Muhsin petani garam asal Wedung Demak menunjukkan stok garamnya yang menumpuk di gudang penyimpannya yang sederhana.
DEMAK, WAWASANCO-Kembalinya garam impor menyerbu pasaran Indonesia pada 2021 membuat para petani garam negeri ini menangis. Tak terkecuali perajin garam bahkan juga buruh angkut di pesisir Demak, yang merasa terancam sumber penghasilannya.
Seperti diungkapkan Muhsin (72), perajin atau petani garam asal Dukuh Menco Desa Berahan Wetan Kecamatan Wedung. Dari hari ke hari disebutkan, proses produksi garam makin terasa memberatkan dampak harga garam lokal yang terus merosot tajam.
Salah satu penyebab penurunan harga garam disebutkan karena adanya garam impor yang terus masuk ke Indonesia. Kondisi tersebut diperpara lagi adanya pandemi covid-19.
"Beberapa tahun yang lalu harga garam pernah mencapai Rp.125.000 per sak. Sekarang kalau panen raya saat puncak musim kemarau harganya hanya Rp 15.000 per sak," ujarnya, kemarin.
Lebih lanjut kakek yang memiliki satu hektar lahan garam itu mengatakan, saat ini di gudang miliknya masih ada timbunan garam sebanyak 2000 sak. Ribuan kantong garam tersebut sudah menghuni tempat penyimpanan sejak tiga tahun silam.
"Belum ada pembeli, apalagi ini musim corona. Harganya juga belum cocok. Tidak sesuai dengan ongkos angkutnya," ujar Muhsin.
Berdasarkan beberapa sumber di lapangan, saat ini harga garam di tingkat lokal Demak hanya berada pada kisaran Rp 25.000 – Rp 30.000 per sak yang berisi 40 kilogram garam. Sementara ongkos angkut dari gudang menuju mobil pengangkut per sak Rp 5.000. Belum termasuk ongkos proses pengeringan hingga pengepakan dari lahan ke dalam sak juga sudah mahal.
Dalam setahun para petani garam hanya dapat satu kali panen saja selama 30 hari bekerja. Sedangkan setiap hektarnya menghasilkan lebih dari seribu sak garam.
"Belum lagi kalau garam ekspor sampai di pasaran lokal. Bisa dibayangkan betapa kami semakin terpuruk," pungkasnya dengan suara lesu.
Penulis : ssj
Editor : edt