NAIF KEMBALI KE AKARNYA


Minggu 22 Oktober 2017 lalu, Teater Garuda di kompleks Taman Mini Indonesia Indah menjadi saksi acara releasepartyalbum terbaru Naif, 7 Bidadari. Acara yang dinamai AnNAIFersary ini bertepatan dengan 22 tahun perjalanan karya-karya Franki “Pepeng” Indrasmoro (dram), David Bayu (vokal), Fajar Endra “Jarwo” Taruna (gitar) dan Mohammad Amil “Emil” Hussein (bas) diindustri musik Indonesia.

Album studio mereka ketujuh ini diproduksi oleh label Demajorsdan dirilis dalam format cakram padat, vynil dan digital. Desain sampul album ini dikerjakan oleh Glenn Wolk, seniman asal New York yang juga pernah mendesain artworkband sekelas The Beatles dan The RollingStones.

Alasan dipilihnya 7 Bidadari sebagai judul album berawal dari keresahan mereka akan semakin pudarnya apresiasi terhadap cerita legenda lokal. Diambil dari kisah klasik Jaka Tarub, 7 Bidadari ini diharapkan para personel Naif menjadi pemantik semangat kecintaan pada kekayaanbudaya Nusantara.

David, sang vokalis, dalam salah satu wawancara mengatakan, “Lewat album ini, Naif ingin kembali ke fitrahnya.” Di album sebelumnya, Planet Cinta (2011) Naif dianggap  terlalu gloomy  dan banyak bereksplorasi, ini menimbulkan kerinduan banyak Kawan Naif— sebutan penggemar mereka, pada karya-karya Naif di awal kemunculannya.

Di album 7 Bidadari  ini, komposisi kesepuluh lagu kembali ke formula tiga album pertama mereka, Naif  (1998), Jangan Terlalu Naif  (2000) dan Titik Cerah  (2002).  Mempertahankan musik retro yang menjadi pattern mereka, album dibuka dengan “Alangkahnya Indahnya Indonesia” sebuah ajakan mencintai tanah air,  sentuhan magis Indra Lesmana dapat dinikmati di “Selama Ada Cinta”. Naif juga menambahkan instrumen seruling dan gendang  di lagu “Sedjak” dan “Apa Yang Membuatmu Terus Di Sini”.  Ada pula Sa’unine  String Section turut berkontribusi di lagu “Berubah” yang megah. Repertoar ditutup dengan “Sayang Disayang” yang manis.

Usaha Naif untuk kembali ke fitrahnya di album ini layak diapresiasi positif. Beberapa lagu berhasil membawa kita bernostalgia lagu klasik mereka “Mobil Balap” atau “Piknik 72”. Selebihnya adalah pembuktian eksistensi Naif yang masih solid melewati dua dekade.

Selamat!

Penulis : mpa
Editor   :