirman tak sampai sewarsa di "Bumi Perwira". Setelah Cokrosunaryo pensiun sebagai camat pada akhir 1916, Karsid, Siyem dan Soedirman ikut dengan keluarga priyayi itu ke Manggisan, Cilacap. Di kota pelabuhan itu, Siyem melahirkan seorang putra lagi bernama Muhammad Samingan. Karsid meninggal dunia saat Soedirman berusia enam tahun.

 

Soedirman dan adiknya lalu tumbuh dan berkembang di Cilacap dalam bimbingan keluarga yang mengadopsinya. Ia dianggap seperti anak sendiri. Cokrosunaryo bahkan menyimpan rahasia bahwa Ia bukanlah ayah kandungnya sampai Soedirman berusia 18 tahun.

 

Sejak kecil Soedirman sangat aktif di sekolah maupun berorganisasi juga bergiat di Hizboel Wathon, kepanduan Persyarikatan Muhammadiyah. Pada Jaman Jepang Soedirman aktif di PETA. Setelah Jepang hengkang lalu Indonesia Merdeka, Soedirman meneruskan karier di militer sampai melesat menjadi panglima tentara.

 

Pada agresi militer Belanda, Soedirman memimpin gerilya dalam kondisi sakit. Berkat perjuangan dan pengorbanannya, akhirnya Belanda mau mengakui kedaulatan negeri ini. Sepulang dari medan gerilya, Soedirman wafat pada 24 Januari 1950 saat umurnya baru 34 tahun.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt