Agustina Wilujeng Minta Jemaat Gereja JKI AGAPE Jadikan Pancasila sebagai Energi Bangsa


Anggota MPR Agustina Wilujeng Pramestuti (AWP) tengah memberikan pengantar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gereja JKI Banyumanik, Semarang, Jumat (12/2).

SEMARANG, WAWASANCO - Tantangan kehidupan berbangsa kita akan makin berat, terutama ketika kita dihantam pandemi Covid-19.  Semua warga bangsa harus bergerak bersama untuk menghadapi dan menjawab tantangan itu. Terutama melemahnya toleransi, kesepahaman akan keberagaman, dan melunturnya watak Pancasila di generasi muda, yang berimbas pada pengikisan karakter dan watak bangsa.

Hal di atas dinyatakan Anggota MPR RI Agustina Wilujeng Pramestuti SS MM saat membuka Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gereja JKI AGAPE jalan Durian, Banyumanik, Semarang, Jumat (12/02). Acara yang dihelat Badan Sosialisasi MPR dan Jemaat Gereja JKI AGAPE itu diikuti puluhan jemaat muda. Hadir juga Gembala Sidang JKI Agape Semarang  Pdt. Dr Antonius Sartono SPd MTh, Ketua Yayasan Mahardika Satria Nusantara (MSN) Valentina Dwi Kuntari,  dan Pemred Suara Merdeka Gunawan Permadi. Sedangkan Ketua IJTI Jateng Dr Teguh Hadi Prayitno MM MH didaulat sebagai moderator.

Agustina  mendorong jemaat gereja JKI AGAPE agar menjadi contoh dari karakter Pancasila, yang mengejawantahkan aspek toleransi keimanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan mewujudkan keadilan sosial. Agustina melihat akan banyak sekali tantangan kehidupan berbangsa yang harus dihadapi, terutama di masa pandemi Covid-19 ini. Tapi dia meyakini, karakter Pancasila akan menjadi solusi dalam era yang sulit ini.

‘’Kita harus merapatkan barisan, menjadikan Pancasila sebagai energi bangsa untuk merekatkan kembali kebangsaan kita,’’ ucap Agustina, yang disambut pekik merdeka dari para peserta.

Agustina berharap, jemaat dapat menjadi generator dan kreator kemajuan bangsa. Menjadi agen perubahan, menggerakkan dan memberi corak pada zaman pandemi ini dengan nilai-nilai Pancasila di dalam tata gaul kemasyarakatan.

Dalam sosialisasi yang berlangsung santai itu, Agustina juga mengungkapkan data yang cukup mencengangkan tentang warga yang mulai mengogahi Pancasila. Mengutip data dari survei LSI, kandidat doktor dari Fakultas Ilmu Budaya Undip itu mengatakan dalam kurun 13 tahun terakhir, tercatat bahwa masyarakat yang pro terhadap Pancasila turun sekitar 10%. Mulai mempertanyakan dasar negara kita.

‘’Karena itu saya berharap generasi muda gerejawi harus menjadi pilar dan benteng agar Pancasila dapat terus menjadi solusi kehidupan keseharian dan berbangsa. Saya yakin, dalam diri kita sebenarnya sudah tercetak langsung karakter Pancasila. Struktur batin masyarakat kita itu sangat Pancasilais. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikannya dalam seluruh gerak kehidupan kita, sehingga kepancasilaan itu memberi makna,’’ tegasnya.

Pembicara lain, Dr Antonius Sartono SPd MTh juga senada dengan Agustina. Meski, dia memberi penekanan yang lebih pada aspek kehati-hatian dalam pergaulan.

‘’Kita harus tahu tempat, tahu bahasa, dan yang utama, tahu rasa. Dengan mengetahui tiga hal itu, maka keberterimaan atas diri kita akan tinggi saat berada di masyarakat. Banyak orang yang tahu tempat, tapi tidak tahu bahasa. Atau, tahu bahasa, tapi tidak tahu rasa. Padahal, rasa bagi orang Jawa itu penting. Dengan rasa, kita jadi memperlakukan orang itu sebagaimana kita ingin diperlakukan. Bahasa rasa itu yang mendatangkan dan mempererat persaudaraan,’’ katanya, lembut.

Gunawan Permadi dan Valentina Dwi Kuntari yang berbicara terakhir memberikan tips-tips hidup dalam keberagaman. Keduanya juga memberikan contoh-contoh praktis hidup dengan cara mengelola konflik dan mencipta harmoni.

Penulis : ak
Editor   : jks