Praktek Percaloan Pekerja Migran Indonesia Masih Marak di Brebes


Drs Warsito Eko Putro MSi (Kepala Dinperinaker Kabupaten Brebes)

BREBES, WAWASANCO – Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Kabupaten Brebes, Drs Warsito Eko Putro MSi menandaskan,  di  beberapa wilayah Kabupaten Brebes, saat ini masih banyak ditemukan praktek percaloan bagi para calon Pekerja Migran Indonesia (PMI). Terbukti, sudah banyak korban yang membayar sejumlah uang kepada calo namun tak kunjung diberangkatkan ke negara tujuan. Para calo PMI ini diiming-imingi sejumlah uang dari jaringan mafia.

“Praktek percaloan dengan modus pemberangkatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kabupaten Brebes sangat masif. Bahkan sudah banyak warga Brebes yang menjadi korban calo dengan membayar sejumlah uang kepada calo atau sponsor, namun tak kunjung diberangkatkan ke negara tujuan,” papar Eko saat dihubungi di ruang kerjanya, Rabu (7/4).

Menurutnya, memang ada jaringan mafia PMI. Sudah banyak orang yang menjadi korban. Terakhir kasus percaloan ini, sudah berhasil tangani oleh Dinperinaker Kabupaten Brebes dan sudah selesai.

“Para PMI yang mendaftar melalui calo mayoritas berangkat ke negara tujuan secara ilegal. Nama PMI pun tidak tercatat dalam data pemerintah. Sehingga, jika PMI tersebut mengalami masalah atau mengalami kecelakaan kerja di tempat kerjanya, pihaknya tak bisa berbuat banyak untuk membantu PMI tersebut,” tandasnya.

Eko mengemukakan, pekerjaan rumah bagi Dinperinaker Kabupaten Brebes adalah ketika mereka PMI ilegal bermasalah di luar negeri misalnya mengalami kecelakaan, kekerasan dan lainnya, pihaknya tidak bisa membantu.

“Berbeda dengan PMI yang berangkat secara legal, ketika ada masalah akan difasilitasi oleh perusahaan yang memberangkatkan. Kami juga bisa membantu,” tegasnya.

Eko menuturkan, Dinperinaker Kabupaten Brebes telah melakukan sosialisasi kepada warga Brebes bahwa praktek percaloan PMI sangat merugikan warga itu sendiri. Pihaknya juga mengimbau warga calon PMI agar mendaftarkan diri secara resmi kepada Dinperinaker. Saat ini ada 49 Perusahaan Penyalur Pekerja Migran Indonesia (P3MI) di Brebes yang resmi.

"Sosialisasi kita akan tetap masif agar mereka mendaftar secara resmi dan berangkat secara legal," tandasnya.

Sementara itu, Koordinator di For Migran Indonesia, Jamaludin Suryahadi Kusuma menjelaskan, Brebes menjadi salah satu kantung PMI dan tak lepas dari permasalahannya. Tak sedikit tenaga kerja bermasalah yang berangkat ke luar negeri dengan cara ilegal. Tak sedikit pula calon PMI yang tertipu untuk berangkat dengan membayar sejumlah uang.

"Dua kasus itu mendominasi permasalahan PMI yang ada di Brebes. Untuk kasus PMI ilegal, pihak sponsor berlomba-lomba mencari tenaga kerja untuk berangkat ke negara tujuan seperti Hongkong, Taiwan, dan beberapa negara di wilayah Timur Tengah," tuturnya.

Dia melanjutkan, jika para calo atau sponsor berhasil memberangkatkan tenaga kerja, pihak sponsor mendapat imbalan paling tidak Rp20 juta per kepala. Mereka berangkat  ke negara tujuan yang memberlakukan moratorium atau penangguhan yang otomatis, pekerja migran itu berangkat secara ilegal.

"Mereka berangkat mayoritas ke wilayah Timur Tengah yang beberapa tahun terakhir ini memberlakukan moratorium. Otomatis mereka adalah tenaga kerja ilegal. Di sini yang diuntungkan pihak sponsor yang mendapat imbalan paling tidak Rp20 juta per kepala," pungkas Jamaludin.

 

 

 

 

Penulis : ero
Editor   : edt