Agustina Wilujeng Tekankan Pentingnya Mental Pancasila daripada Nilai Akademik


Anggota MPR RI Agustina Wilujeng Pramestuti SS MM tengah menyaksikan narasumber memberikan paparan dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kafe Warga Lokal Semarang, Minggu (2/5/2021)

SEMARANG, WAWASANCO – Sekolah dan orang tua saat ini berlomba-lomba untuk menjadikan anak-anak unggul dalam sains, tetapi lupa pada hal paling dasar yang harus dibentuk lebih dahulu. “Apa itu? Itulah kematangan mental, dan secara khusus dalam konteks Indonesia adalah kematangan mental Pancasila,” tegas Agustina Wilujeng Pramestuti (AWP).

AWP, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan, mengemukakan pokok pikiran tersebut dalam Sosialisasi Empat Pilar bertema “Pendidikan Bermutu dalam Upaya Mencapai Tujuan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dalam UUD 45”, di Warga Lokal, Semarang, Minggu (2/5).

Menurut AWP, pendidikan formal di sekolah telah terseret dalam paradigma sempit kecerdasan. Keberhasilan anak didik hanya diukur dari capaian nilai-nilai akademik, dan lebih sempit lagi, capaian nilai-nilai pelajaran sains dipandang lebih berarti ketimbang nilai-nilai karakter anak didik.

“Memang sudah ada upaya untuk menghilangkan budaya pemeringkatan saat kenaikan kelas berdasarkan nilai akademik. Namun, sistem yang lebih luas masih memberlakukan hal itu. Para orang tua juga masih cemas apabila nilai Matematika lebih rendah,” ujarnya.

Kenyataannya, ilmu pengetahuan apapun sangat mudah dipelajari oleh siapapun ketika si pembelajar sudah dalam keadaan siap dan matang secara mental spiritual. Hal ini yang kurang disadari oleh para guru, sekolah, penentu kebijakan, dan pada gilirannya juga orang tua, sehingga penyiapan mental dan karakter seolah-olah hanya sebagai “sambilan.”

“Hasil survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2019 menemukan 52 persen pelajar terpapar radikalisme. Survei-survei oleh Maarif Institute, Wahid Institute, Alvara Institute, BNPT, ataupun lembaga-lembaga riset lainnya pada tahun-tahun berikutnya juga menunjukkan hasil senada,” papar Agustina, yang juga kandidat doktor Antrologi Undip itu.

Butuh Proses

Di sinilah terletak urgensi pendidikan yang bermutu dengan kerangka yang sudah jelas, yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa dalam UUD 45.” Dasar dari kerangka pendidikan itu adalah Pancasila.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI itu menyadari, pembentukan dan pematangan karakter Pancasila membutuhkan proses. Tahapan pembentukan karakter terlihat jelas dalam pola pendidikan di banyak negara maju.

Agustina mencontohkan, tradisi skolastika di Eropa menganut paham “bahasa dulu, baru ilmu pengetahuan. Maka, sekolah dasar disebut Grammar School karena lebih ditekankan membangun kemahiran bahasa, yang di dalamnya terkandung pendidikan karakter, seni, dan sikap hidup. Setelah itu, barulah siswa dipersilakan memilih ilmu pengetahuan yang ingin dipelajari,” kata dia.

Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai Pancasila haruslah terlebih dahulu diajarkan dan diresapi anak didik. Tidak hanya melalui teori, tetapi juga melalui praktik keseharian, learning by experience, mengetahui karena melakukan.

“Belajar memasak misalnya, atau bermain drama, atau permainan olahraga, bisa menjadi medium untuk pendidikan karakter yang bermutu dan menyenangkan. Anak didik belajar langsung tentang kolaborasi, memahami peran orang lain, berkompetisi tetapi tidak bersaing saling mengalahkan,” ujar Agustina.

Sosialisasi tersebut juga menghadirkan narasumber V Joko Riyanto (anggota DPRD Kota Semarang), Teguh Hadi Prayitno (Ketua IJTI Jateng), Gunawan Permadi (Pemimpin Redaksi Suara Merdeka), dan Aulia AM (Ketua KPID Jateng).

Menggarisbawahi gagasan AWP, Teguh mengatakan pendidikan yang bermutu bisa dicapai apabila guru dan sekolah dibebaskan dari pengukuran yang seragam. “Konsep Kampus Merdeka sudah tepat, tinggal implementasi dari tingkat yang paling dasar. Masa Emas membentuk karakter justru pada usia pendidikan prasekolah dan pendidikan dasar,” kata Teguh.

Penulis : ak
Editor   : edt