Dinbudpar Kabupaten Brebes Gelar Lomba Penulisan Cagar Budaya


Kabid Kebudayaan Dinbupar Kabupaten Brebes Wijanarto SPd MHum menyampaikan sosialisasi LKTI Cagar Budaya dihadapan para guru MGMP IPS tingkat SMP/MTs yang digelar di aula dinas setempat, Kamis (18/2). Foto. Eko Saputro

BREBES, WAWASANCO – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Brebes melalui Bidang Kebudayaan bakal menggelar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) atau Lomba Penulisan Cagar Budaya untuk pelajar tingkat SMP dan  MTs. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinbudpar Kabupaten Brebes melalui Kepala Bidang Kebudayaan Wijanarto SPd MHum di sela-sela Sosialisasi LKTI Cagar Budaya dengan jajaran guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (MGMP IPS) tingkat SMP/MTs di aula dinas setempat, Kamis (18/2).

 “Kami berniat untuk merencanakan Lomba Penulisan Cagar Budaya yang sebelumnya hanya pada tingkat SMA/SMK dan MA. Insya Allah di bulan Mei tahun ini, kita mencoba untuk tingkat SMP dan MTs, Karena sangat penting untuk pemahaman bagi siswa generasi muda tentang cagar budaya” tandas pria yang akrab disapa Wijan ini.

Diharapkan, lanjut  Wijan, dari kegiatan ini, outputnya bagi guru-guru akan melakukan pembimbingan kepada siswa agar mereka mengikuti lomba ini.  Bagi guru, pihaknya ingin menggairahkan budaya literasi dan budaya akademis karena ada dorongan bahwa guru-guru juga akan melakukan hal ini saat ia melakukan penelitian tindakan kelas.

“Walaupun fokusnya berbeda, namun langkah-langkah metodologinya sama dengan lomba penulisan ini. Bagi siswa tentunya dapat memahami persepsi tentang apa itu cagar budaya dan pentingnyaa apa, khususnya di Kabupaten Brebes,” jelas Wijan yang didampingi Kasi Sejarah, Cagar Budaya dan Permuseuman, Umar Basah.

Apalagi, lanjut Wijan, tentang cagar budaya sudah ada regulasinya yaitu Undang-Undang- Undang Cagar Budaya Tahun 2010 dan Undang-Undang Kemajuan Kebudayaan Tahun 2017 serta Perda Kabupaten Brebes tentang Pengelolaan dan Pelestarian Cagar Budaya Tahun 2015. Di samping pula tentunya Perda Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 mengenai hal yang sama.

“Nantinya dari pemahaman mereka tentang cagar budaya ini, siswa akan melihat betapa pentingnya cagar budaya itu. Tidak hanya, diam mewujud sebagai bangunan tapi ia adalah peninggalan dan juga memiliki representasi yang berguna bagi kehidupan masa sekarang dengan melihat hasil peninggalan di masa lalu,”  kata Wijanarto.

Dia menambahkan, khusus untuk anak-anak SMA sebelumnya sudah ada kerjasama dengan Balai Pelestari Budaya yaitu lawatan sejarah. Sebetulnya tahun lalu sudah mengaggendakan program jelajah budaya yang nantinya akan hadirkan ke beberapa peninggalan cagar budaya. Namun, karena refocusing Covid-19 sehingga banyak anggaran yang dipangakas.

“Saat ini, kita sudah mempersiapkan kembali terutama dengan merencanakan lomba vlog sejarah, film dokumenter cagar budaya dan jelajah budaya. Sehingga melalui jelajah budaya ini, mereka akan secara langsung melihat dari dekat cagar budaya tersebut,” terang Wijan.

Wijan mengemukakan, pihaknya juga sudah pernah menggelar lomba LKTI Cagar Budaya tingkat SMA dan sederajat dan sudah pernah juara II Lawatan Sejarah (Pelajar SMA Bumiayu) dan pernah melakukan kegiatan jelajah budaya dengan Provinsi Jateng.

“Program kita bisa mengakomodir dinamika atau yang sesuai dengan konten mereka. Misalkan dengan menggunakan digital, diantaranya yang sudah dipertimbangkan yakni vlog, film dokumenter cagar budaya dan juga nanti sekarang dilakukan yakni penulisan sejarah,” papar Wijan.

Selain itu, tuturnya, program dimaksud akan dintegrasikan dengan Bidang Pariwisata Dinbudpar, karena ada beberapa destinasi wisata yang berlatar belakang historis.

“Yang jelas, tinggal bagaimana yang kita minta ketika kita sudah ada konsep tim penganggarannya juga memahami bidang kebudayaan itu luas,”tegasnya .

Menurutnya, tinggal political will mereka itu bagaimana yang diharapkan seperti itu. Termasuk yang akan dilihat sekarang ini, perkembangan-perkembangan menarik dari perkembangan situs sejarah yang akan dikuatkan dengan pendirian museum.

“Yang jelas tidak hanya good will semata, tapi political will dari pemangku kebijakan anggaran dalam hal ini DPRD Kabupaten Brebes untuk Bidang Kebudayaan Dinbudpar,” pungkas Wijan.

 

Penulis : ero
Editor   : edt